Digimon Story Cyber Sleuth | Review Digimon RPG PS 4

Digimon Story Cyber Sleuth

Digimon atau Pokemon? Dengan hanya melemparkan satu pertanyaan yang sederhana ini, kamu akan dengan mudah mulai memicu perdebatan panas di masa lalu. Gamer yang tumbuh dengan platform Nintendo dan secara konsisten mencicipi generasi terbaru tentu akan langsung memilih Pokemon sebagai franchise “monster” kamulan mereka. Sementara gamer yang lebih terpaku dengan layar televisi Indonesia di kala itu, akan tak ragu menjawab Digimon sebagai franchise yang lebih keren. Namun sayangnya, seiring dengan berjalannya waktu, Pokemon lah yang terus bisa bertahan melawan zaman dengan popularitas anime dan manga yang tidak pernah padam. Sementara Digimon, mau tidak mau harus diakui, mulai tergeser. Namun bukan berarti, ia berhenti berdenyut begitu saja.

Game-game yang menjadikan Digimon sebagai tema utama dengan Bkamui Namco sebagai bendera raksasa yang berdiri di belakangnya memang masih sering kamu temui, dengan pendekatan gameplay yang berbeda pula. Salah satu yang cukup menjanjikan di tahun 2015 yang silam adalah Cyber Sleuth yang menghadirkan pendekatan yang secara mengejutkan, adalah sebuah format JRPG klasik turn-based berbasiskan kota urban Jepang sebagai setting utama. Kini di tahun 2018 awal, kita disambut dengan sebuah kisah ekstra yang berjalan berdampingan dengan Cyber Sleuth yang mendapatkan ekstra nama “Hacker’s Memory” di belakangnya.

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Digimon Story – Cyber Sleuth: Hacker’s Memory ini? Apa yang membuat tim kapalan menyebutnya sebagai game “dijitak monster” selain keinginan untuk sedikit berkelakar? Review ini akan membahasnya lebih dalam.

Plot

kamu yang sempat mengikuti game-game rilis Bkamui Namco sepertinya tidak akan asing lagi dengan nama “Cyber Sleuth” yang memang sempat dilepas di tahun 2015 silam. Benar sekali, seperti yang kamu prediksi, Hacker’s Memory yang akan kita bicarakan ini akan mengambil sebuah timeline terpisah dari kisah original Cyber Sleuth itu sendiri. Menawarkan perspektif cerita yang baru, lebih banyak digimon untuk dimainkan, dan tentu saja – fitur gameplay ekstra lainnya. Berita baiknya? Sebagai gamer yang tidak pernah mencicipi Cyber Sleuth sebelumnya, Hacker’s Memory bisa dipkamung sebagai sebuah game baru berdiri sendiri yang punya alur cerita solid dan jelas.

Di dunia masa depan, teknologi digitalisasi memang tidak lagi bisa dipisahkan dari hidup manusia. Hingga pada batas bahwa manusia bisa meracik Avatar-nya sendiri dan bersosialisasi lewat sebuah situs bernama EDEN. Begitu pentingnya EDEN itu sendiri, hingga peran Avatar ini bukan lagi sekedar main-main belaka. Di lingkungan sosial, peran Avatar kamu di EDEN dianggap mewakili seberapa “sehatnya” fungsi kamu sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri. Orang-orang yang menggunakan Avatar yang palsu atau milik orang lain, mereka yang juga berupaya meretas EDEN untuk alasan apapun, dipkamung sebagai bibit kriminal yang harus diawasi.

