Final Fantasy X & X-2 HD Remaster | Upgrade Visual Serial Sebelumnya

final fantasy x & x-2 hd remaster

Final Fantasy, judul game yang satu ini memang begitu disegani dan dinantikan oleh setiap gamer penggemar JRPG di masa lalu. Keberanian Squaresoft di kala itu untuk terus berinovasi, menjajal segudang mekanik gameplay yang baru, sekaligus mendefinisikan ulang setiap seri dengan pengalaman dan sensasi yang berbeda menjadi faktor yang begitu menentukan kesuksesan franchise yang satu ini. Tidak hanya sekedar populer, Final Fantasy tumbuh menjadi simbol kekuatan JRPG dan roda pendorong bagi developer lain untuk bermain di pasar yang sama. Kualitas visual, desain karakter dan dunia Final Fantasy juga diakui sebagai salah satu yang terbaik di masa lalu. Tidak ada gamer di era keemasan Playstation yang tidak terpesona melihat FMV awal Final Fantasy VIII atau pertarungan Bahamut VS Alexander di FF IX. Hampir semua gamer jatuh cinta pada pesona Final Fantasy.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika banyak gamer yang begitu mendambakan kehadiran Final Fantasy X. Setelah kesuksesan tiga seri terakhir di Playstation pertama, Final Fantasy X yang dibangun untuk Playstation 2 memang tampil sangat menggoda. Platform yang lebih kuat memungkinkan Squaresoft menyuntikkan kualitas visual yang jauh lebih baik. Tidak hanya itu saja, penggunaan keping DVD untuk pertama kalinya memberikan lebih banyak ruang eksperimen untuk menyempurnakan Final Fantasy X. Ia akhirnya dilahirkan menjadi seri Final Fantasy pertama yang menawarkan full voice acts untuk sebagian besar percakapan yang ada. Tidak hanya itu saja, desain dua karakter utama – Tidus dan Yuna yang secara eksplisit terlibat dalam hubungan yang romantis menjadi yang pertama dari sejarah eksistensi Final Fantasy.

Dengan begitu banyak momen memorable yang dihasilkan dari seri perdana Playstation 2 ini, banyak gamer yang sangat menantikan kehadiran seri HD Remaster yang sudah diperkenalkan Square Enix jauh-jauh hari.Tidak hanya mengklaim akan mengusung kualitas definisi tinggi yang pantas untuk platform generasi yang lalu, Final Fantasy X / X-2 HD Remaster juga akan mengusung beberapa ekstra konten baru – termasuk penggunaan musik yang diaransemen ulang dan kehadiran sebuah chapter audio yang akan mengisahkan perjalanan Tidus dan Yuna setelah Final Fantasy X-2. Untuk semua alasan inilah, Final Fantasy X / X-2 HD Remaster menjadi proyek impian untuk gamer yang memiliki Playstation 3 dan Playstation Vita.

Lantas seberapa signifikan perubahan yang ditawarkan dari versi Playstation 2 dan HD Remaster ini? Review ini akan membantu Anda mendapatkan sedikit gambaran ekstra.

Final Fantasy X

Final Fantasy X adalah seri Final Fantasy pertama untuk Playstation 2, yang dikala itu memang tengah dipuja-puja sebagai konsol “masa depan”. Benar saja, berbeda dengan seri-seri sebelumnya, Squaresoft di kala itu berusaha memberikan pengalaman yang lebih optimal, lewat beragam inovasi dari sisi visual, audio, dan tentu saja gameplay. Walaupun masih berbasis ATB sebagai core mekanisme gameplay-nya, Final Fantasy X hadir dengan sensasi pertempuran yang terasa jauh lebih aktif. Anda diperkenankan untuk mengganti party secara instan dalam pertarungan untuk mengeksploitasi kelemahan lawan. Visualisasi para summon “Aeon” yang begitu manis, serta serangkaian side quest yang menantang juga mewarnai seri Final Fantasy yang satu ini.

Apakah Lebih Baik dengan HD Remaster?

Seperti halnya proyek-proyek HD Remaster yang lain, Final Fantasy X HD Remaster sama sekali tidak memberikan ekstra konten apapun yang mengubah jalan cerita dari versi originalnya. Berjalan di framerate yang relatif sama, perubahan yang paling signifikan tentu saja ada pada sisi visual yang kini tampil dalam kualitas definisi tinggi. Secara kasat mata, Anda mungkin akan melihat visualisasi yang lebih halus. Namun seiring dengan berjalannya permainan, efek yang disuntikkan Square Enix justru menjadi blunder tersendiri. Untuk memastikan texture terlihat high-def, muka karakter sekelas Tidus atau Wakka kini terlihat terlalu licin, seperti dibangun dari plastik dan justru membuat karakter-karakter ini terlihat aneh. Sementara di karakter wanita seperti Yuna dan Rikku, formula ini bekerja dengan lebih baik.

