Review Game First Person Shooter Destiny 2

destiny 2

Hype yang terlalu tinggi? Atau kualitas game yang memang terlalu rendah? Perdebatan ini sempat mengemuka ketika Bungie dan Activision merilis untuk pertama kalinya, Destiny ke pasaran, beberapa tahun yang lalu. Sebagai game pertama Bungie setelah keluar dari Halo, antisipasi terhadap proyek yang satu ini memang terhitung besar. Jika hanya mengacu pada apa yang terjadi pada Halo saja, maka Bungie punya kaitan yang kuat pada kualitas tidak hanya gameplay, tetapi juga cerita dan mekanik yang ada. Apalagi, lewat rangkaian trailer dan screenshot yang sempat dirilis, ia terlihat seperti sebuah game sci-fi dengan konten yang terlalu sayang untuk dilewatkan. Namun sayangnya, rilis Destiny pertama justru terasa seperti bumerang. Kritik demi kritik mengemuka, mengomentari buruknya penanganan Bungie pada beberapa aspek yang ada.

Menyerah? Tentu saja tidak. Dengan penjualan yang cukup tinggi dan basis fans fanatik yang bahkan tak ragu untuk menikmati konten berbayar expansion pass yang mereka tawarkan, Bungie dan Activision akhirnya melepas Destiny 2 ke pasaran. Sebuah seri sekuel yang diklaim, akan menyempurnakan beragam masalah dan keluhan yang sempat terjadi di seri pertamanya. kamu yang sempat membaca artikel preview tim kapalan seharusnya sudah mendapatkan gambaran lebih jelas soal seri kedua ini, yang sejauh tim kapalan cicipi, memang memperlihatkan struktur gameplay yang lebih rapi dan lebih baik. Bahwa tidak lagi terasa seperti sebuah “pekerjaan” yang membebani dan melelahkan, Destiny 2 memancarkan pesona sebagai sebuah game multiplayer kompetitif / kooperatif yang seharusnya.

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Destiny 2 ini? Mengapa tim kapalan menyebutnya sebagai sebuah game dengan penyempurnaan segala aspek? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk kamu.

Plot

Mengikuti nomor di belakang nama yang ia usung, Destiny 2 memang diposisikan sebagai seri sekuel langsung dari Destiny pertama. kamu bahkan berkesempatan untuk sedikit bernostalgia jika sempat mencicipi seri pertamanya dan menggunakan karakter yang sama dengannya. Ia sendiri mengambil timeline 1 tahun sejak event yang terjadi di expansion pack – Destiny: Rise of Iron.

Salah satu ras alien – Cabal memutuskan untuk tidak lagi menunggu dan diam. Pasukan elite mereka yang disebut sebagai “Red Legion” memutuskan untuk mengambil langkah aktif dan menyerang kota terakhir bumi yang dilindungi oleh sebuah bola raksasa bernama Traveler di atasnya. Serangan efektif dengan begitu banyak pasukan dan pesawat tersebut berujung berhasil, terlepas dari peran aktif karakter ikonik seperti Zavala, Cayde-6, dan Ikora yang berusaha melindunginya. Dengan teknologi yang belum pernah dilihat oleh para Guardians sebelumnya, Red Legion berhasil membuat The Traveler luluh lantak.

Mereka ternyata dipimpin oleh seorang Komkamun bernama Dominus Ghaul yang memang terobsesi pada kekuatan cahaya (light) yang muncul dari inti Traveler itu sendiri. Dengan peralatan yang ia miliki, ia berusaha memanen sumber cahaya tersebut. Aksi yang juga menghasilkan konsekuensi buruk bagi para Guardians, yang memang sangat bergantung pada light ini untuk berperang dan melawan beragam ancaman yang ada. Tanpa light, mereka hadir tanpa kekuatan dan tidak bisa dihidupkan kembali jika tewas. Namun sesuatu yang aneh terjadi. Ghost – sang robot kecil yang selama ini menemani kamu ternyata berhasil mengarahkan kamu untuk menemukan light kamu kembali di sebuah pelosok bumi dengan menggunakan kepingan Traveler itu sendiri.