Lantas, bagaimana jika akun EDEN kamu dicuri oleh pihak yang tidak bertanggung jawab? Hal inilah yang harus dipikul oleh sang karakter utama, seorang remaja sekolah bernama Keisuke. Ia mendapatkan cemoohan dan kecurigaan dari lingkungan sekitar semata-mata karena ia menggunakan Avatar kedua setelah akunnya dicuri. Tidak terima dengan hal ini, Keisuke pun berupaya untuk mencari siapa pihak yang sebenarnya bertanggung jawab. Namun proses penyelidikan di dunia maya itu sendiri bukanlah hal yang mudah. Mengapa? Karena para hacker saat ini punya senjata baru untuk tidak hanya meretas, tetapi juga melindungi diri mereka sendiri. Senjata tersebut, adalah Digimon.

Tidak ada yang tahu bagaimana Digimon bisa muncul di EDEN, siapa mereka, dan darimana pula mereka berasal. Satu yang pasti, mereka dijadikan “senjata” yang efektif oleh para hacker untuk beragam aksi peretasan di dalam EDEN. Keisuke yang kelabakan di kala itu untungnya, diselamatkan oleh kelompok hacker baik hati yang dibangun untuk melindungi EDEN – Hudie. Seperti yang bisa diprediksi, Keisuke pun bergabung ke dalam organisasi dengan jaket warna biru yang satu ini. Bersama dengan tiga teman lainnya: Erika Mishima, Ryuji Mishima, dan Imai Chitose. Keinginan mereka untuk melindungi EDEN dan melakukan investigasi atas beragam tindak pencurian akun ternyata membawa mereka ke misteri yang lain.

Pelan tapi pasti, dunia digital mulai masuk ke dalam dunia nyata untuk alasan yang tidak bisa dimengerti. Fenomena terjadi di sekitar Hudie dan melibatkan sebuah entitas yang sama sekali bukan manusia dan bukan pula Digimon. Sesuatu yang mereka sebut sebagai “Eaters”. Dengan kemungkinan terkaitnya beragam kasus kejahatan di EDEN dengan para Eaters ini, Hudie pun memulai aksi mereka. Namun tentu saja, Hudie bukan satu-satunya kelompok hacker di dunia digital yang satu ini.

Lantas, apa itu Eaters? Mampukah Hudie menyelamatkan EDEN dari ancaman misterius yang terjadi? Lantas, siapa pula sosok hacker bernama “K” yang secara konsisten memberikan informasi pada Keisuke soal kejahatan yang terjadi? kamu harus memainkan Cyber Sleuth: Hacker’s Memory ini untuk mendapatkan jawabannya.

Dunia Modern

kamu hampir mustahil membicarakan Digimon tanpa membicarakan setting yang tentu saja, selalu mengambil tema futuristik, terutama di seri-seri terakhir. Jika sekedar berbicara soal sisi visual, maka tidak ada yang istimewa di game yang dirilis untuk Playstation 4 dan PS Vita ini. Visualisasi yang sedikit kartun dengan karakterisasi anime yang begitu kental, bahkan untuk beberapa trope yang ada, sepertinya jadi sesuatu yang mendefinisikan presentasi game yang satu ini. Bahkan percaya atau tidak, beberapa Digimon didesain sedemikian rupa untuk menyerupai karakter wanita dengan tampilan pakaian atau tubuh yang sensual pula. Salah satu contoh yang paling jelas adalah karakter bernama “Sistermon” yang untungnya di versi Asia Tenggara yang tim kapalan cicipi, tidak berakhir disensor seperti versi barat karena kedekatannya pada nilai keagamaan tertentu.

Cukup soal karakter dan presentasi, dan mari bicarakan setting. Tentu bukan yang pertama dan sepertinya tidak akan jadi yang terakhir, Cyber Sleuth menjadikan Tokyo sebagai “arena bermain” kamu. Ia memang sebuah game JRPG dengan tema urban yang kental, namun sayangnya, tidak membuatnya jadi basis permainan yang solid. kamu bisa mengunjungi beragam tempat di Tokyo, dari Nakano, Ikebukuro, hingga Shinjuku dengan layout yang juga dibangun cukup detail. Masalahnya? Alih-alih seperti Persona misalnya, yang memungkinkan kamu untuk melakukan beragam aktivitas di kota yang kaya dan padat ini, dari mencari uang tambahan hingga sekedar mencari teman kamu dan berinteraksi, Tokyo “milik” Hacker’s Memory ini berakhir hampa dan kosong. Selain toko berbelanja item yang bisa kamu kunjungi, satu-satunya alasan untuk memasuki beragam bagian toko Tokyo ini hanyalah untuk menyelesaikan syarat di misi utama atau sampingan yang ada. Sangat disayangkan.

