Assassin’s Creed: Odyssey | Review Game Action Ubisoft

assassin's creed odyssey

Gamer mana yang belum pernah mendengar nama Assassin’s Creed sebelumnya. Tangan dingin dan keputusan fantastis Ubisoft berhasil membuat game open-world potensial di seri pertama dengan banyak kekurangan ini menjadi sebuah judul raksasa yang seri terbarunya selalu pantas untuk diantisipasi. Sepak terjangnya sendiri tidak bisa dibilang mulus dengan beberapa seri yang terlihat bingung dengan identitasnya sendiri, apalagi selepas saga cerita Desmond berakhir di seri ketiga. Namun kembali memukau dengan Origins via mekanik action RPG yang kini ditonjolkan, Ubisoft kini kembali dengan Assassin’s Creed Odyssey yang menjadikan setting Yunani Kuno sebagai “taman bermain” kamu. Rasa pesimis muncul ketika ia pertama kali diperkenalkan kepada publik.

Salah satunya karena pengelolaan user-interface dan gameplay di permukaan yang terasa seperti sekedar proses “reskin” dari apa yang ia tawarkan di Origins. Apalagi semua fitur yang terus didengungkan kepada publik, terasa seperti sebuah slogan gimmick yang juga seringkali dilakukan oleh game lain dan berujung mengecewakan. Namun ketika menjajalnya untuk pertama kali? tim kapalan sendiri cukup terkejut. kamu yang sudah membaca artikel preview tim kapalan sebelumnya tentu saja sudah punya sedikit gambaran apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Assassin’s Creed Odyssey ini dan mengapa tim kapalan jatuh cinta pada pkamungan pertama. Salah satu yang diimplementasikan dengan cukup baik adalah sistem aksi dan konsekuensi yang sepertinya tidak akan sulit untuk kamu bandingkan dengan game action RPG berkualitas lainnya – The Witcher 3: Wild Hunt.

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Assassin’s Creed Odyssey ini? Mengapa tim kapalan menyebutnya sebagai sebuah epos heroik cantik? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk kamu.

Plot

Sebelum kita berbicara lebih jauh soal cerita yang diusung, kita tentu harus membahas timeline Assassin’s Creed Odyssey itu sendiri. Seri ini berfungsi sebagai prekuel dan sekuel sekaligus. Prekuel karena cerita Odyssey sendiri mengakar di era Yunani Kuno yang terjadi sebelum Origins itu sendiri. Jadi kita memasuki dunia dimana belum ada orde Assassins ataupun Templar. Sementara sekuel mengakar dari fakta bahwa kisahnya melanjutkan petualangan karakter protagonis masa kini yang baru – Layla Hassan. Setelah memerankan Bayek di seri sebelumnya, Layla Hassan melanjutkan pencarian artifak untuk mendukung aksi Assassin dengan menyelami kisah Yunani Kuno itu sendiri. Jadi, ini adalah prekuel dan sekuel di saat yang sama.

Di setting Yunani Kuno-nya, kamu berkesempatan untuk memilih satu di antara kakak beradik: Alexios ataupun Kassandra. Siapapun yang kamu pilih, kamu akan berperan sebagai seorang mercenary yang menemukan takdirnya ternyata jauh lebih penting daripada sekedar membunuh dan membantu siapapun atas nama uang. Karakter manapun yang kamu pilih tidak akan memengaruhi cerita yang didapat. Perbedaan cerita akan dibangun dari konsep pemilihan opsi dan konsekuensi yang akan kita bahas nantinya.

Baik Alexios dan Kassandra lahir dari sebuah keluarga Sparta terhormat yang merupakan garis keturunan prajurit Sparta terbaik sepanjang masa, Leonidas. Namun ramalan di kala itu membuat keluarga Alexios dan Kassandra pecah. Kassandra / Alexios yang sempat dikira tewas karena sebuah kecelakaan fatal ternyata masih hidup dan tumbuh dewasa sebagai seorang prajurit bayaran di sebuah pulau kecil. Misi demi misi yang ia jalani untuk bertahan hidup dan mendapatkan sedikit ekstra uang membuatnya jatuh ke dalam sebuah takdir yang jauh lebih besar. Ia menemukan sang ayah – Nikolaus yang ia anggap bersalah atas terpecahnya keluarganya mereka. Dari Nikolaus, Kassandra / Alexios menemukan bahwa ibu mereka ternyata masih hidup.

Misi utama Kassandra / Alexios adalah keluarga. Bahwa anak yang tumbuh keras di jalanan dan tanpa orang tua tersebut berambisi untuk menyatukan kembali keluarga mereka. Namun perjalanan untuk menemukan sang ibu ternyata membuka sebuah “rahasia” besar bahwa Yunani yang kini tengah dilkamu perang besar antara dua faksi – Sparta dan Athenians ternyata tidak sebebas yang mereka kira. Sebuah organisasi terselubung tumbuh di belakang layar, yang juga diperkuat dengan sebuah teknologi misterius yang kabarnya bisa memperlihatkan masa lalu dan masa depan. Organisasi ini disebut sebagai Cult of Kosmos.