Sebagai satu-satunya Guardians yang masih memiliki light, menjadi tugas berat kamu lah untuk mengakhiri perang yang dikobarkan oleh Ghaul ini. Ditemani oleh Suraya Hawthrone, seorang pejuang non-Guardian yang lihai, kamu pun mulai mengambil langkah, sedikit demi sedikit, untuk membantu manusia merebut kembali kota terakhir yang mereka miliki ini. Tentu saja, perjalanan yang tidak mudah. Karena tidak hanya Cabal saja, hancurnya Traveler juga ternyata memancing perhatian ras lain yang tidak kalah ganasnya seperti Fallen, Vex, Hive, hingga Taken yang masing-masing menemukan jalannya untuk membuat perjalanan kamu kian sulit.

Lantas, apa sebenarnya rencana Dominus Ghaul ini? Mampukah kamu sebagai Guardians dengan light mengembalikan kedamaian? Perang dan petualangan seperti apa yang harus kamu lalui? Semua jawaban tersebut bisa kamu dapatkan dengan memainkan Destiny 2 yang satu ini.

Presentasi yang Tak Banyak Berbeda

Salah satu aspek yang sepertinya tidak pernah ketinggalan untuk dibicarakan setiap kali sebuah seri sekuel lanjutan dirilis ke pasaran, adalah visual. Dengan usia yang lebih “muda” dan potensi untuk mengimplementasikan lebih banyak teknologi di dalamnya, gamer biasanya berharap bahwa seri sekuel (terutama yang dirilis di platform yang sama) akan berakhir dengan visualisasi lebih indah. Apakah ada perbaikan aspek ini di Destiny 2? Iya. Apakah signifikan? Tidak.

Hadir dengan pendekatan visual dan gaya presentasi yang serupa dengan seri pertamanya, visual di Destiny 2 tidak terlihat banyak berbeda. Salah satu perbedaan yang paling signifikan hanyalah pendekatan efek tata cahaya yang berhasil membuat beberapa medan pertempuran terlihat lebih dramatis, baik ketika kamu mencicipi mode story, kooperatif, ataupun kompetitif secara online. Namun untuk urusan tekstur dan tema besar dunia yang ia usung, ada rasa familiar yang begitu kuat jika kamu pernah mencicipi seri Destiny pertama.

Salah satu perbaikan dari sisi presentasi yang pantas disambut baik adalah desain tiap dunia yang kini terlihat jauh lebih kompleks dan lebih besar dibandingkan Destiny pertama. Bumi kini bisa kamu jelajahi dengan lebih bebas, dengan beragam sisa peradaban yang kini mulai menua dengan tumbuhan liar yang menyertainya. Konsep misi yang kini mengikuti format ala game open-world dimana kamu akan bisa menemukan beragam ikon untuk memicu ragam aktivitas yang ada memang memberikan ruang terbuka bagi gamer untuk menjelajahinya. Tidak semuanya besar, dunia seperti Titan misalnya, terlihat lebih kecil namun dengan pilihan aktivitas yang lebih padat. Yang menarik adalah desain gameplay dan misi yang banyak di antaranya, akan mendorong untuk menikmati lokasi dunia yang secara vertikal ataupun horizontal ini, memang lebih luas.

Bagian presentasi lain yang menurut tim kapalan diimplementasikan lebih baik juga termasuk desain suara secara keseluruhan. Kita tidak hanya bicara soal suara senjata yang cukup “merdu” dan berbeda untuk setiap kategori yang ada, atau “identitas” suara tiap ras dan variannya yang masih kembali dari Destiny pertama saja, tetapi juga lewat pilihan dan suntikan soundtrack yang lebih fantastis. Seolah mendukung perjalanan kamu dengan lebih baik, pilihan OST untuk Destiny 2 akan cukup untuk membuat beberapa momen terasa lebih dramatis dan epik. Ketika suara-suara dan musik tersebut membaha di latar belakang, kamu tahu kamu akan berhadapan dengan situasi yang akan membuat kamu terasa lebih heroik.