Satu yang pasti, kamu tidak bisa membicarakan Digimon tanpa berfokus membahas si monster-monster itu sendiri. Seperti halnya seri Cyber Sleuth sebelumnya, Hacker’s Memory juga menyediakan ratusan Digimon untuk kamu gunakan dalam pertempuran, dari lintas generasi. kamu akan bertemu dengan Digimon-Digimon dari beragam level hingga varian dengan proses Digivolve yang dipaparkan cukup jelas. Tenang saja, kamu yang sekedar mengikuti seri Digimon di awal dengan informasi yang tidak terlalu diperbaharui untuk seri-seri terbaru masih akan mendapatkan Digimon yang kamu kenal di sini. Berita baiknya? Dengan ragam skill yang bisa digunakan, animasinya sendiri cukup solid ketika kemampuan unik masing-masing ini dipakai. Sayangnya, untuk serangan biasa, animasi ini tidak berakhir unik.

Salah satu aspek presentasi yang pantas untuk diacungi jempol juga mengakar pada musik pengiring yang ditawarkan. Sejujurnya, dengan tema futuristik yang ia usung, tim kapalan sendiri mengantisipasi genre musik yang akan lebih mengarah ke tekno / dub-step. Namun untungnya, tidak demikian. Menjadi salah satu aspek yang menonjol, musik yang ditawarkan dari sekedar menjelajahi sudut Tokyo, masuk ke dunia digital, hingga bertarung dengan para monster yang ada akan cukup membuat telinga kamu termanjakan. Tidak akan sampai pada tahap membuat kamu merinding dan sejenisnya karena absennya lirik, tetapi cukup untuk membuat pengalaman bermain kamu tetap nyaman.

Dari sisi presentasi, apa yang ditawarkan Hacker’s Memory memang tidak bisa dibilang istimewa. Pada akhirnya, ia berperan selayaknya sebuah game JRPG, dalam format yang terhitung sederhana.

Gunting-Batu-Kertas

Jika kamu pernah mencicipi seri Digimon di era platform gaming masa lampau dan berharap menemuka sebuah game Digimon yang benar-benar meminta untuk memelihara dan memperkuat setiap Digimon yang kamu dapatkan layaknya binatang peliharaan, maka game yang satu ini bukan untuk kamu. Secara sederhana, kita bisa mengklasifikasikan Cyber Sleuth: Hacker’s Memory ini sebagai game JRPG klasik yang menjadikan Digimon-Digimon yang berhasil kamu dapatkan, sebagai pejuang di garis depan. Semua hal yang melekat pada JRPG klasik, dari sistem turn-based hingga skill yang mengkamulkan MP misalnya, ditawarkan di sini.

Tentu saja, seperti halnya game Digimon pada umunya, ia akan terbagi ke dalam beragam varian dan kelas yang berbeda, dengan kelas yang makin tinggi berarti akses pada varian skill lebih banyak, lebih kuat, dengan HP lebih tebal, dan berpotensi menghadirkan damage lebih besar. Sistem pertarungannya sendiri, terhitung sederhana. Mengaplikasikan sistem gunting-batu-kertas, Digimon akan dibagi menjadi tiga varian besar: Data, Vaccine, dan Virus. Satu tipe akan lebih efektif melawant tipe yang lain. Vaccine mengalahkan Virus, Virus mengalahkan Data, dan Data mengalahkan Vaccine. Jika kamu menyerang monster musuh yang variannya berseberangan dengan kamu, dimana posisi varian kamu lebih kuat, maka damage akan masuk sekitar 2 sampai 3 kali lipat. Jika sebaliknya, maka damage hanya akan dihitung setengah saja. Tidak hanya serangan fisik saja, konsep ini juga terjadi untuk semua varian skill yang keluar dari 1 Digimon yang sama.