Satu yang cukup menarik adalah fakta bahwa Final Fantasy X juga menawarkan Anda dua alternatif Sphere Grid yang bisa digunakan di awal permainan untuk mengakomodasi gaya bermain Anda – Standard dan Expert. Keduanya memiliki penempatan grid yang berbeda, dengan fokus yang akan mempengaruhi arah gerak perkembangan setiap karakter yang Anda gunakan. Perubahan juga terjadi di sisi audio yang kini terdengar lebih “modern”, terutama dari beragam theme song yang di-remaster ulang. Sementara di sisi visual FMV yang hadir, terlepas dari resolusi rendah yang masih terasa kentara, setiap FMV ini masih tampil dalam kualitas yang cukup tajam. Final Fantasy X juga menyematkan Final Fantasy X – Eternal Calm di dalamnya.

Final Fantasy X-2

Sejujurnya, kami sendiri merupakan salah satu simpatisan yang menolak kehadiran Final Fantasy X-2 di masa lalu. Mengapa? Ending Final Fantasy X yang dramatis dan menggugah emosi dirasa kami sudah cukup pantas untuk menutup seri ini dengan sangat manis dan berkesan. Namun dengan gelombang protes yang ternyata lebih kuat mendukung ending bahagia untuk pasangan Tidus dan Yuna, Squaresoft akhirnya untuk pertama kali – merilis sebuah seri Final Fantasy yang merupakan sekuel dari seri Final Fantasy sebelumnya. Tidak hanya itu saja, ini juga pertama kalinya Final Fantasy menjadikan wanita sebagai tokoh heroine utama dengan sistem pertempuran berbasis dress dan job yang sempat menjadi identitas seri Final Fantasy yang lebih lawas.

Apakah Lebih Baik dengan HD Remaster?

Dirilis lebih lambat, kualitas visualisasi Final Fantasy X-2 memang tampil lebih baik daripada seri FF X, terutama dari detail ekspresi wajah yang terlihat lebih hidup. Wajah tiga karakter utama – Yuna, Paine, dan Rikku kini bisa bergerak bebas memperlihatkan emosi yang sesuai dengan kondisi yang tengah dihadapi. Mungkin karena hal inilah, proses HD Remaster berjalan lebih baik di Final Fantasy X-2 daripada di X. Walaupun terlihat cukup aneh ketika karakter hanya diam, namun detail terlihat lebih memanjakan mata ketika mereka berekspresi di setiap cut-scena yang ada. Detail pakaian para karakter yang menjadi fokus juga terlihat lebih manis dengan efek shadow yang kini terasa lebih kentara dibandingkan versi originalnya.

Seperti perlakuan sama yang diterima oleh FF X, Final Fantasy X-2 juga mendapatkan aransemen ulang beberapa track audio ikoniknya, yang kian memanjakan telinga. Dari sisi gameplay dan battle, hampir tidak ada yang berbeda dengan seri originalnya, sama persis dengan apa yang sempat Anda cicipi di versi Playstation 2 dulu. Salah satu yang menarik mungkin ada pada detail FMV yang terlihat cukup detail terlepas dari gerakan cepat yang ada. Final Fantasy X-2 juga memuat Final Fantasy X-2: Last Mission sebagai misi sampingan ekstra dengan gaya gameplay yang jauh berbeda.

Cerita Setelah FF X / FF X-2

Pada akhirnya, daya tarik utama proyek HD Remaster yang singgah di Playstation 3 dan PS Vita ini memang harus diakui, terletak pada ekstra konten 30 menit yang disuntikkan Square Enix di dalamnya. Berangkat dari timeline 3 tahun setelah Yuna menyelamatkan Spira dari ancaman monster raksasa Sin, Anda akhirnya berkesempatan untuk mencari tahu kisah kelanjutan yang terjadi dengan Yuna, Tidus, Lulu, Wakka, dan Kimahri setelah event historis tersebut. Benang merah tersebu berusaha diurai kembali lewat sebuah audio log yang diintegrasikan ke dalam credits.