Jika hanya mengacu pada masalah presentasi saja, terutama dari sisi visual, Destiny 2 memang terlihat tak banyak berbeda dibandingkan dengan seri pertamanya. Bahkan, kamu akan mendapatkan user-interface yang sama untuk mengatur equipment karakter kamu, walaupun sedikit berbeda ketika kamu mulai berusaha melakukan eksplorasi di beragam planet yang ada. Tetapi jika kamu menyelaminya lebih dalam, kamu akan menemukan beberapa perubahan positif yang pantas untuk diapresiasi. Setidaknya, kamu kini tidak perlu lagi disibukkan dengan keharusan untuk naik dan turun ke orbit yang tentu saja memancing waktu loading yang lebih lama, hanya untuk sekedar mencari dan menemukan aktivitas yang baru. Itu adalah nilai plus terbaik.

Penanganan Cerita Lebih Baik

Apa mimpi buruk dan sumber kekecewaan terbesar gamer Destiny pertama? Cara Bungie Studio menangani konten cerita yang ada. Alih-alih menggunakan strategi dan gaya bercerita yang sama dengan game-game FPS pada umumnya, yakni lewat scene sinematik dan percakapan, mereka justru “membuang” begitu banyak potensi dengan mengkamulkan sistem kartu bernama Grimoire untuk menangani latar belakang semesta, ras, hingga senjata yang ada. Ada banyak hal yang sempat mereka perlihatkan sebelum rilis yang berakhir diubah dan tak bisa kamu temukan di versi finalnya. Hasilnya? Alih-alih mengerti, kamu justru mendapatkan sebuah game action dengan garis cerita yang lebih mengundang banyak tkamu tanya.

Berita baiknya? Mereka belajar. Kritik pedas yang terus menghujani aspek tersebut akhirnya mulai membuahkan hasil dan terlihat lebih solid di Destiny 2 ini. Garis cerita utama yang melatarbelakanginya kini disajikan dalam gaya yang seharusnya, lewat scene sinematik dan dialog yang menjabarkan dengan jelas apa yang terjadi. Scene sinematik yang memakan porsi cukup dominan tentu saja hal yang pantas disambut baik, bersama dengan penanganan dialog yang tidak hanya terasa lebih mengalir, tetapi juga memuat informasi lebih banyak soal apa yang tengah terjadi. Walaupun harus diakui, konten ceritanya sendiri memang berujung klise dan bisa kamu prediksi sejak dari awal mencicipinya.

Konten cerita untuk Destiny 2 memang digarap dalam kuantitas lebih tinggi. Tidak seperti Destiny pertama yang misinya terasa seperti sebuah grindfest tanpa makna, aksi alternatif kamu di luar cerita utama akan memuat porsi cerita tersendiri di dalamnya. Bahkan, Bungie juga memastikan bahwa kamu bisa mendapatkan ekstra konten cerita setelah menyelesaikan cerita utama lewat cerita sampingan yang akan tersedia di masing-masing planet yang ada, memberikan kamu perspektif lebih luas soal karakter pendukung yang ada. kamu yang memang peduli pada lore bisa menikmatinya, sementara kamu yang sekedar ingin menikmati “hadiah” equipment yang lebih baik juga bisa terjun ke dalam misi sampingan yang satu ini.

Terlepas dari apakah kamu menyukai atau tidak menyukai konten cerita yang ia miliki, kamu tetap harus mengakui bahwa penanganan untuk sisi cerita Destiny 2 memang berakhir lebih baik. Tidak lagi harus kamu cari dan baca sendiri untuk memahami apa yang tengah terjadi, kamu kini akan mendapatkan konteks cerita lebih jelas lewat penanganan yang lebih konvensional. Setidaknya, tim kapalan sekarang mengerti apa yang menjadi konflik utama, dasar yang memicu, dan akhirnya resolusi seperti apa yang terjadi.