Oleh karena itu, menjadi sebuah strategi yang rasional untuk membawa setidaknya tiga buah varian Digimon yang berbeda dalam party untuk memastikan kamu selalu punya “jawaban” untuk masalah yang muncul ini. Menggunakan Digimon yang tepat untuk menyerang Digimon musuh yang jadi kelemahannya adalah strategi terbaik yang tidak bisa diganggu gugat di game ini. Berita baiknya? Walaupun hanya bertarung dengan tiga Digimon sebagai party utama, kamu selalu bisa membawa Digimon cadangan di slot “Reserve” hingga 8 buah, dengan masing-masing dari mereka juga akan mendapatkan experience points walaupun tidak ikut bertarung. Berita buruknya? kamu tidak bisa mengisi slot-slot ini begitu saja. Ada resource terbatas bernama “Memory” yang akan digunakan untuk menampung Digimon yang kamu bawa. Setiap Digimon akan punya jumlah Memory yang dibutuhkan, dimana semakin kuat variannya semakin banyak pula memory yang dibutuhkan. Jika jumlah Digimon melebihi kapasitas, kamu tidak akan bisa membawa lebih banyak Digimon lagi.

Dengan sistem turn-based yang gilirannya bisa kamu lihat di layar sepertinya halnya sistem serupa di Final Fantasy X, penentuan strategi serang ataupun bertahan menjadi tidak terlalu sulit. Selain gerakan stkamur seperti menyerang, menggunakan skill, atau bertahan seperti game JRPG pada umumnya, kamu juga bisa meminta Digimon kamu untuk bertukar tempat dengan slot cadangan jika itu memang esensial untuk strategi kamu, dengan tentu saja – mengorbankan satu turn serangan. Di beberapa kesempatan, gameplay JRPG klasik turn-based ini dipresentasikan dalam format yang berbeda. Sesuatu yang disebut sebagai Domination Battle. Basis pertempuran masih sama, namun kamu kini akan dibawa ala game strategy ke dalam sebuah ruang yang dibagi ke dalam titik-titik kecil yang biasanya, akan memuat setidaknya tiga orang dalam satu tim. Menguasai titik-titik ini dan mengalahkan tim lain dengan turn yang terbatas jadi tantangan utama. Beberapa misi Domination ini meminta kamu mengalahkan total tim musuh, sementara yang tidak sedikit pula yang “sekedar” berbasis skor akhir saja. Setidaknya, sistem seperti ini membuatnya tidak monoton.

Namun sayangnya, di sisi lain, sistem gunting-batu-kertas seperti ini membuat Cyber Sleuth: Hacker’s Memory ini berakhir tidak menantang di urusan tingkat kesulitan. Apalagi dibantu dengan indikator dengan warna merah (untuk kuat) dan biru (untuk lemah) yang selalalu terlihat setiap kali kamu berupaya untuk menyerang musuh yang kamu temui, sebagian besar berjalannya pertarungan berakhir dengan sekedar memilih opsi yang ada dan tidak lebih. Tidak ada keharusan untuk mempelajari musuh yang baru kamu temui, berstrategi untuk mengalahkan musuh yang lebih kuat, atau sekedar menempuh ragam strategi berbeda untuk musuh yang berbeda pula. Semuanya sesederhana memainkan gunting-batu-kertas dalam format animasi serangan yang keren. Itu saja. Bahkan di belasan jam permainan setelahnya sekalipun, kamu akan tetap “aman” selama sudah ditenagai oleh Digimon dengan varian lebih kuat di dalam party. Maka sensasi gameplaynya memang cenderung serupa, walaupun dungeon yang kamu libas, terus berbeda.

