Kingdom Hearts 3 – Serial Terakhir Square Enix

kingdom hearts 3

Tim kapalan berkesempatan melakukan review Game Kingdom Hearts III. Rumit adalah kata yang tepat untuk menggambarkan franchise Kingdom Hearts, hasil kerjasama pengembang seri Final Fantasy, Square Enix, dengan Walt Disney. Bagaimana tidak, franchise tersebut memiliki kisah yang begitu ruwet dan berantakan, mendobrak batas waktu serta ruang, hingga 13 game saja tak cukup untuk menjelaskan semuanya. Menurut Tim kapalan, hanya orang yang sabar dan berdedikasi tinggi mampu memecahkan semua untaian kisah besar seri game yang tahun ini berusia 17 tahun itu.

Seri Terakhir yang Bikin Puas Lahir Batin

Tahun ini, setelah penantian selama 14 tahun dan 10 game sampingan, akhirnya Square dan Disney merilis game yang diklaim sebagai seri penutup, Kingdom Hearts III. Sang sutradara, Tetsuya Nomora, dalam berbagai kesempatan berjanji bahwa para fans setia Kingdom Hearts akan menemukan kepuasan lahir batin dengan seri terakhir ini. Kepuasan tersebut mulai dari berakhirnya keruwetan kisah Kingdom Hearts hingga gameplay yang memanjakan mata.

Pertanyaannya sekarang, apakah benar? Menurut Tim kapalan, Tetsuya tidak membuat klaim berlebihan. Kingdom Hearts III, yang mengeksploitasi penuh perpustakaan animasi Disney dan Role Playing Game (RPG) milik Square tersebut, memang game yang bisa dikatakan memuaskan. Gameplaynya ciamik, kisahnya pun membetot otak walaupun tetap tiada ampun bagi yang setengah-setengah mengikuti keseluruhan kisah Kingdom Hearts yang tersebar di berbagai platform mulai dari PlayStation 2 hingga smartphone.

Salah satu bukti tiada ampunnya Kingdom Hearts III bagi mereka yang tidak mengikuti kisahnya secara lengkap adalah setting waktu yang diambil. Kingdom Hearts III mengambil waktu beberapa menit setelah ending Kingdom Hearts: Dream Drop Distance yang dirlis untuk platform Nintendo 3DS 7 tahun lalu. Jika belum pernah memainkan game tersebut atau minimal mengikuti ceritanya, dijamin bertanya-tanya ketika memulai Kingdom Hearts III untuk pertama kalinya.

Pencarian Sora

Pada bagian akhir Dream Drop Distance, tokoh utama seri Kingdom Hearts, Sora dikisahkan gagal menjalani ujian Keyblade Master. Penyebabnya, karena ia gagal mengendalikan “kegelapan” di dalam hatinya dan nyaris dirasuki oleh Xehanort, antagonis utama seri Kingdom Hearts. Xehanort sendiri, mudahnya bisa dikatakan sebagai Thanos-nya seri Kingdom Hearts.

Xehanort memiliki misi suci, menyeimbangkan “Kegelapan” dan “Cahaya” di dunia yang akan menentukan perwujudan Kingdom Hearts, pusat segala hati baik yang diselimuti kegelapan ataupun tidak. Menurut Xehanort, “Cahaya” telah mengambil posisi yang terlalu dominan di dunia sehingga satu-satunya cara untuk menyeimbangkannya adalah memperkuat “Kegelapan”.

Xehanort sadar betul bahwa memperkuat “Kegelapan” berisiko memicu masalah baru, perperangan baru. Namun, dengan rasa percaya diri dan ego yang begitu tinggi, ia menyakini bahwa dirinya akan bertahan untuk mengetahui apa yang terjadi dengan semesta jika tercipta keseimbangan baru. Ia hanya peduli dengan pengetahuan baru sehingga siapapun yang menghalanginya akan ia habisi.

Sora, yang ditemani sahabatnya, Riku, dan tiga ikon Disney yaitu Miki Tikus, Donal Bebek, dan Gufi menjadi sosok yang berusaha menghentikan misi Xehanort di Kingdom Hearts III. Sayangnya, Sora kehilangan sebagian besar kekuatannya pada game Dream Drop Distance sehingga sebagian kisah utama Kingdom Hearts III adalah perjalanannya untuk menemukan kembali kekuatannya yang hilang.

Potongan Puzzle yang Harus Disatukan

Menjelaskan kisah Kingdom Hearts III tanpa membeberkan terlalu banyak detil bukanlah perkara gampang. Terlalu sedikit, gamer bisa kebingungan harus mulai mencerna kisahnya dari mana. Sementara itu, jika membuka terlalu banyak, bisa mengurangi keasyikan game ini. Salah satu keasyikan game Kingdom Hearts III adalah menyusun kembali potongan puzzle dari kisah-kisah game sebelumnya. Jika berhasil, gamer akan mendapatkan kepuasan tersendiri.

