Review Game Action RPG Resident Evil VII

resident evil 7

Perubahan bukanlah sebuah proses yang bisa kita terima dengan mudah, apalagi jika kita sempat merasa terikat secara emosional dengannya. Percaya atau tidak, bagi gamer yang sempat tumbuh besar dan mengisi masa kecil mereka dengan satu franchise yang begitu membekas di hati, perasaan inilah yang sering ditemui ketika berhadapan dengan developer yang memutuskan untuk mengubah arah tumbuh franchise secara signifikan. Menjadi sesuatu yang bisa dipahami ketika melihat reaksi yang keluar ketika Capcom memperkenalkan Resident Evil 7 untuk pertama kalinya kepada dunia. Akar survival horror yang hendak ia bawa kembali didefinisikan lewat perubahan sudut pandang gameplay menjadi orang pertama. Pertanyaan dan rasa ragu pun mengemuka, “Apakah ia akan tetap terasa seperti sebuah seri Resident Evil?”.

Untungnya, perubahan ini bisa disambut sebagai sesuatu yang positif ketika versi finalnya akhirnya dilepas ke pasaran. Anda yang sempat membaca artikel preview kami sepertinya sudah punya sedikit gambaran soal apa itu Resident Evil 7 dan mengapa kami jatuh hati padanya. Perubahan sudut pandang menjadi orang pertama berhasil melakukan satu hal yang sudah lama kita dambakan – mengembalikan Resident Evil 7 ke akar yang membuatnya sempat dicintai di masa lalu. Sensasi Resident Evil juga hadir lewat kembalinya beberapa elemen survival horror yang seharusnya, seperti resource yang terbatas, atmosfer yang selalu menegangkan, hingga desain musuh yang menyeramkan dan mengancam di saat yang sama. Sebuah perubahan yang kembali membawa gelombang optimisme itu kembali.

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Resident Evil 7 ini? Mengapa kami menyebutnya sebagai sebuah awal baru yang menjanjikan? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.

Plot

Seperti yang sempat diumumkan oleh Capcom sebelumnya, terlepas dari betapa absurd-nya Anda melihat plot yang ditawarkan oleh Resident Evil 7 ini, ia dipastikan merupakan sekuel langsung dari Resident Evil 6, dan bukan sebuah seri reboot dan sejenisnya. Ini berarti, ia didesain dengan konten cerita yang bisa berakhir melanjutkan atau sekedar memperluas semesta dari apa yang ditawarkan Capcom dengan franchise survival horror yang sudah eksis selama puluhan tahun ini. Yang pasti, gamer yang sudah mengikuti ceritanya cukup lama akan menemukan beberapa elemen yang berusaha untuk terkait satu sama lain.

Selamat tinggal untuk semua karakter protagonis ikonik Resident Evil, dan ucapkan selamat datang pada Ethan Winters, seorang pria biasa yang tiba-tiba mendapatkan pesan misterius dari istrinya yang sudah tiga tahun menghilang – Mia. Tanpa rasa ragu, Ethan langsung menyusul Mia di sebuah rumah misterius yang terletak di daerah Lousiana, menemukan istrinya terkunci di sebuah ruang bawah tanah yang menyeramkan. Namun Mia bukan lagi istri yang selama ia kenal. Ethan diserang membabi-buta, hampir tewas, dan berakhir kehilangan tangan kirinya. Berada dalam kondisi tak sadarkan diri setelah diserang oleh sosok pria yang tak ia kenal dari belakang, Ethan baru saja terjun ke dalam mimpi terburuk yang tak pernah ia bayangkan.

Secara tiba-tiba, Ethan kini duduk bersama dengan satu keluarga besar berisikan ayah, ibu, anak laki-laki, anak perempuan, dan seorang nenek yang terduduk diam di kursi roda. Mereka menamakan diri mereka sebagai The Baker Family, keluarga disfungsional yang dengan cepat dimengerti oleh Ethan, tak terdiri dari manusia-manusia biasa. Tak segan melukai diri sendiri atau orang lain, Ethan masuk ke dalam pusaran misteri yang lebih besar daripada sekedar “mencari Mia”. Lewat instruksi yang ia dapatkan via telepon, ia kini harus mencari tahu apa yang terjadi dengan keluarga Baker, sekaligus mencari penyembuh untuk bagian dari sosok Mia yang tak lagi ia kenal.