Kedekatan kamu dengan Digimon yang kamu pilih dalam pertempuran pun, seperti halnya sistem party member di game JRPG lain, tidak lagi dipilih berdasarkan sesuatu yang personal. Bahwa monster-monster ini terasa tidak lebih dari sekedar mesin perang kamu, dan tidak lebih. Salah satu alasannya karena betapa mudah dan tidak repotnya untuk mengembangkan setiap Digimon ini ke varian yang lebih kuat, tanpa perlu membuat kamu harus menghabiskan waktu dan memerhatikan detail yang ada seperti halnya kamu tengah memerhatikan binatang peliharaan kamu misalnya. Sebagian besar syarat untuk Digivolve dipaparkan secara terbuka, tanpa syarat yang berbelit, dan seringkali berakhir untuk meminta kamu mencapai level tertentu saja dengan angka di bagian status yang spesifik. kamu tidak akan punya keterikatan emosional dengan apapun Digimon yang kamu pilih.

Setidaknya, pendekatan seperti ini membuat kamu tidak perlu terlibat dalam “omong-kosong” skema progress Digimon yang lambat. Dengan sistem “Reserve” untuk Digimon yang kamu bawa tetap mendapatkan EXP dari pertempuran, kebutuha untuk proses Digivolve menjadi varian yang lebih kuat tentu lebih sederhana. Lantas, bagaimana dengan Digimon lainnya yang tak bisa masuk ke dalam party kamu? Ada sebuah fitur bernama DigiFarm yang disebut sebagai “rumah” untuk Digimon kamu. Melalui masing-masing Farm Land yang bisa diciptakan dan diperluas dengan item tertentu, kamu bisa menempatkan tidak kurang dari 10 buah Digimon di dalamnya. Lewatnya, kamu bisa meminta kelompok Digimon ini untuk melakukan satu dari tiga hal yang ada: Latihan, mencari item / kasus untuk dijadikan misi sampingan agar bisa diselesaikan karakter utama, atau membangun item dengan menggunakan uang dalam jumlah tertentu. Semua aktivitas ini akan membutuhkan waktu tertentu untuk diselesaikan.

Dengan kombinasi sistem seperti ini, memastikan progress Digimon terus berlanjut walaupun tidak ikut berperan secara aktif dalam pertempuran menjadi begitu sederhana. Proses mendapatkan Digimon baru juga tidak begitu sulit. Tidak seperti Pokemon atau Persona yang meminta kamu menempuh aksi tertentu, dari menangkap hingga bernegosiasi untuk bisa mendapatkan monster tertentu, Hacker’s Memory hanya meminta untuk kamu untuk melawan dan menundukkan setiap dari mereka. Setiap kali pertemuan dengan varian Digimon tertentu, kamu akan mendapatkan data dalam bentuk persentase yang akan terakumulasi sesuai dengan frekuensi kamu berhadapan dengan mengalahkan Digimon tersebut. Begitu persentase tersebut mencapai angka 100%, kamu bisa melakukan proses “DigiConvert” dan menjadikan mereka sebagai bagian dari tim kamu. kamu bisa terus melawan musuh yang sama untuk mencapai data hingga 200% untuk memunculkan varian Digimon yang sama, tetapi punya status lebih kuat. Tidak hanya bisa dikembangkan saja, kamu juga bisa “mengorbankan” 5 buah Digimon setiap kali untuk dikonversi menjadi EXP Points demi memperkuat Digimon utama yang kamu pakai. Tenang saja, karena tidak ada keterikatan emosional, kamu tidak akan merasa bersalah melakukan aksi yang satu ini.