Maka perjalanan Kassandra / Alexios melintasi Yunani pun bersinggungan dengan kepentingan Cult of Kosmos ini. Apalagi mengingat untuk sebuah alasan yang misterius, Cult of Kosmos sepertinya tertarik dengan garis darah keluarga Kassandra / Alexios dan melihatnya sebagai “jawaban” yang selama ini mereka cari. Di tengah perjuangan ini pula, Kassandra / Alexios menemukan beberapa artifak dan peninggalan teknologi yang terlalu maju untuk stkamur peradaban mereka di kala itu. Benang-benang merah ini saling terikat dan tersambung kuat dalam usaha mereka untuk mencari sosok ibu yang mereka cintai ini.

Lantas, siapa pemimpin Cult of Kosmos itu sendiri? Mampukah Kassandra / Alexios menemukan ibu mereka? Teknologi First Civilization dengan ras bernama Isu seperti apa yang mereka temukan? Bagaimana kisah cerita ini akan berakhir? Semua jawaban dari pertanyaan ini bisa kamu dapatkan, tentu saja dengan memainkan Assassin’s Creed Odyssey ini.

Yunani yang Anggun

Bukan sebuah game Assassin’s Creed namanya jika mereka tidak mampu meracik dan memastikan bahwa atmosfer yang jadi setting utama seri, yang notabene merupakan Yunani untuk Assassin’s Creed ini, berakhir memukau. Jauh berbeda dengan seri Origins yang berada di Mesir yang kering dengan padang pasir yang mendominasi, Yunani adalah sebuah tanah yang subur dengan gunung vulkanik yang terbesar di beberapa tempat. Tanah subur yang penuh pepohonan di beberapa tempat, laut biru yang memisahkan beberapa wilayah besar, padang rumput dan pertanian yang mengisi di antaranya, serta tentu beberapa lahan bekas perang akan menemani perjalanan kamu. Tentu saja ditemani dengan sistem percahayaan dan cuaca dinamis yang terkadang membuatnya terasa begitu dramatis.

Namun yang istimewa tentu saja kesempatan untuk menyelam ke dalam peradaban yang mungkin tidak pernah kita kenali ini. Di tengah masa perang besar antara Athenians dan juga Spartans, eksplorasi yang kamu lakukan akan memungkinkan kamu untuk menyelami dua kebudayaan dalam satu wilayah yang berbeda ini.

Athenians adalah salah satu pelopor demokrasi dan kamu bisa menikmati bagaimana pilihan tersebut mempengaruhi cara masyarakat mereka bekerja. Dimana ada kesempatan untuk beropini untuk mempengaruhi pendapat publik lewat sesi dialog terbuka di atas pentas, bagaimana seni theater bisa digunakan untuk kepentingan politik, atau bagaimana simposium menjadi bagian esensial untuk memperkuat posisi dalam pemerintahan misalnya. Sementara Spartan dengan sistem dua rajanya adalah sebuah faksi yang tangguh dan menjadikan pertarungan sebagai solusi banyak masalah. Jika dua raja berujung berbeda pendapat pada satu masalah yang sama, keduanya bisa menguji kekuatan dengan pendapat yang menang akan berujung menjadi keputusan resmi. Ini adalah sebuah insight yang menarik.

Bagaimana kehidupan Politeisme memperngaruhi kehidupan Yunani juga menarik untuk disimak. Seiirng dengan lebih banyak wilayah yang kamu eksplorasi, kamu bisa melihat ada begitu banyak kuil yang dibangun sebagai persembahan untuk dewa-dewa yang punya karakteristik dan “tugas” yang berbeda-beda, dari Aphrodite untuk cinta hingga Apollo untuk kesembuhan dan perlindungan dari hal buruk. Estetika yang muncul tidak hanya datang dari beragam bangunan kuno saja, tetapi juga patung-patung yang didesain untuk menceritakan beragam kisah mitologi yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Yunani itu sendiri. Cerita mitologi penuh tragedi dan dewa-dewi tersebut dicitrakan lewat patung beragam ukuran, dari raksasa yang bisa kamu lihat dari kejauhan hingga tersembunyi di balik hutan lebat yang menunggu untuk kamu cari dan temukan. Kebudayaan Yunani kuno terpancar lewat hal ini.

Interaksi antar karakter dan musik juga pantas untuk diacungi jempol, apalagi didukung dengan voice acting yang juga memukau. Lewat interaksi-interaksi karakter ini, terutama dengan karakter yang sempat kamu lihat di buku sejarah, ada kesempatan untuk memahami bagaimana gaya hidup masyarakat di sana. Bagaimana selain bertarung, minum dan kehidupan seksual bebas menjadi bagian tidak terpisahkan selain hiburan lewat puisi dan theater. Perjalanan kamu juga akan ditemani musik-musik yang untuk alasan yang sulit dijelaskan, akan mengingatkan kamu sedikit pada musik yang dipilih oleh CD Projekt Red. tim kapalan tidak berkeberatan untuk hal tersebut.

Maka pujian terakhir yang pantas untuk dilayangkan dari segi presentasi, adalah implementasi sistem air dari Ubisoft yang tidak pernah tampil tidak memukau. Ada sesuatu yang indah dari cara mereka menangani air, baik dari pergerakan gelombang laut dan buih yang menuju ke pantai hingga sekedar gerakan dan sifat laut yang sulit diprediksi ketika kamu mengarunginya dengan kapal besar kamu. Melihat bagaimana kapal kamu berusaha membelah dan memecahnya dalam animasi yang mengalir adalah sebuah pemkamungan memanjakan mata. Sebuah kualitas yang pantas mendapatkan sebuah paragraf diskusi terpisah dari tim kapalan. Fantastis!