RNG yang Bergeser dari Fokus

Apakah Destiny pertama, versi vanilla tanpa expansion, adalah sebuah game shooter yang memang “menyenangkan”? Di awal, iya. Namun seiring dengan progress berjalan dan kamu berkesempatan untuk menkmati beragam mode yang ada, ia mulai terasa seperti sebuah grindfest. Untuk kamu yang tak familiar, grindfest adalah sebutan untuk game-game yang memang menjadikan proses grinding (mencari item dan equipment lebih kuat) sebagai fokus. Grindfest di sebuah game dengan elemen RPG memang bukan sesuatu yang aneh. Namun begitu ia dikombinasikan dengan RNG yang menjadi fokus, yang kamu dapatkan adalah rasa frustrasi. kamu seperti seekor hamster yang dipaksa berlari di atas roda berputar yang kamu tidak tahu, kapan akan berhenti.

Salah satu yang paling buruk adalah fakta bahwa Bungie di kala itu, mendesain hampir semua misi, kooperatif dan kompetitif sama sekali tidak dibumbui dengan konsep “Reward”. Bahwa semua proses menyelesaikan misi yang bisa memakan waktu 20-25 menit tersebut tidak punya kepastian akan menghasilkan engram (lootbox) yang berguna untuk memperkuat karakter kamu. Jikapun kamu mendapatkan engram, dengan isi item yang juga berbasis RNG (Gacha / Random), tidak pernah ada kepastian bahwa isinya memang lebih kuat dari apa yang kamu gunakan sekarang. Belum cukup? Jikapun kamu mendapatkan item lebih kuat, tidak ada kepastian pula bahwa ia memang item / equipment yang selama ini kamu cari. Di Destiny pertama, lapisan-lapisan RNG seperti inilah yang menjadi sumber keluhan dan frustrasi. Terlalu banyak elemen acak, terlalu sedikit reward yang pasti. Berita baiknya? Destiny 2 tidak melakukan pengulangan yang sama.

Memang kamu akan tetap mendapatkan elemen RNG, terutama dari sisi konten item atau equipment seperti apa yang akan kamu dapatkan, namun Bungie berhasil menciptakan game yang lebih punya struktur kuat, terutama dari sisi reward. Hasilnya adalah sebuah game FPS dengan elemen RPG dengan sistem reward yang lebih memuaskan dan pantas untuk dikejar. Bahkan,mereka memberikan “hadiah” reward untuk hampir semua aktivitas yang kamu jalankan. Menyelesaikan mode kompetitif akan memberikan kamu equipment, merampungkan mode kompetitif menang ataupun kalah juga akan berujung hal yang sama, ataupun ketika kamu sekedar mengeksplorasi dunia yang ada tanpa misi apapun. Progress untuk memperkuat karakter kamu kini terlihat lebih natural.

Kerennya lagi? Seolah mengaplikasikan sistem “Ada banyak jalan menuju ke Roma”, Bungie juga memastikan bahwa di Destiny 2, tidak akan ada satupun aktivitas kamu yang tersia-siakan. Setiap aktivitas yang kamu lakukan akan selalu bisa berujung pada kesempatan untuk mendapatkan equipment yang lebih baik. Salah satunya? Dengan mengkonversi semua aktivitas ini ke dalam mata uang (Token) tertentu yang kemudian bisa ditukar dengan varian senjata lebih baik. kamu menyelesaikan Strike dan mendapatkan equipment “sampah”? Hancurkan, maka kamu akan mendapatkan material yang jika sudah dalam jumlah tertentu, bisa ditukar dengan Engram level “Legendary” di salah satu merchant. Strike juga akan menghadiahi kamu mata uang Token bernama “Vanguard” yang juga bisa kamu tukar di Merchant lain dan menghasilkan equipment Legendary berbeda pula. Itu baru satu contoh saja. Hasilnya adalah sensasi bahwa tidak ada satupun aktivitas kamu yang sia-sia. Dan sejauh ini, konsep tersebut dieksekusi dengan luar biasa.