Jika memungkinkan, Tim kapalan sangat merekomendasikan gamer untuk memainkan kembali seluruh game Kingdom Hearts sebelum Kingdom Hearts III. Beruntung, Square dan Disney beberapa bulan lalu sudah meluncurkan kompilasi game-game Kingdom Hearts untuk console PlayStation 4 dan Xbox One yang dirasa esensial untuk mendapaTkan gambaran besar narasi Kingdom Hearts. Namun, jika tidak sempat untuk memainkan semuanya, menu flashback di Kingdom Hearts III juga lumayan membantu walaupun tidak disampaikan secara kronologis.

Untungnya, sebagaimana telah disebutkan, Square menyeimbangkan kerumitan kisah game ini dengan gameplay hack and slash yang ciamik. Tetsuya Nomura, selaku sutradara game ini, memperbarui semua rangkaian pergerakan Sora, Gufi, Donal, dan Miki di game ini agar tidak terlalu menyerupai game-game sebelumnya. Hasilnya, gaya menyerang di Kingdom Hearts III lebih atraktif, kreatif, cepat, brutal, namun juga jenaka.

Ritme Permainan

Pada awalnya, gamer mungkin akan menemukan sedikit kesulitan untuk mendapatkan ritme dari gaya permainan yang lebih cepat ini. Salah satunya, karena banyaknya rangkaian pergerakan yang harus diingat plus gaya menyerang Sora yang berubah mengikuti jenis senjata (keyblade) yang digunakan gamer.

Sebagai contoh, jika Sora menggunakan keyblade yang ia dapat dari setting kartun Hercules, Sora akan menggunakan gaya menyerang jarak dekat yang lebih rentan atas serangan balik musuh. Sementara itu, jika Sora menggunakan keyblade yang menonjolkan sihir, ia akan dominan menggunakan serangan jarak jauh walaupun secara kekuatan lebih lemah.

Hal tersebut belum termasuk fitur yang disebut Attraction Flow. Menggunakan command Attraction Flow, Sore bisa menggunakan wahana hiburan Disney Land untuk melancarkan serangan tambahan ke musuh. Wahana yang bisa ia pakai mulai dari wahana bianglala, cangkir, kora-kora, roller coaster, dan masih banyak lagi. Untungnya, wahana-wahana tersebut memiliki kendali yang relatif sederhana.

Jika gamer berhasil menemukan ritme dari gameplay yang baru ini, maka dijamin game ini tidak akan terasa membosankan. Membasmi musuh menjadi terasa sangat menyenangkan karena gamer bisa menggunakan berbagai jenis gaya serangan yang bisa dipadu padankan dengan berbagai wahana milik Disney Land untuk daya rusak yang lebih dahsyat.

Visual yang Ciamik

Di samping cerita yang seru serta gameplay yang kreatif, Kingdom Hearts juga memiliki tampilan visual yang indah. Mengandalkan Unreal Engine 4, Square berhasil menampillkan grafis yang nyaris menyerupai film-film animasi buatan Pixar yang detil dan penuh warna. Keindahan visual itu makin lengkap dengan frame rate yang konsisten di angka 60 fps (frame per second) yang sangat membantu untuk mewujudkan gameplay yang cepat dan mulus.

Adapun kekurangan dari game ini, yang dirasakan Tim kapalan, adalah dunia permainan yang kelewat besar dan sulit dihapal. Hal itu diperparah dengan peta yang tidak mampu memberikan arahan secara jelas perihal mana jalur utama dan tidak. Diferensiasi jalur utama dan tidak, menurut Tim kapalan, adalah hal penting karena akan membantu gamer untuk menentukan ritme permainannya.

Gamer yang menggemari eksplorasi, biasanya, akan menjelajahi segala sudut dunia permainana yang ia hadapi sebelum mengambil jalur utama yang melanjutkan cerita game. Sementara itu, gamer yang tidak terlalu peduli dengan eksplorasi, biasanya, akan lebih memilih jalur utama untuk menyelesaikan game secepat mungkin. Karena game ini tidak menawarkan hal tersebut, besar kemungkinan gamer yang menginginkan eksplorasi, tanpa sengaja, sudah masuk ke jalur utama cerita Kingdom Hearts III.

Akhir kata, Tetsuya Nomura tidak membual ketika mengklaim game ini akan mampu memuaskan fans casual ataupun garis keras Kingdom Hearts. Kombinasi kisah, permainan, dan visual yang bagus membuat Kingdom Hearts III sulit dilupakan. Apalagi, jika gamer berhasil menamatkan game ini dan mendapatkan true ending yang membuat perasaan campur aduk.