Perhatian dan Dilema Moral

Sebelum kita menyelam lebih dalam ke dalam sistem pertarungan Assassin’s Creed itu sendiri, kita tentu harus bisa soal salah satu daya tarik terbaru dan terbaik yang disuntikkan Ubisoft untuk Odyssey. Benar sekali, sistem opsi dan konsekuensi selayaknya game action RPG racikan Bioware seperti Mass Effect dan Dragon Age. Menariknya? Bukan sekedar gimmick, pilihan yang kamu ambil memang akan menghasilkan sesuatu yang berbeda, terlepas apakah ia akan membuka cabang cerita yang benar-benar baru ataukah sekedar iterasi untuk bergerak ke ujung yang sama. Namun dengan konsep seperti ini, kamu memang berkesempatan untuk meracik cerita kamu sendiri dengan alternatif ending pula di dalamnya.

Satu yang menarik adalah kualitas dari percakapan tersebut, selain dari pendekatan visual yang lebih detail pada model karakter untuk memastikan emosi bisa terpancar lebih baik dari ekspresi wajah. Bahwa kebanyakan situasi yang berakhir meminta kamu memilih memang muncul dari situasi penuh dilema yang terkadang membuat kamu harus menimbang dalam kapasitas moral kamu sendiri, apa yang menurut kamu “baik dan benar”. Tetapi di sisi lain, kamu selalu punya kesempatan untuk bermain peran sebagai seorang Mercenary yang tidak banyak peduli dengan moral dan hanya didasarkan pada satu motivasi – uang. Beberapa hasil dari percakapan tersebut bisa berakhir mengubah sesuatu secara visual, interaksi dengan karakter spesifik, hingga memunculkan cabang cerita berbeda.

Sebagai contoh? Ketika kamu dalam proses mengumpulkan informasi, kamu mendapatkan sebuah keluarga dengan anak yang ternyata tengah disandera oleh bandit dengan pedang di leher mereka. Anak mereka aman, tetapi suami istri tersebut sepertinya tidak punya lagi jalan keluar. Sang bandit yang tengah terkekeh tertawa karena berada di atas angin tersebut memberikan kamu opsi untuk menyelamatkan sang suami atau menyelamatkan sang istri, yang masing-masing ingin pasangannya bertahan demi hidup sang anak. kamu juga punya opsi untuk mengambil resiko dan berusaha memprovokasi sang bandit yang hasilnya bisa berakhir membuatnya kian marah dan membunuh keduanya, atau justru menyelamatkannya. Nasib mereka berada di tangan kamu. Atau ketika kamu harus memilih opsi antara menyelamatkan sebuah keluarga dengan penyakit menular atau membiarkan mereka mati dibunuh oleh para pendeta yang melihatnya sebagai solusi untuk menghentikan pandemik. Keputusan yang kamu ambil bisa berujung mempengaruhi nasib dan kelanjutan hidup kota dimana kamu berasal.

Hal yang mengejutkan adalah bagaimana Ubisoft juga mendorong untuk menaruh perhatian pada percakapan yang muncul dan bukan sekedar mempercepatnya sembari lalu. Mengapa? Karena tidak jarang mereka memuat informasi-informasi esensial yang kamu butuhkan untuk meloloskan misi spesifik atau sekedar mengambil opsi yang tepat. Walaupun kamu tidak akan langsung “gagal” jika salah memilih, namun bukan tidak mungkin kamu berakhir dengan keputusan yang sebenarnya tidak ingin ambil.

Cara terbaik menjelaskan betapa briliannya sistem tentu saja adalah dengan contoh. Contoh pertama, muncul dari kasus dimana kamu harus mencari seoarang pengkhianat di antara dua figur penting yang perintahnya bisa membuat potongan kepala kamu tertancap di tombak depan kota. kamu harus petunjuk, namun game tidak memberikan kepada kamu secara spesifik, apa yang harus kamu cari. Jika kamu tidak menyempatkan diri untuk membuka menu dan membaca surat konspirasi yang kamu temukan terkait masalah ini, maka kamu akan sulit untuk menetapkan kecurigaan siapa sebenarnya sang pengkhianat dengan tepat. Atau contoh kedua, ketika kamu berusaha mengalihkan perhatian seorang NPC dengan karakter pendukung yang berusaha mencuri item penting mereka di belakang layar. Jika kamu tidak membaca jelas informasi intel yang sudah disediakan sebelumnya untuk terus membuat percakapan mengalir, maka sang NPC target akan jelas mengetahui “ada yang salah” dengan kamu dan membuat misi tersebut gagal. Menaruh perhatian adalah sesuatu yang penting.

Maka dengan konsep seperti ini, Assassin’s Creed pun mulai bergerak menjauh dari sistem misi sampingan mereka yang buruk dan dangkal di seri-seri yang lalu. Bahwa mengikuti apa yang sudah ditawarkan oleh Origins dan menyempurnakannya lebih jauh, kamu kini akan bertemu dengan desain misi sampingan yang didukung dengan ceritanya sendiri. Beberapa berakhir solid sementara tidak sedikit pula yang klise. Misi-misi ini biasanya juga biasanya berakhir dengan keputusan untuk memanen reward atau membiarkannya atas nama moral, seperti konsep yang serupa dengan The Witcher 3: Wild Hunt.