Bahkan untuk urusan naik level sekalipun. Dengan karakter yang mentok di level 20, experience yang kamu dapatkan kini berubah menjadi potensi untuk mendapatkan varian engram baru bernama “Bright Engram”. Seperti kenaikan level pada umumnya, Bright Engram akan didapatkan setiap kali kamu mendapatkan level di atas level 20, yang bisa ditukarkan dengan beragam item kosmetik yang memang, tidak berpengaruh terlalu banyak pada gameplay. Tidak senang dengan proses ini? kamu masih ingat dengan misi sampingan yang sempat tim kapalan bicarakan sebelumnya? Ada hadiah senjata exotic unik juga untuk memperkuat karakter kamu di sana jika kamu berniat untuk menyelesaikannya. Dengan semua konten dan mekanisme seperti ini, Destiny 2 benar-benar memastikan bahwa kamu tetap akan bersenang-senang dan puas dengan aktvitas apapun yang kamu lalui.

Apalagi, mereka juga mengimplementasikan sebuah mekanisme yang menurut tim kapalan, terhitung cukup jenius. Seolah mengerti bahwa selalu ada kesempatan bahwa kamu jatuh cinta pada satu senjata / armor yang sama, yang punya kesempatan besar berakhir tidak relevan seiring dengan semakin bertambah kuatnya karakter kamu, kamu bisa memperkuat mereka dengan cara yang mudah. Caranya? kamu hanya perlu membuat equipment / senjata favorit kamu ini “mengkonsumsi” equipment / senjata lebih kuat hanya untuk menyerap statusnya saja dengan hanya menggunakan sejumlah uang in-game. Misalnya saja, kamu jatuh cinta pada senjata Auto-Rifle “A” dengan kemampuan attack 100. Seiring dengan progress karakter, terlepas dari seberapa nyamannya ia untuk digunakan, angka 100 ini ternyata tak lagi bisa digunakan untuk menyelesaikan misi yang ada karena lemahnya damage. kamu kemudian tak sengaja menemukan sebuah senjata Auto-Rifle “B” yang ternyata punya attack 200, namun punya sensasi tembak berbeda. Alih-alih berjuang dan berharap RNG untuk menjatuhkan senjata “A” dalam kondisi lebih baik, kamu kini bisa membuat “A” mengkonsumsi “B” dan menyerap statusnya. Hasilnya? kamu mendapatkan senjata Auto-Rifle “A” dengan attack 200. Dengan sistem seperti, proses grinding juga bisa dikurangi. kamu bisa terus mencicipi permainan dengan senjata dan equipment favorit kamu, sembari memanfaatkan beragam drop yang mungkin tak pernah tertarik kamu gunakan.

Maka dengan semua kombinasi seperti ini, RNG tidak lagi menjadi fokus dan sekedar menjadi mekanik sekunder yang tak akan lagi menjadi sumber frustrasi tersendiri untuk memperkuat karakter kamu. Lagipula, dengan begitu banyak jalur untuk mendapatkan equipment baru yang lebih baik, maka tentu saja nilai persentase RNG yang tercipta lebih tinggi, dan kesempatan untuk mendapatkannya menjadi sesuatu yang lebih rasional. Pujian juga pantas diarahkan pada proses balancing Bungie yang juga solid untuk rilis awal Destiny 2 ini, yang membuat hampir semua senjata punya efek, kelebihan, dan kekurangannya masing-masing. Maka kamu tidak lagi melihat teriakan-teriakan dan usaha untuk mengejar hanya satu varian senjata yang seringkali disimpulkan, esensial.

Kita baru berbicara soal RNG saja. Kita masih belum berbicara soal beragam perubahan lain yang menurut tim kapalan juga membuat Destiny 2 menjadi lebih baik. Seperti perubahan untuk membuat senjata berat seperti Sniper atau Shotgun kini menjadi Power Weapon – varian senjata super kuat yang butuh peluru spesial yang terbatas untuk digunakan. Hal ini tentu saja membuat banyak gamer tidak lagi terperangkap pada kombinasi senjata yang terlalu overpowered, dan menghasilkan kombinasi yang lebih dinamis, baik digunakan untuk kooperatif atapun kompetitif. Setiap karakter kini juga punya satu kelas utama (Hunter, Warlock, ataupun Titan), dan tiga buah sub-class dengan peran dan kemampuan berbeda-beda. Dengan kombinasi dua hal ini, maka build untuk karakter kamu tentu menjadi lebih bervariasi. Memilih dan menentukan mana yang cocok untuk kamu akan jadi tugas awal untuk menikmati Destiny 2.