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi dengan The Baker Family? Mampukah Ethan menyembuhkan Mia dan mengembalikannya menjadi istri yang selama ia kenal? Apa pula hubungan Resident Evil 7 ini dengan seri-seri Resident Evil yang lain? Jawaban dari pertanyaan tersebut bisa Anda temukan dengan memainkan game yang satu ini.

Arah Baru, Engine Baru

Anda tahu bahwa sebuah developer game benar-benar berniat untuk menghadirkan sebuah seri game yang optimal untuk mendukung apapun yang hendak mereka kejar, ketika mereka memutuskan untuk menciptakan engine mereka sendiri, alih-alih menggunakan engine pihak ketiga. Proses yang lebih kompleks ini biasanya dikejar untuk memfasilitasi fitur yang baru, atau mengejar sebuah nilai jual di format teranyar yang berbeda dibandingkan proyek mereka sebelumnya. Hal inilah yang dilakukan Capcom dengan Resident Evil 7 ini. Alih-alih menggunakan engine yang sudah ada sebelumnya, mereka memutuskan untuk menciptakan sebuah engine baru bernama RE Engine yang berakhir memesona.

Sekilas, Anda mungkin akan langsung teringat pada betapa mumpuninya Fox Engine yang disuntikkan Kojima di P.T. yang difokuskan untuk menciptakan kualitas visualisasi dalam ruangan yang lebih realistis. Dan hal inilah, yang berhasil dikejar oleh RE Engine ini. Atmosfer dalam ruangan terlihat lebih mencekam lewat detail objek-objek yang pantas untuk diacungi jempol, serta kualitas tata cahaya yang membuat tiap ruangan menjadi lebih dramatis. Detail objek terlihat luar biasa ketika diselidiki dari dekat, termasuk beragam senjata yang Anda gunakan. Efek visual lain seperti blur dan depth of field menghasilkan efek yang lebih dekat ke dunia nyata. Singkat kata, dari presentasi, hampir tak ada yang bisa dikeluhkan dari engine terbaru Capcom yang sepertinya memang didesain untuk game-game dari kacamata orang pertama ini.

Model karakter yang Anda temui juga sama baiknya, walaupun masih belum terhitung sempurna. Dua keluhan terbesar mungkin kualitas rambut yang masih tak baik dengan tracking mata model karakter yang masih tak bisa membaca kemana Anda tengah bergerak, membuat mereka terkadang berbicara menghadap ruang kosong. Sesuatu yang tentu saja aneh, untuk sebuah engine game modern. Namun yang menurut kami jadi kelemahan utama dari sisi presentasi adalah betapa absurd dan tak masuk akalnya karakter-karakter ini ditulis.

Kami tentu saja tak mempermasalahkan seberapa “realistis” sebuah game yang secara jelas menjadikan fiksi sebagai pondasi cerita utama. Hanya saja, sulit untuk tak memerhatikan bahwa reaksi beberapa karakter, dari animasi hingga voice acts berasa tak natural di akhir. Seperti contohnya? Ketika Ethan pertama kali bertemu Mia di ruang bawah tanah Baker Family. Reaksi normal seperti apa yang bisa Anda pikirkan untuk seorang suami yang sudah tak bertemu dengan istrinya selama 3 tahun? Ethan bereaksi seperti bertemu dengan wanita yang baru ia kenal dua minggu lalu, dengan tanpa gerakan memeluk atau sekedar intonasi suara yang memperlihatkan bahwa, ia rindu dengan wanita yang sekarang berdiri di depan matanya setelah waktu yang cukup lama tersebut. Datar, tak hidup, dan tak natural membuat karakter Ethan sendiri tak bersinar. Sementara di sisi lain, animasi dan voice acts yang mengisi The Baker Family berakhir fantastis dan pantas untuk diacungi jempol.