Berbicara soal The Witcher 3: Wild Hunt, Odyssey juga mengimplementasikan sistem percakapan yang dinamis untuk misi sampingan demi memfasilitasi konsep open-worldnya yang terbuka. Jadi jika kamu berujung mengeksplorasi wilayah tertentu dan mendapatkan sebuah quest item lebih awal untuk sebuah side quest yang belum kamu ambil, percakapan akan mengalir jika quest spesifik tersebut terpicu. Sang karakter utama akan berbicara soal item yang disebutkan oleh pemberi quest dan menginformasikan bahwa item tersebut sudah ditemukan dan reward pun akan didapatkan, membuat interaksi seperti ini terasa lebih natural. Walaupun harus diakui, masih belum sesempurna The Witcher 3: Wild Hunt. Ada beberapa kondisi dimana tim kapalan masih tetap harus berbicara dua kali dengan NPC yang sama untuk menyelesaikan quest yang itemnya sebenarnya sudah tim kapalan miliki. Dan sejauh mata memkamung, quest ini biasanya terkait pada quest untuk mengambil item. Sementara quest yang meminta kamu membunuh karakter spesifik biasanya tetap membutuhkan kamu mengujungi tempat yang sudah kamu bersihkan sekalipun.

Maka dengan pendekatan seperti ini, tim kapalan akui bahwa tim kapalan takjub dengan apa yang berhasil dilakukan Ubisoft dengan Assassin’s Creed Odyssey itu sendiri. Bahwa pelan tapi pasti, menyempurnakan apa yang sudah mereka bangun dengan Origins, mereka membangun sebuah game action RPG dengan konsep aksi dan konsekuensi yang solid. Bahwa ini adalah kualitas serupa yang kamu dapatkan dan harapkan dari game sekelas Mass Effect atau Dragon Age dari Bioware misalnya. Begitu banyaknya situasi dilematis yang menguji moral kamu juga membuatnya berakhir lebih baik dari apa yang tim kapalan bayangkan sebelumnya.

Fleksibilitas

“Ah.. ini sih bukan seri Assassin’s Creed lagi, masak begitu…”, berapa sering kamu mendengar ucapan yang satu ini dilontarkan setiap kali nama Origins atau Odyssey mengemuka. Bahwa gamer merasa bahwa Ubisoft telah membuat franchise dengan latar belakang sejarah ini sudah melenceng dari akarnya. Tetapi benarkah demikian? Di mata tim kapalan, jika kamu melihatnya lebih jelas, sepertinya tidak. Game ini masih tetap berfokus pada cerita soal First Civilization, hubungannya dengan Assassin dan Templar, serta konsep Chaos dan Order yang selalu jadi tema utama. Sementara dari sisi gameplay, yang sering dilupakan adalah fakta bahwa apa yang sebenarnya disuntikkan Ubisoft adalah fleksibilitas.

Assassin’s Creed Odyssey adalah sebuah game action RPG. Dan selayaknya game action RPG, ada build yang bisa kamu racik untuk memenuhi gaya permainan yang kamu inginkan. Jadi alih-alih menguncinya menjadi sebuah game yang hanya bisa dimainkan secara stealth saja, mereka membuka ruang bagi gamer untuk meracik gaya mereka sendiri. Bahwa mereka yang mengeluh “Ini-bukan-seri-Assassin’s Creed-lagi” sepertinya lupa bahwa mereka lah yang memilih untuk bermain dan bertempur secara terbuka. Opsi untuk bermain secara stealth dan mempertahankan cita rasa Assassin yang selama ini kamu kenal selalu tersedia di sana dan bisa kamu implementasikan kapanpun kamu inginkan.

Basis permainan Odyssey memang mengikuti akar Origins, namun kini dengan elemen action RPG yang bahkan lebih kental. Kita tidak sekedar bicara soal deretan skill dan rentetan damage hingga ratusan ribu yang akan muncul di atas kepala karakter saja, tetapi juga lewat kesempatan kamu untuk membangun dan membentuk gaya bermain untuk sosok Kassandra / Alexios kamu itu sendiri. Bahwa kesempatan untuk meracik kisah epos heroik bukan dari sekedar opsi dan konsekuensi, tetapi juga definisi kamu soal karakter tersebut.

Ada dua cara Ubisoft mengakomodasi gaya bermain ini. Pertama, lewat sistem pohon skill yang kini lebih terkategori dengan baik dan mampu mengubah gaya bermain kamu. Dengan skill points yang kamu dapatkan setiap kali kamu naik level atau menyelesaikan misi sampingan spesifik, kamu bisa mendistribusikannya ke dalam skill-skill yang terbagi ke dalam tiga kategori yang berbeda: Warrior, Hunter, dan Assassin’s. Warrior efektif untuk pertarungan terbuka, Assassin untuk stealth, dan Hunter untuk menjadikan busur dan panah kamu sebagai “solusi” semua masalah yang ada. kamu bisa berfokus pada satu kategori spesifik untuk membuat peran kamu sebagai kelas tertentu lebih dominan atau menggabungkannya untuk membangun jenis karakter yang lebih fleksibel pada ragam situasi yang ada.