Bukan Lagi Soal Sekedar “Tebal”

Seiring dengan semakin tingginya level karakter kamu dan semakin banyaknya aktivitas yang bisa kamu jalani, kamu akan mendapatkan dan menikmati transisi gameplay Destiny 2 itu sendiri untuk karakter kamu. Dari sekedar menikmati cerita saja, berubah menjadi usaha untuk mempersiapkannya menangani beragam tantangan baru yang muncul. Dari menyelesaikan mode Strike, Nightfall, hingga sang tujuan akhir – Raid yang harus ditempuh dengan anggota tim 6 orang. Kita sudah membicarakan soal perubahan strategi soal RNG yang membuat aksi kamu memang bisa lebih dinikmati. Namun bagaimana dengan kontennya sendiri?

Sama seperti kesan positif yang tim kapalan temukan pada fakta bahwa RNG mulai bergeser dari fokus, hal yang sama juga terjadi di desain misi-misi level akhir yang kamu temukan di Destiny 2, terutama dari Nightfall dan Strike. Strike di Destiny pertama versi vanilla (mengingat tim kapalan tidak tertarik membeli expansion packnya di kala itu) berubah dari sebuah mode yang seharusnya fun, menjadi “pekerjaan” yang membosankan. Apa pasal? Karena terlepas dari semua varian yang ia tawarkan, ia selalu berujung menjadi misi dengan tiga tugas utama: bunuh semua musuh yang ditemui, lakukan berulang-ulang, dan melawan boss dengan HP super tebat yang terkadang butuh waktu 30 menit sendiri untuk ditundukkan. Bayangkan jika proses yang sama harus kamu ulang terus-menerus untuk mendapatkan item lebih baik. Fakta bahwa kamu juga bisa memilih misi Strike mana untuk dicicipi juga membuat banyak gamer memilih dan hanya memainkan misi Strike tertentu karena lebih cepat, lebih mudah, dan pada akhirnya, lebih cepat mendapatkan kepastian apakah mereka akan mendapatkan Engram atau tidak. Bukan konsep yang menyenangkan.

Untungnya, kembali seperti sistem RNG yang tim kapalan bicarakan, Bungie membenahinya di Destiny 2 ini. Strike kini tidak bisa dipilih dan ditawarkan dalam format Playlist, yang isinya, tentu saja acak dan ditentukan oleh Bungie sendiri. Namun yang pantas diacungi jempol adalah perubahan format konten di dalamnya. Bahwa bukan lagi sekedar membunuh musuh yang ada secepat dan seefektif mungkin sebelum bertemu dengan boss yang begitu tebal dan menyiksa, kamu kini dihadapkan pada tantangan yang lebih variatif.

Di salah satu misi Strike, ada tantangan platformer berisikan laser-laser yang siap membunuh kamu jika kamu tidak melaluinya dengan mulus. Ia juga akan menuntut kamu untuk mengaktifkan platform sebelum bisa bergerak ke area baru lainnya. Di misi Strike lain, ada sebuah bor super raksasa yang akan menghalangi aksi kamu untuk bergerak ke area baru, yang tentu saja harus dihindari. Sementara lainnya, menuntut kamu untuk membawa sejenis bola cahaya untuk membuka pertahanan musuh atau bahkan, menghancurkan varian musuh yang tidak akan bisa disakiti dengan hanya sekedar peluru.

Benar sekali, Strike kini dibubuhi dengan mekanik gameplay yang jauh lebih kompleks dan kaya. Kerennya lagi? Alih-alih sekedar tebal, boss yang kamu lawan di misi-misi Strike ini juga akan punya identitas dan kekuatannya sendiri. Ada yang mampu menghilang, ada yang mampu mengikat karakter kamu dengan sebuah kekuatan gelap, ada yang berlindung di balik perisai dan tak bisa kamu sakiti sampai kamu membunuh pasukan yang ia bawa, hingga sekedar yang butuh kamu melakukan aksi tertentu untuk membuka shield unik mereka. Hasilnya adalah sensasi mode yang menantang, menarik, dan tidak monoton. Bukan lagi sekedar berusaha mengurangi nyawa boss yang butuh 30 menit sendiri, dengan tantangan yang terus sama.