Kembali ke Akar!

Normal untuk khawatir dan takut bahwa seri ketujuh ini justru akan membuat Resident Evil, yang selama ini kita kenal sebagai game third person shooter, justru semakin jauh dari akar yang membesarkan namanya. Apalagi di demo-demo awal “The Beginning Hour” yang dilepas Capcom, Anda justru terlihat akan melawan makhluk supernatural, dan bukannya zombie seperti halnya seri-seri Resident Evil selama ini. Ada kecemasan bahwa Resident Evil 7 ini adalah usaha untuk meniru game-game horror murni seperti Outlast atau Amnesia, dan kemudian menempelkan label Resident Evil di atasnya untuk memastikan angka penjualan yang tinggi. Jika Anda termasuk gamer yang khawatir seperti ini, Anda boleh berlega hati. Karena ini masihlah Resident Evil yang Anda kenal. Bahkan kami tak ragu untuk menyebutnya, “lebih Resident Evil” daripada beberapa seri utama dan spin-off Resident Evil sebelumnya.

Terlepas dari perubahan menjadi sudut pandang orang pertama, Capcom sepertinya sudah mulai mengerti dan akhirnya mengaplikasikan apa yang lama dirindukan oleh para fans terkait franchise andalannya ini. Bahwa mereka ingin game ini kembali ke akar survival horror-nya, dimana rasa cemas selalu menghantui di atas atmosfer yang secara konsisten mengancam, resource terbatas yang membuat Anda harus berpikir dan menimbang, management inventory, hingga fakta bahwa Anda terkadang harus memutuskan untuk belari atau melawan. Semuanya ditawarkan oleh Resident Evil 7 ini dalam format yang lebih menyeramkan. Ia berhasil menyuntikkan sensasi bahwa Anda adalah seseorang yang rentan, apalagi di tingkat kesulitan yang lebih tinggi.

Dan Anda akan mendapatkan pengalaman Resident Evil yang sesungguhnya. Ancaman Baker Family yang secara konsisten menghantui Anda sebagai bagian dari pertarungan boss yang harus Anda lawan, serta beberapa monster yang lain, bisa Anda atasi dengan ragam senjata yang Anda dapatkan selama perjalanan. Bahwa ini bukanlah game horror murni seperti Outlast yang meminta Anda sekedar berlari dan berlari. Anda diberikan opsi (dan terkadang mengharuskan) untuk melawan balik, dan sisanya, adalah memastikan Anda menggunakan resource yang terbatas ini sebaik mungkin. Menyimpan peluru untuk momen yang tepat, menggunakan penyembuh hanya di saat yang kritis, hingga menghindari ancaman yang akan mengurasnya adalah sensasi klasik sebuah seri Resident Evil. Dan itu semuanya ditawarkan kembali di seri ketujuh ini.

Walaupun kami harus mengakui, ia memang disederhanakan. Pertempuran melawan boss yang seringkali adalah The Baker Family misalnya, tak sesulit ketika Anda melawan Nemesis atau binatang raksasa di seri Resident Evil klasik. Resource selalu hampir cukup untuk melakukan tugas tersebut. Puzzle juga tak akan cukup untuk membuat isi otak Anda terkuras dan memenuhinya dengan rasa frustrasi. Teka-teki kembali dengan tingkat kesulitan yang jauh lebih sederhana, yang terkadang meminta Anda untuk sekedar memutar objek tertentu, mencari sekuens aksi, hingga membaca clue yang secara rasional, seharusnya sudah bisa Anda kenali jawabannya dalam waktu singkat. Sebuah pendekatan yang membuatnya akan terasa lebih menggoda di kacamata beberapa gamer, namun mungkin mengecewakan untuk gamer yang lain.