Karakter dengan dominasi Skill Warrior misalnya punya skill pasif untuk membuat damage senjata melee mereka lebih mematikan serta skill yang memungkinkan mereka untuk membuang secara instan shield milik musuh, yang tentu saja membuat mereka lebih rentan. Skill Assassin mengakomodasi kesempatan untuk membunuh banyak jenis musuh secara instan dari belakang, khas seri Assassin’s Creed selama ini. Ada skill pasif yang memungkinkan kamu mengakses tipe Assassination dengan Critical Effect untuk damage jauh lebih besar hingga kesempatan membuat tubuh kamu menghilang dalam batas waktu tertentu saat tidak bergerak. Sementara Hunter yang didominasi oleh kemampuan memanah akan membuat kamu jauh lebih efektif sebagai pembunuh jarak jauh. Mengambil skill ini akan memungkinkan kamu meracik lebih banyak jenis anak panah untuk ragam keperluan, membuat efek critical untuk target headshot lebih sakit, hingga membuat panah bisa menembus tembok dan membunuh musuh di baliknya jika kamu inginkan. Tidak ada batasan untuk memilih dan membangun karakter seperti apa yang kamu inginkan. Ingin bermain ala Assassin lawas? Silakan. Ingin bermain terbuka ala Gladiator? Silakan. Ingin membunuh orang-orang dari kejauhan? Tidak ada yang menghalangi kamu. Kerennya lagi? kamu selalu bisa me-reset Skill Points kamu dan mencoba build berbeda kapan saja kamu inginkan.

Implementasi kedua yang mendukung fitur tersebut adalah equipment yang kini tidak lagi sekedar terbatas pada status ataupun efek unik yang ia hasilkan saja. Dengan beragam tingkat kelangkaan dimana “Legendary” menjadi equipment terlangka yang biasanya punya buff permanen unik untuk memperkuat aksi kamu, setiap potongan equipment biasanya akan menawarkan tambahan status lebih kuat pada kategori spesifik. Ini berarti kamu akan menemukan senjata dan potongan armor yang biasanya memperkuat damage untuk Assassin, Warrior, ataupun Hunter. Menghitung, memilih, dan memasang equipment yang tepat akan membantu kamu lebih efektif menjalankan gaya bermain apapun yang ingin kamu lakukan.

Berita baiknya? Selayaknya game action RPG pada umumnya, Ubisoft juga menyuntikkan sistem untuk memodifikasi senjata dan armor, juga untuk memfasilitasi kebutuhan kamu. Ada dua fitur yang akan membuat kamu tidak hanya bisa memperkuat senjata atau armor kamu saja, tetap tetap menjadikannya relevan di tengah level kamu yang terus naik.

Sistem pertama adalah Upgrade, yang dengan sejumlah besar uang dan material yang kamu dapatkan, bisa digunakan untuk membuat level senjata atau equipment mengikuti level karakter kamu. Jadi jika kamu tidak sengaja menemukan equipment level rendah dengan buff menggoda misalnya, kamu selalu bisa menggunakan opsi ini dan tetap menjadikannya sebagai bagian dari build kamu. Kedua? Engrave. Sistem ini memungkinkan kamu untuk menyuntikkan satu buah buff permanen ke senjata ataupun armor kamu. Engrave bisa didapatkan dari proses eksplorasi, quest, ataupun dari frekuensi kamu menggunakan senjata atau equipment tertentu. Engrave yang bisa memuat persentase untuk memperkuat area atau status tertentu ini adalah kunci untuk membuat gaya permainan kamu lebih efektif di akhir.

Sementara untuk pertempuran kapal yang juga akan memainkan peran penting, konsep yang diusung lebih sederhana. kamu hanya membutuhkan material dan uang yang cukup untuk memperkuat setiap aspek kapal yang secara konsisten akan kamu bawa bertempur di laut ini. Berita baiknya? Untuk setiap kapal yang kamu hancurkan, kamu selalu akan dihadiahi dengan loot material yang cukup menggoda. Hanya dalam waktu singkat, bersama dengan sedikit proses eksplorasi di darat untuk mengumpulkan material spesifik bernama “Ancient Tablet”, kamu akan menemukan kapal kamu berada di kondisi terbaik. Hal yang bisa kamu modifikasi hanya dua: Liutenant – 4 orang pemimpin kapal berbasis karakter hasil rekrutan kamu yang masing-masing menawarkan buff tertentu pada kapal dan beragam item kosmetik seperti layar dan kru kamu misalnya. Kerennya lagi? Bergantung pada apakah kru kamu pria atau wanita, nyanyian saat berlaut juga akan punya suara yang berbeda. Detail yang memesona di tengah gerak laut yang memanjakan mata.

Grinding, Benarkah?

Jika kamu mengikuti secara aktif berita game, maka sepertinya kamu pasti akan pernah mendengar soal kekhawatiran proses grinding berlebihan yang sempat dilemparkan oleh salah satu situs gaming raksasa luar. Artikel tersebut mengarahkan opini pada akhirya Odyssey ingin meminta kamu untuk membeli dan membayar dengan uang nyata ragam resource yang ada untuk membuat Alexios / Kassandra berada di level tertinggi. Pertanyaannya kini tentu saja satu, berdasarkan pengalaman bermain tim kapalan, benarkah demikian?

tim kapalan menjawab Tidak. Untuk sementara, tuduhan tersebut sepertinya mengakar pada fakta bahwa si reviewer tersebut diburu oleh deadline (seperti halnya tim kapalan) dan tidak bisa berakhir menikmati pengalaman Odyssey selayaknya kapasitas yang seharusnya. Namun tim kapalan bisa meyakinkan bahwa Odyssey tidak butuh grinding separah yang kamu bayangkan.