Maka sisanya, kamu akan bertemu dengan game JRPG stkamur dengan mekanisme yang super sederhana. Menyelesaikan misi, menundukkan tantangan yang ada, memperkuat Digimon kamu lewat proses Digivolve, dan terus mengumpulkan item-item dan accesories esensial untuk memperkuat diri. Tidak ada sesuatu yang baru dan begitu revolusioner akan kamu temukan di sini. Salah satu hal yang mungkin sedikit berbeda mungkin terletak pada sistem “Field Skill” saja – skill yang bisa digunakan Keisuke selama proses eksplorasi untuk menyelesaikan puzzle atau mengaktifkan efek tertentu.

Sayangnya, Misi Sampingan yang Repetitif

Tetapi untuk ukuran sebuah game JRPG, Cyber Sleuth: Hacker’s Memory memang tidak bisa dibilang sempurna. Walaupun mengusung gameplay yang hampir serupa, sulit rasanya untuk tidak membandingkan hal-hal yang dilakukan begitu tepat oleh game JRPG yang lain dengan format yang sama, tetapi gagal ditawarkan oleh game racikan Bkamui Namco yang satu ini. Salah satu yang menurut tim kapalan paling mengecewakan, adalah desain misi sampingan yang ada.

Bayangkan, kamu tengah berhadapan dengan sebuah game JRPG yang memuat setting dan arena beragam sudut kota Tokyo dalam detail yang pantas untuk diacungi jempol. Alih-alih memanfaatkan area-area ini sebagai “pusat” misi sampingan yang meminta kamu untuk keluar, melakukan eksplorasi untuk memicunya, atau menambahkan mungkin – beragam misi sampingan yang terasa acak misalnya, Cyber Sleuth: Hacker’s Memory justru mendesain tampilnya misi sampingan lewat hanya satu tempat saja. Sebuah tempat yang disebut sebagai BBS – atau Bulletin Board yang diceritakan, merupakan tempat Hudie mendapatkan permintaan penyelesaian masalah. Semua misi utama dan misi sampingan yang bisa kamu selesaikan akan muncul otomatis di menu board super datar nan tak menarik ini. Sisanya? kamu hanya perlu memilih misi sampingan, menyelesaikannya, dan terkadang keluar ke kota sekedar sebagai syarat. Bagaimana developer ini tidak terpikirkan untuk mengadaptasikan sistem pengambilan misi sampingan yang lebih baik dan lebih hidup seperti yang tim kapalan bicarakan di awal paragraf? tim kapalan juga bingung.

Fakta bahwa segala sesuatunya bisa diambil dan dieksekusi dari BBS diperparah pula dengan desain misi sampingan yang harus diakui, juga lambat dan terasa repetitif. Lambat dalam pengertian, bahwa sebagian besar kasus ini berakhir meminta kamu untuk bercakap-cakap atau menikmati cut-scene yang ada lebih lama, dibandingkan dengan aksi pertarungan yang biasanya bisa diselesaikan dalam waktu hitungan menit saja. Lebih parahnya lagi? Misi-misi ini juga berakhir meminta kamu melakukan hal-hal yang klise, melakukan investigasi untuk kasus tertentu, mencari barang hilang, atau mengalahkan tim hacker jahat yang lain. Jika itu tidak cukup membosankan untuk kamu, arena “digital” yang jadi area eksplorasi kamu juga sangat terbatas. Tidak jarang bahwa satu daerah yang sama, misalnya “Under Kowloon” sebagai contoh di Eden, dijadikan tempat untuk berbelas-belas misi sampingan dan misi utama, membuat kamu harus melewati tempat yang sama berulang, dan berulang, dan berulang, dan berulang, dan berulang. Hingga setidaknya, cerita menawarkan tempat bertarung baru, dan kemudian siklus ini terjadi lagi.