Jika Anda termasuk gamer yang haus untuk ekstra tantangan, Capcom menawarkan tingkat kesulitan “Madhouse” untuk memuaskan rasa dahaga Anda demi sensasi RE klasik yang sulit. Bisa membukanya dengan menamatkan game ini setidaknya sekali, Madhouse akan membuat Anda jauh lebih mudah terbunuh, dengan resource yang bahkan lebih terbatas, dengan sistem auto-save yang dipermak untuk jarang terjadi, hingga penempatan item yang juga berbeda. Seberapa sulit? Cukup untuk membuat kami masih tak bisa melewati pertempuran boss melawan Mia di awal, ketika hampir mencobanya sekitar 30 menit untuk kepentingan review ini. Satu-dua kali serang sudah cukup untuk membuat isi perut Anda terburai, apalagi di tengah minimnya resource. Di Madhouse, fungsi untuk melakukan block serangan akan menjadi fungsi paling esensial yang bisa Anda gunakan.

Maka dengan sensasi survival horror yang semestinya, Resident Evil 7 menemukan akarnya kembali sebagai sebuah franchise yang besar karena genre tersebut. Bahwa ia tak jadi sebuah game horror murni dan tak jadi game action sepenuhnya. Ini adalah game yang cukup untuk membuat Anda terus merasa tegang dan terancam, apalagi lewat beberapa momen jumpscare yang pas, tetapi juga tetap memberikan Anda kesempatan untuk melawan balik. Seperti Resident Evil yang Anda kenal.

Desain yang Cerdas

Jika ada satu hal yang menurut kami juga pantas dipuji dari Resident Evil 7 adalah desain beberapa konten di dalamnya yang terhitung cerdas. Bahwa ada motivasi ekstra untuk mengeksplorasi, seperti misalnya, karena tak ada kepastian bahwa Anda akan mendapatkan semua senjata yang ada. Anda bisa saja melewatkan senjata esensial seperti Shotgun atau Machine Gun jika Anda termasuk gamer yang tak terlalu senang eksplorasi atau sekedar mencari solusi untuk sebuah puzzle yang terhitung sederhana. Namun bukan karena hal itu saja, kami menyebutnya “cerdas”.

Karena percaya atau tidak, game ini ternyata memuat beberapa kejutan yang membuat kami, yang sempat mengeksekusi scene gameplay yang sama berulang kali untuk kepentingan review, terkadang menemukan konten animasi yang baru di dalamnya. Sebagai contoh? Ketika Anda pertama kali dikejar oleh Jack Baker selepas scene makan malam, misalnya.

Jika terkejar dan ia melihat Anda, Jack akan menyerang Anda dengan membabi buta, berusaha membunuh Anda dengan hal tersebut. Namun ketika terperangkap di satu ruangan, untuk alasan yang tak jelas, tiba-tiba kami bertemu dengan scene dimana Jack berhasil memotong kaki kami. Benar sekali, memotong kaki kami! Sembari menunggu di sudut ruangan, ia menggoda Anda untuk merangkak dan mengambil potongan kaki Anda sebelum menghabisi Anda. Kami juga sempat menemukan animasi pertarungan melee melawan Mia di gameplay ketiga kami. Wow!

Tak hanya itu saja, Capcom juga memberikan kebebasan ruang bagi Anda untuk tak mengikuti pakem mereka dan menempuh pertempuran boss dengan cara yang berbeda. Salah satu contohnya? Ketika Anda melawan Jack Baker di garasi rumah yang memuat mobil di dalamnya. Di gameplay pertama kami, kami mengalahkannya dengan hanya mengandalkan senjata api saja. Dengan handgun yang kami arahkan ke kepala dengan efektif, Jack yang sudah lemah tiba-tiba menggunakan mobil tersebut untuk menyerang, yang kemudian harus Anda serang kembali hingga ia tertabrak, terbakar, dan memicu scene selanjutnya.

Namun di gameplay kedua kami, kami berhasil mengalahkannya dengan cara berbeda. Alih-alih dengan senjata api, kami kini mengambil kendali mobil lebih cepat dari Jack, dan kemudian menggunakannya untuk menabrak Jack berkali-kali hingga ia kalah, tanpa mengorbankan sebutir peluru pun. Membuat kami cukup bertanya-tanya, animasi dan solusi alternatif apa lagi yang sebenarnya disuntikkan Capcom di Resident Evil 7 yang belum kami temukan.