Pertama? Karena kebanyakan area yang berhubungan dengan misi utama terutama, punya sistem level-scaling. Ini berarti, mereka akan mengikuti level karakter yang kamu gunakan dan bukan sebaliknya. Jikapun kamu berada di level yang lebih tinggi, perbedaan paling signifikan berakhir dengan area yang punya 2 level lebih rendah dibandingkan dengan kamu. Sistem seperti ini membuat pengalaman Odyssey jauh lebih baik daripada Origins, yang tidak mengaplikasikan sistem seperti ini di awal rilis. Hal yang membuat kamu mudah berakhir over-leveled dan membunuh semua musuh dengan sekali tebas. Di Odyssey, sistem seperti ini membuat tantangan selalu konsisten dan setiap pertarungan tetap sulit. Di sisi lain, mengingat sistem seperti ini hadir, terlepas dari apapun level kamu, tantangan sebagian besar wilayah akan terasa setara dan berimbang.

Kedua? Odysssey adalah sebuah game yang benar-benar luas dan besar, dengan jumlah misi sampingan yang bahkan tak lagi terhitung bagi tim kapalan. Ada misi sampingan dengan cerita, ada misi sampingan yang sekedar meminta kamu melakukan sesuatu via Message Board / Contracts, ada misi utama yang harus kamu selesaikan, ada konsep Mercenary yang akan tim kapalan bicarakan nantinya, ada pertarungan kapal, ada Coliseum, ada eksplorasi ragam wilayah dan membersihkan camp, dan sejenisnya. Hampir semua aktivitas tersebut selalu menghasilkan sejumlah EXP Points yang di beberapa situasi, bahkan disesuaikan dengan tingginya level kamu. Masalah “grinding” adalah masalah seberapa optimalnya sebenarnya kamu ingin untuk menikmati pengalaman Odyssey yang sesungguhnya tersebut.

Karena jika kamu menikmati proses eksplorasi yang ada dan tertarik untuk mengunjungi beragam wilayah dan kota serta berusaha menyelesaikan sebanyak mungkin misi sampingan ataupun beragam tantangan yang ada, kamu akan dengan mudah mengumpulkan EXP Points yang dibutuhkan. Memang progress bar tersebut akan melambat seiring dengan semakin dekatnnya kamu ke level 50, namun itu adalah sesuatu yang terhitung normal untuk sebuah game action RPG. Walaupun pada akhirnya sulit dipungkiri bahwa beberapa item microtransactions seperti yang mampu membuat EXP Points kamu naik dua kali lipat misalnya, memang akan membuat proses ini jauh lebih cepat.

Lagipula, Odyssey menyuntikkan sebuah sistem baru yang bisa jadi motivasi untuk menyelesaikan beragam point dalam peta ataupun side mission yang ada. Benar sekali kita tengah bicara soal Conquest Battle – yang akan mensimulasikan perebutan kekuasaan antara Spartan dan Athenian untuk begitu banyak wilayah yang ada. Konsepnya seperti Dynasty Warriors dimana kamu akan bertarung di tengah keramaian perang dalam skala lebih besar yang berusaha membuat pihak kamu memenangkannya. kamu memang Spartan, namun peran kamu sebagai Mercenary lebih menonjol. Jadi kamu selalu punya opsi untuk bertarung dengan pihak manapun yang kamu inginkan sesuai dengan reward yang hendak kamu kejar.

Setiap Conquest Battle (terlepas apakah kamu memilih pihak bertahan ataupun menyerang) akan menghadiahi kamu jumlah EXP yang besar dan juga equipment level kelangkaan “Epic” untuk kamu gunakan. Kerennya lagi? Walaupun bisa dipicu manual dengan melemahkan kekuasaan setiap daerah lewat aksi kamu membakar peti spesifik, membunuh pasukan elite, menghabisi penguasa yang ditunjuk, hingga menghancurkan bahan makanan misalnya sebelum bisa dipicu, Conquest Battle ternyata juga bersifat dinamis. Maksudnya? Bahwa perang konstan tersebut akan selalu terjadi di belakang layar, terlepas apakah kamu picu atau tidak. Tidak akan mengherankan jika secara tiba-tiba kamu melihat opsi Conquest Battle muncul di layar peta dan untuk daerah yang bahkan sudah lama tidak kamu kunjungi. Meyelesaikannya dengan cepat dan efektif akan jadi “gudang” EXP super efektif di awal-awal permainan.

Maka dengan kombinasi sistem seperti ini, maka tim kapalan bisa menyimpulkan bahwa Odyssey tidak secara sengaja mendesain dan menuntut kamu untuk menghabiskan uang nyata sama sekali. Ini sepertinya lebih pada komparasi antara gamer sabar dan tidak sabar, atau gamer yang ingin sekedar menyelesaikan game ini secepat mungkin atau menikmati pengalaman game open-world sesungguhnya lewat proses eksplorasi dan menikmati kisah petualangan Alexios / Kassandra yang seharusnya.