Sayangnya, hal yang sama juga tim kapalan rasakan di misi utama yang ada. Bahwa cerita seorang hacker muda yang ingin mendapatkan kembali identitas online dirinya sendiri berakhir menjadi sebuah kisah klise yang melibatkan begitu banyak pihak, namun penjelasan yang minim atau alasan yang kuat mengapa kamu harus peduli. Seperti sebuah anime, kamu seperti mendapatkan begitu banyak filler tidak esensial yang juga tidak memberikan kontribusi apapun pada progress cerita yang ada. Hasilnya? Pace cerita terasa sangat lambat. Sesuatu yang harusnya menarik dan lebih potensial untuk menangkap perhatian jika diselesaikan cepat, berakhir jadi kisah penuh percakapan dan cut-scene tidak menarik untuk sesuatu yang reward-nya terasa tidak sepadan dengan waktu yang dihabiskan. Untuk kamu yang mudah merasa bosan, ini akan jadi siksaan tersendiri.

Kesimpulan

Untuk sebuah game JRPG pembuka tahun, Digimon Story – Cyber Sleuth: Hacker’s Memory adalah sebuah game RPG yang terhitung stkamur. Solid, tidak buruk, tetapi tidak istimewa di saat yang sama. Ini sepertinya lebih diarahkan untuk gamer penggemar Digimon yang memang menginginkan sebuah game yang memungkinkan mereka untuk memilih dan bertarung dengan ratusan varian yang disediakan, sembari mempertahankan ragam animasi serangan spesial yang memang identik dengannya. Ada banyak hal yang mungkin akan membuat para penggemar jatuh cinta, dari setting Urban hingga proses Digivolve yang begitu sederhana dan mudah dikuasai. Konsep penguatan karakter Digimon yang tidak bertele-tele lewat sistem Reserve dan juga Farm Island membuatnya tidak terasa melelahkan. Di atas kertas, terlepas dari beragam kekurangan yang ada, ia adalah sebuah game JRPG dengan tema Digimon yang masih pantas untuk dicicipi.

Namun mau tak mau, harus diakui, Hacker’s Memory bukanlah sebuah game yang sempurna. Salah satu masalah terbesar yang menurut tim kapalan mencederai gameplay yang adalah kengganan untuk memanfaatkan dengan lebih potensial, setting urban Tokyo yang ia usung, untuk berkontribusi lebih besar pada gameplay. Alih-alih menambahkan dan memperkayanya dengan misi sampingan atau ragam aktivitas sampingan layaknya game-game JRPG kompetitor, ia tidak lebih dari sejenis dekorasi dan tempat untuk menempatkan clue untuk misi utama dan misi sampingan, dengan interaktivitas begitu minim. Desain misi sampingan yang repetitif juga jadi masalah lain yang tidak kalah, krusial.

Tetapi terlepas dari semua kekurangan tersebut, Digimon Story – Cyber Sleuth: Hacker’s Memory jadi game JRPG pembuka tahun 2018 yang menarik. kamu akan bisa sangat menikmatinya jika kamu memenuhi dua syarat ini: kamu memang cinta berat dengan Digimon sebagai franchise dan kamu tidak mengantisipasi sesuatu yang begitu istimewa atau revolusioner dengannya. Apakah kamu yang tidak familiar dengan Digimon bisa mencicipinya? Tentu saja, tetapi kehilangan daya tarik dan rasa penasaran untuk proses Digivolve yang seharusnya, menjadi salah satu akar pengalaman yang ada.

Kelebihan

  • Sistem perkembangan Digimon yang sederhana
  • Konsep JRPG klasik
  • Sistermon
  • OST yang cukup asyik
  • Detail untuk Digimon yang fantastis
  • Tidak butuh grinding

Kekurangan

  • Misi mudah terasa repetitif
  • Kota tidak menarik untuk dijelajahi
  • Tingkat kesulitan terasa mudah
  • Cerita terasa bertele-tele
  • Tidak ada perasaan terikat emosional dengan Digimon yang kamu pilih
  • Desain level di dunia digital yang tidak terasa kreatif