Walaupun tidak terdengar sesignifikan yang dibayangkan, namun apa yang ditawarkan Capcom dengan desain seperti ini tentu saja membuat Resident Evil 7 kian terlihat menarik dan menyegarkan di saat yang sama. Bahwa Anda punya kebebasan tersendiri untuk memilih metode “solusi” untuk tiap tantangan yang dilemparkan. Good choice, Capcom!

Kritik “Resident Evil 4”

Apakah Resident Evil 7 benar-benar tak lagi terasa seperti seri Resident Evil? Sebegitu signifikan ia terasa berbeda?Alih-alih berbeda, Capcom justru terasa melemparkan beberapa desain yang akan langsung mengingatkan pada seri-seri Resident Evil lawas. Sebuah nostalgia dalam bentuk yang baru. Kita tak hanya berbicara soal desain beberapa item seperti First Aid Kit atau Green Herb, atau kembalinya petualangan Anda ke dalam sebuah rumah besar sebagai “arena permainan” utama. Salah satu puzzle seperti ketika Anda berusaha mencuri shotgun dengan perangkap yang membutuhkan sebuah shotgun palsu, misalnya, adalah jelas sebuah tribut untuk puzzle ikonik serupa yang sempat dilepas Capcom di seri Resident Evil pertama. Desain seperti ini tentu saja pantas untuk diacungi jempol. Anda bahkan disuguhi dengan sistem “belanja’ item berbasis koin, walaupun dengan format berbeda.

Namun jika Anda melihat reaksi di dunia maya, banyak keluhan terkait seri ketujuh ini. Salah satu yang paling sering terdengar adalah “Apa jadinya Resident Evil 7 tanpa sosok zombie?”. Karena memang, sepanjang permainan Anda di seri ketujuh ini, Anda tak akan bertemu dengan sosok monster yang satu itu dan justru berhadapan dengan monster hitam yang terbelenggu lumpur yang menjijikkan. Tetapi, apakah ini sebuah kritik yang rasional? Bahwa memang, sebuah seri Resident Evil membutuhkan “zombie” untuk bisa disebut sebagai sebuah seri Resident Evil? Ini adalah pertanyaan besarnya.

Karena percaya atau tidak, semua kontroversi terkait Resident Evil 7 ini sebenarnya sempat terjadi di Resident Evil 4 di masa lalu, ketika ia diperkenalkan oleh Capcom. Karena jika Anda belum tahu, Capcom kini punya kebiasaan untuk melemparkan perubahan signifikan untuk Resident Evil 7 untuk setiap rilis tiga seri utama. Resident Evil berubah dari kamera fixed menjadi third person shooter dari Resident Evil 3 ke Resident Evil 4, dan kemudian berubah jadi first person shooter dari Resident Evil 6 ke Resident Evil 7. Dan apa yang terjadi sekarang, adalah apa yang sempat didengungkan oleh kelompok fans yang sama dengan Resident Evil 4 di masa lalu.

Karena Resident Evil 4 juga melemparkan perubahan signifikan yang sama. Tak ada lagi “Zombie” yang kini digantikan oleh para Ganado / Plaga yang berbentuk manusia yang lebih sehat, lebih lincah, dan bisa menggunakan senjata. Maka seperti reaksi gamer terhadap RE7 saat ini, minimnya kehadiran zombie di seri keempat yang bahkan meminta Anda melawan troll raksasa tersebut, juga jadi sesuatu yang mendapatkan pertentangan besar. Lantas, apakah signifikan? Anda bisa bertanya berapa banyak gamer yang kini tak ragu menyebut Resident Evil 4 sebagai salah satu seri Resident Evil terbaik yang pernah mereka cicipi. Jika para pengeluh ini berargumentasi bahwa “Plaga / Ganado = Zombie”, maka mereka juga seharusnya mengkategorikan The Baker Family di dalam satu rumpun yang sama karena sifat yang serupa.