Berburu dan Diburu

Intensitas yang tidak pernah menurun, itu adalah salah satu penyempurnaan yang berhasil dicapai oleh Ubisoft dengan Odyssey dan tidak dengan Origins. Sistem level-scaling yang sempat kita bicarakan sebelumnya adalah salah satu kontribusi penting dari sensasi tersebut, di luar beberapa hal lain yang pantas untuk diacungi jempol. Memainkan peran super penting adalah bagaimana lewat mekanik baru yang ia tawarkan, kamu akan berhadapan dengan sensasi yang terus konsisten bahwa kamu tengah memburu atau diburu sesuatu. Hal tersebut cukup kuat untuk menjadi motivasi yang mendorong kamu untuk terus tenggelam dalam cerita yang ditawarkann oleh Odyssey itu sendiri.

Sensasi diburu lewat implementasi sistem baru yang mereka sebut sebagai “Mercenaries”, yang secara sederhana tampil layaknya sistem ranking ogre di Shadow of War, tanpa Nemesis System di dalamnya. Hadir dalam beberapa tingkat, Mercenaries yang “lahir secara acak”, baik dari nama hingga persenjataan yang mereka usung ini, adalah sebuah variabel konstan yang akan membuat petualangan kamu tetap seru dan menegangkan. Mereka akan muncul memburu kamu sebagai seoarang bounty hunter jika kamu melakukan kejahatan di depan banyak orang, dari membunuh hingga sekedar mencuri. Seperti halnya sistem serupa di GTA, semakin tinggi level bounty kamu (maksimal 5), semakin banyak pula Mercenaries yang memburu kamu sekaligus. Bertarung dengan beberapa dari mereka seperti ini adalah resep mimpi buruk yang ingin kamu hindari.

Yang ditawarkan oleh pertarungan melawan Mercenaries yang tidak berkesudahan juga mengalami proses scaling berdasarkan level kamu ini adalah pertempuran boss yang secara konsisten hadir dan membuat Odyssey jauh lebih menarik dari sisi gameplay. Karena tidak lagi sekedar bertarung dengan kroco-kroco yang bisa kamu bunuh dengan sekali tikam atau panah, kamu kini dihantui dengan sebuah ancaman boss yang tidak pernah kamu prediksi akan datang dengan senjata seperti apa dan kemampuan seperti apa. Walaupun ancaman ini tidak lagi berasa signifikan seiring dengan semakin tingginya level kamu, namun kehadiran Mercenaries seperti ini berkontribusi pada feel gameplay yang lebih berat. Bahwa aksi kamu kini punya konsekuensi yang jelas dan ia hadir dengan ancaman yang memang bisa berakhir membuat kamu terbunuh. Walaupun untungnya, kamu yang “malas” untuk berhadapan dengan invasi dari para Mercenaries bisa mengorbankan uang kamu untuk menurunkan tingkat bounty yang ada.

Selain sensasi diburu, Assassin’s Creed Odyssey juga menyuntikkan mekanik yang membuat kamu secara konsisten punya motivasi untuk bergerak dan mengeksplorasi luasnya Yunani yang mereka tawarkan lewat konsep sebaliknya – memburu. Terhubung dengan cerita utama namun bukan sesuatu yang harus kamu selesaikan untuk mengetahui akhir kisah dari drama keluarga Kassandra dan Alexios. Ada tiga tugas utama memburu yang akan meminta kamu melintasi Yunani dan salah satunya hadir dengan kejutan yang pantas untuk diacungi jempol.

Tugas berburu pertama tentu saja adalah menghabisi Cult of Kosmos – organisasi di balik begitu banyak kekacauan yang menghantui Yunani serta menjadi pemicu perang antara Athenians dan Spartan. Konsepnya sendiri sebenarnya serupa dengan apa yang sempat ditempuh di Origins, dimana selayaknya organisasi, ada begitu banyak target buruan yang harus kamu habisi sebelum kamu bisa membunuh sang pemimpin. Ada misi yang harus kamu selesaikan via misi utama, namun sebagian besar dari target tersebut adalah target terpisah yang bisa kamu kejar. Sistemnya sendiri unik dan bukan sekedar harus membunuh yang satu untuk mengetahui identitas yang lain.

Terselubung dalam topeng dan jubah hitam, kamu harus mengetahui siapa dulu identitas setiap anggota Cult of Kosmos ini sebelum kamu bisa menghabisi dan menghentikan mereka. Untuk membuka identitas ini, alih-alih sekedar membunuh satu anggota yang ada dan membuka identitas yang lain, ada hal spesifik yang kini harus lakukan untuk memicunya. Ada yang meminta kamu menyelesaikan misi sampingan spesifik, ada yang meminta kamu untuk melemahkan daerah spesifik tertentu, ada yang meminta kamu untuk bertarung membela antara Athenians atau Spartans dan sejenisnya. Berita baiknya? Selain membuka organisasi dan identitas rahasia mereka yang diantara mereka juga memuat plot-twist di dalamnya, kamu akan mendapatkan reward yang sepadan dengan ragam senjata dan armor untuk dibagikan, yang biasanya memuat kelangkaan tinggi di dalamnya.

Salah satu misi sampingan juga akan membuat kamu merasa seolah bahwa kamu adalah Hercules yang tengah menyelesaikan 12 misi dari King Eurystheus yang melegenda. Benar sekali, berburu binatang-binatang legendaris yang tersebar di keseluruhan Athena. Bahkan beberapa di antaranya memang binatang yang serupa dengan apa yang ditaklukkan oleh Hercules di masa lampau. Melawan para binatang ini memang cukup merepotkan, terutama lewat fakta bahwa mereka besar, cepat, dan punya insting yang cukup kuat untuk menghindari serangan yang sudah kamu rencanakan. Percaya atau tidak, Erymanthian Boar akan jadi salah satu boss yang akan membuat kamu panas dingin di Odyssey.