Lewat kacamata dua karakter baru – Kurgum dan Chuami, kita berkesempatan untuk “menjelajahi” kembali Spira dan bertemu dengan karakter-karakter ikonik yang bertarung bersama untuk menyelamatkan Spira. Kurgum merupakan summoner yang kini beralih fungsi menjadi seorang Sender setelah hilangnya Fayth dan Sin. Sementara Chuami merupakan sang guardian yang akan terus berusaha melindunginya. Sebuah fenomena aneh yang terjadi akhirnya mendorong Chuami dan Kurgum untuk mencari kebijaksanaan dari Yuna. Dari audio ini, Anda bisa melihat, tidak hanya konflik baru yang muncul kembali mengancam Spira, tetapi juga dinamika hubungan Tidus dan Yuna yang kini menua.

Bagaimana hubungan Tidus dan Yuna selepas perjalanan melelahkan mereka melindungi Spira? Siapa sebenarnya Chuami? Lantas konflik baru apalagi yang mengintai? Semua pertanyaaan ini akan terjawab dari audio log yang ada.

Kesimpulan

Dengan perubahan konten yang sama sekali nihil dan penambahan ekstra drama 30 menit yang tidak terasa signifikan sebagai bumbu hubungan antara Tidus dan Yuna, sangat jelas bahwa target Final Fantasy X / X-2 HD Remaster ini memang tertuju pada dua kelompok gamer: Pertama, yang tidak sempat mencicipi seri ini di masa keemasan Playstation 2 dulu, atau kedua – sekedar ingin bernostalgia kembali dengan salah satu seri Final Fantasy terbaik yang pernah dirilis ke industri game.
Nama “HD Remaster” memang bukan hal asing di industri game dan sayangnya, tidak selalu berujung pada proyek yang menghasilkan respon positif dari kacamata para gamer. Tidak jarang yang terjadi justru kesan bahwa para publisher kelas kakap hanya berusaha mengeruk keuntungan cepat lewat proses ini tanpa menawarkan sesuatu yang membuatnya pantas dibeli dengan harga cukup tinggi. Namun untungnya, bukan kesan seperti inilah yang akan Anda dapatkan dari Final Fantasy X / X-2 HD Remaster. Peningkatan kualitas visual menjadi definisi tinggi yang ditawarkan Square Enix memang membuat game ini tampil lebih baik, walaupun kesan “karakter lilin” yang kentara di seri FF X-nya sendiri. Tidak hanya itu saja, aransemen audio yang lebih modern, sistem battle dan cerita yang masih sama menarik dan adiktifnya, dan tentu aja ekstra konten audio untuk melanjutkan saga ini tentu saja menjadi nilai jual yang sangat sulit untuk ditolak.

Dari semua proyek HD Remaster yang ada, Final Fantasy X / X-2 HD Remaster ini boleh terbilang sebagai yang paling minim masalah. Ketika proyek serupa sekelas Resident Evil, Silent Hill, atau Devil May Cry HD Collection hadir dengan kualitas FMV “murahan” yang dipaksa muat ke definisi tinggi dengan detail gambar yang buruk dan hancur, kesalahan yang sama tidak terjadi di Final Fantasy X / X-2 HD Remaster dari Square Enix ini. Anda akan bisa menikmatinya tanpa keluhan yang memadai. Bahkan boleh dibilang, kualitas yang ia tawarkan masih bisa disejajarkan dengan game-game yang masih dirilis di Playstation 3 atau Xbox 360.

Namun dengan perubahan konten yang sama sekali nihil dan penambahan ekstra drama 30 menit yang tidak terasa signifikan sebagai bumbu hubungan antara Tidus dan Yuna, sangat jelas bahwa target Final Fantasy X / X-2 HD Remaster ini memang tertuju pada dua kelompok gamer: Pertama, yang tidak sempat mencicipi seri ini di masa keemasan Playstation 2 dulu, atau kedua – sekedar ingin bernostalgia kembali dengan salah satu seri Final Fantasy terbaik yang pernah dirilis ke industri game. Terlepas apapun alasan Anda, Final Fantasy X / X-2 HD Remaster tetaplah seri Final Fantasy yang sama memukaunya, sama dramatisnya, sama kerennya, hanya saja kini – hadir dengan visualisasi yang lebih memanjakan mata. Ini menjadi alasan yang cukup kuat untuk menarik minat para gamer JRPG klasik yang sudah haus ingin mencicipi sensasi masa lampau kembali tetapi dengan visual yang lebih pantas.