Maka seperti yang kami bicarakan di awal, perubahan memang bukan hal yang mudah untuk diterima. Namun melihatnya dari kacamata yang tak bias menjadi begitu penting untuk menilai kualitas Resident Evil 7 dari apa yang menjadi kebiasaan Capcom selama ini. Ini adalah sebuah jawaban mereka untuk sebuah franchise yang kian monoton dan kian tercabut dari akarnya. Orang mungkin mengenal Resident Evil karena ia memuat zombie di masa lalu, namun bukan berarti, zombie adalah yang mendefinisikan franchise ini. Resident Evil 4 melakukannya dengan Plaga dan seri ketujuh ini mengintepretasikan mayat yang sulit mati tersebut via The Baker Family. Tak ada yang bisa dikeluhkan di sana.

Game VR Terbaik Saat Ini!

Jika ada satu hal yang berhasil dilakukan Resident Evil 7 dengan jauh lebih fantastis, adalah fakta bahwa ia berakhir menjadi game AAA pertama yang bisa dimainkan, dari awal hingga akhir dengan menggunakan Virtual Reality. Bukan sekedar misi tambahan, bukan sekedar gimmick, tetapi sebuah game penuh untuk VR yang pantas untuk dilirik. Hanya tersedia untuk Playstation VR di Playstation 4 saat ini, tak ada kata lagi yang lebih tepat untuk menjelaskan fitur VR di Resident Evil 7 ini selain mengharuskan Anda untuk menikmatinya sendiri. Karena percaya atau tidak, Virtual Reality adalah cara terbaik untuk menikmati game survival horror dari Capcom yang satu ini.

Super imersif dengan engine yang masih terlihat indah terlepas dari kompromi resolusi rendah yang harus dilakukan untuk bisa menikmatinya di Playstation VR, Resident Evil 7 terlihat sangat menyeramkan ketika Anda terjun langsung ke dalamnya. Perspektif orang pertama yang dipilih untuk mengakomodasi hal tersebut, dan ragam scene brutal yang dihidangkan langsung di depan mata Anda, membuat pengalaman tersebut bahkan lebih baik. Apalagi dengan desain Audio 3D yang dimiliki Playstation VR,memainkannya bersama dengan headset akan cukup untuk membuat Anda berteriak seperti anak perempuan. Dan kami, tak berusaha hiperbola dengannya.

Kesiapan Capcom untuk memastikan pengalaman VR Anda maksimal juga terlihat dari ragam opsi yang mereka sediakan, sesuatu yang pantas disyukuri. Anda bisa mematikan fitur-fitur kecil seperti cipratan darah ke “wajah” Anda atau apakah Anda terus membutuhkan reticle atau tidak. Namun yang paling esensial adalah kesempatan untuk memilih mode putaran kamera. Anda bisa memilih antara “Smooth” seperti layaknya game FPS di televisi bekerja, atau “Angle” yang membuatnya berputar dalam sudut yang sudah Anda tentukan sebelumnya. Opsi ini benar-benar sangat membantu. Menjajal game ini dalam mode “Smooth” berakhir dengan perut mual untuk kami, hanya dalam 5-10 menit permainan. Namun dengan mode perputaran berbasis derajat (30 derajat untuk kami), Resident Evil 7 bisa dimainkan dalam kondisi super nyaman, dari awal hingga kami “membereskan” Jack Baker. Senyaman itu apalagi dengan dukungan user-interface yang juga “bersih”.

Dan tak hanya sekedar opsi seperti ini saja, gamer yang mencicipinya di Playstation VR juga akan mendapatkan dukungan fitur yang tak ada di sesi gameplay konvensional biasa. Sensasi first person-nya menjadi lebih realistis, karena sistem bidiknya kini berdasarkan pada tracking kepala Anda. Reticle akan bergerak sesuai dengan gerak kepala Anda dengan begitu mengalir, membuat sistem menembak menjadi lebih cepat dan sederhana. Kerennya lagi? Dengan menggunakan sistem yang sama, Anda kini juga bisa menggunakannya untuk mengintip beragam sudut demi keuntungan strategis tertentu, sesuatu yang tak bisa Anda lakukan di sesi gaming konvensional karena tak adanya fitur tersebut. Dengannya, apalagi untuk sesi gameplay dimana Anda harus menghindari sergapan sumber ancaman, Anda bisa menggunakannya untuk mengintip dari celah kayu ataupun jendela sekalipun. Fantastis!