Dan bukan rahasia lagi, bahwa Assassin’s Creed Odyssey juga memuat konten makhluk mitologi di dalamnya, seperti Medusa yang sempat diumumkan beberapa waktu yang lalu. Terdengar aneh memang, namun caranya menangani cerita membuat eksistensi makhluk-makhluk ini terasa rasional untuk dunia yang dibangun oleh Odyssey. Cerita tentang Zeus atau Hercules adalah cerita-cerita mitologi tanpa bukti bahkan untuk sosok Alexios / Kassandra itu sendiri, namun dipercaya menjadi bagian dari sesuatu yang memang secara faktual terjadi di masa-masa sebelum eksistensi mereka. Di sinilah First Civilization atau ras yang dikenal sebagai Isu, masuk.

Para makhluk-makhluk mitologi ini dijelaskan sebagai bagian dari sistem perlindungan yang diciptakan oleh First Civilization untuk menguasai manusia, dengan efek yang tentu saja kuat. Tidak lagi sekedar bisa menguasai pikiran dan sejenisnya, mereka bahkan menjadi kunci untuk sebuah peradaban yang bahkan lebih mengancam jika berakhir jatuh ke tangan yang salah. Pertarungan melawan monster-monster ini tentu saja lebih sulit dan menantang daripada sekedar melawan musuh manusia ataupun Mercenaries sekalipun. Desain yang mengancam, HP lebih tebal, serangan yang lebih mematikan dan beragam, monster-monster ini butuh strategi dan persiapan untuk ditundukkan. Walaupun salah satu di antara mereka ada yang hadir untuk menguji kemampuan otak kamu juga.

Dengan begitu banyak hal yang secara konsisten terjadi, baik ketika kamu diburu ataupun secara aktif memburu beragam hal ini, Odyssey berhasil mempertahankan level intensitas selama permainan, baik ketika kamu menyelesaikan cerita ataupun sekedar mengeksplorasi dunianya yang terhitung luas.

Kesimpulan

Berinovasi dengan Origins dan menyempurnakannya dengan maksimal lewat Odyssey, acungan dua jempol memang pantas diarahkan pada apa yang berhasil dicapai oleh Ubisoft dengan seri teranyar ini. Tambahan fitur seperti Mercenaries dan sistem opsi-konsekuensi yang menjadi kamulan dan terus didengungkan selama bahan promosi berujung bukan sekedar gimmick tidak berguna. Kesempatan untuk meracik petualangan dan perjalanan kamu sendiri lewat opsi yang ada, sekaligus senantiasa berhadapan dengan ancaman yang menantang, membuat pengalaman Odyssey terasa menyegarkan dan menegangkan di saat yang sama. Untuk alasan yang “aneh”, ada kesan yang kuat bahwa Odyssey terasa seperti sebagai sebuah seri yang pantas bersanding dengan game action RPG milik Bioware, minus sensasi perjuangan tim mengingat aksi kamu di Odyssey memang cenderung solo.

Namun sayangnya, ini tidak sempurna. Salah satu masalah terbesar dari Odyssey, bahkan dengan update terakhir yang sudah tim kapalan unduh, adalah masalah teknis yang berat. Kita sekedar berbicara soal bug misi sampingan yang sepertinya “rasional” untuk game open world seperti ini saja, tetapi benar-benar masalah teknis yang membuat permainan berhenti, framerate layaknya gambar terputus di setidaknya dua lokasi yang sempat tim kapalan jajal, model karakter yang tiba-tiba menghilang tanpa alasan, hingga bertemu sekedar layar hitam saja saat melakukan proses fast travel. Satu hal menjengkelkan lain adalah waktu loading untuk proses fast travel yang benar-benar lama. Sementara dari konten cerita, tim kapalan tidak terlalu senang dengan sistem romansa yang hadir tanpa kedalaman. Karakter yang kamu gunakan – Alexios / Kassandra sepertinya tidak berkeberatan untuk tidur dengan siapa saja, tanpa ada kesempatan membangun hubungan eksklusif dengan karakter tertentu.

Di luar masalah teknis ini, Assassin’s Creed Odyssey berakhir menjadi sebuah seri Assassin’s Creed yang fantastis, sebuah versi lebih sempurna dengan sensasi action RPG lebih kental dari pondasi yang sudah dibangun oleh Origins. Menjadikannya sebagai game yang berakhir melebihi ekspektasi awal tim kapalan dan tidak ragu untuk tim kapalan rekomendasikan untuk kamu.

Kelebihan

  • Cerita yang menarik
  • Voice acting natural
  • Visualisasi, terutama air, yang memanjakan mata
  • Sistem opsi percakapan – konsekuensi yang bukan gimmick
  • Pertarungan melawan makhluk mitologi dan binatang legendaris
  • Misi sampingan kini punya cerita solid
  • Lebih action RPG
  • Sistem build karakter terasa lebih fleksibel
  • Dunia yang imersif dan luas

Kekurangan

  • Sistem romansa dangkal
  • Babi hutan
  • Masalah teknis terkadang fatal
  • Terlalu banyak waktu loading