Setelah ada kecemasan bahwa VR akan berujung pada sebuah gimmick saja, Resident Evil 7 hadir untuk mendobrak dan menghancurkan keraguan tersebut. Bahwa sebuah game AAA, dalam format penuh yang juga bisa dinikmati dalam mode non-VR, bisa menggunakannya untuk pengalaman gameplay yang lebih imersif, menyeramkan, menegangkan, dan membuat Anda tak ingin kembali ke cara-cara gaming konvensional. Resident Evil 7 tak bisa dipungkiri, adalah game VR terbaik di pasaran saat ini, mengalahkan Batman: Arkham VR sekalipun.

Kesimpulan

Resident Evil 7 adalah sebuah awal baru yang menjanjikan. Bahwa setelah beragam kritik yang sempat dilemparkan kepadanya, Capcom berhasil membuktikan dengan jelas bahwa keberanian mereka untuk menghadirkan perubahan signifikan sekelas sudut pandang permainan akhirnya, terbayarkan manis. Resident Evil 7 adalah sebuah seri Resident Evil yang sudah lama kita rindukan, sebuah seri yang akhirnya membawa kita kembali ke akar survival horror yang terus kita dengungkan. Dengan engine baru yang terlihat memesona dan mendukung VR dengan begitu fantastis, hingga mekanik gameplay yang akan terus membuat Anda berpikir, menimbang, mengatur, dan mengambil keputusan untuk sekedar bertahan hidup, apalagi di tingkat kesulitan lebih tinggi, membuat Anda merasa bernostalgia di atas format yang baru.

Walaupun demikian, bukan berarti game ini tak punya kekurangan sama sekali. Selain reaksi dan animasi karakter utama yang tak menarik serta puzzle yang menurut kami, berakhir terlalu sederhana untuk ukuran game Resident Evil, Capcom juga gagal membuat salah satu fitur barunya – “Pilihan” untuk jadi sesuatu yang istimewa. Tanpa berusaha membocorkan konten apapun, akan ada titik dimana Anda diminta untuk memilih satu di antara dua pilihan dengan konsekuensi berbeda. Jika Anda memilih satu pilihan yang lebih tak populer (yang mungkin tak diprediksi Capcom), alih-alih bertahan dengannya, Capcom memutuskan untuk membunuh pilihan Anda tersebut beberapa menit setelah Anda memilihnya. Dan kemudian “memaksa” Anda untuk menggunakan pilihan satunya lagi yang sepertinya, memang diskenariokan lebih pantas untuk cerita utama.

Namun terlepas dari kekurangan tersebut, Resident Evil 7 adalah sebuah game Resident Evil yang luar biasa. Bahwa seperti bertemu dengan saudara yang sudah lama merantau dengan begitu banyak kabar buruk mengitari sosoknya, ia kini kembali dengan bentuk yang nyaris sempurna. Ia mungkin terlihat berbeda, namun jauh di dalam lubuk hati terdalam, Anda tahu dan mengerti bahwa sosok yang berada di depan Anda ini adalah saudara yang sudah lama Anda rindukan. Saudara yang ceritanya ingin Anda dengar lebih jauh dan hendak Anda ajak ikut berpetualang bersama. Welcome back, Resident Evil!

Kelebihan

  • RE Engine
  • Pengalaman VR yang luar biasa
  • Sensasi survival horror yang kembali
  • The Baker Family
  • Beberapa referensi ke seri lawas
  • Cerita yang cukup memancing rasa penasaran
  • Atmosfer yang mencekam dan menakutkan
  • Replayability

Kekurangan

  • Karakter utama yang tak terasa natural
  • Sistem pilihan yang berakhir bodoh
  • Puzzle yang terlalu sederhana