Perubahan yang sama juga terjadi di Nightfall, yang bisa kamu sederhanakan sebagai mode Strike yang lebih sulit. Berubah tiap minggu, Nightfall akan menawarkan modifikasi dari misi-misi Strike yang selama ini kamu kenal, dan kemudian membubuhkan mekanik baru yang akan membuatnya lebih sulit. kamu akan menemukan batas waktu, mekanik baru yang memungkinkan kamu untuk menambahkan ekstra waktu, musuh yang lebih sulit dan mematikan yang tak akan kamu temukan di mode Strike biasa, hingga syarat dan ketentuan berbeda yang harus ditempuh untuk menyelesaikannya. Tidak selalu negatif, terkadang modifikasi kondisi ini juga menguntungkan kamu. Seperti di Nightfall pada saat review ini ditulis, kamu akan dibekali dengan musuh lebih sulit memang, namun juga dengan buff yang memungkinkan waktu cooldown skill kamu berada jauh lebih cepat dibandingkan dengan mode normal pada umumnya.

Dan pada akhirnya, tujuan “akhir” dari Destiny 2 itu sendiri – Raid. Tidak seperti Strike atau Nightfall yang berisikan hanya 3 orang dalam Fireteam, kamu butuh 6 orang untuk menyelesaikan. Dan tidak ada lagi desain misi yang lebih fantastis di game racikan Bungie ini selain mode Raid yang mereka tawarkan. Ia akan menguji hampir semua hal yang kamu miliki, dari komunikasi efektif antar anggota, kekuatan karakter kamu, pemahaman pada mekanik, hingga koordinasi. Terbagi menjadi beberapa bagian, tiap Raid akan menuntut kamu untuk berpikir dan bekerjasama. Ini bukan sekedar menghabisi musuh saja.

Seperti Raid Leviathan misalnya, di mode Gauntlet, setiap orang dari 6 orang Fireteam ini akan punya tugas untuk menyelesaikan satu puzzle yang akan menguji tidak hanya koordinasi, tetapi juga ketangkasan kamu. Harus berlari melewati tantangan yang ada, 2 orang harus berlari membawa bola, sementara 4 orang lainnya harus menembaki tombol untuk menghilangkan dinding penghalang jalan mereka. Semuanya dilakukan dengan kebutuhan untuk eksekusi perintah yang presisi. Lebih buruknya lagi? Untuk bisa melakukannya, keempat orang ini harus berdiri di lokasi yang berbeda-beda, yang masing-masing di antara mereka harus melawan musuh dan boss terlebih dahulu untuk bisa melakukannya, yang tentu saja, menguji kemampuan karakter mereka. Tidak memberikan toleransi besar pada kegagalan, kekeliruan super kecil pun akan cukup untuk membuat kamu mengulang proses yang sama kembali dari awal. Perjuangan tim kapalan mencicipi mode ini hampir selama 3 jam, berujung pada hasil nihil ketika review ini ditulis. Sesulit dan sekompleks itu.

Dengan perubahan seperti ini, Strike, Nightfall, dan Raid berperan fantastis sebagai misi “akhir” yang menarik, unik, menantang, dan tidak berakhir repetitif. Membuat tiap musuh dan boss secara rasional bisa ditundukkan adalah langkah Bungie yang pantas untuk diacungi jempol. Bahwa tantangan tidak hanya terletak pada sekedar peluru dan HP musuh, tetapi juga koordinasi dan kemampuan kamu untuk selamat dari tantangan platforming yang ada.

Lebih Bersahabat untuk Gamer Solo

Jika kamu sempat membaca review Destiny pertama tim kapalan di masa lalu, tim kapalan secara pribadi akan menyarankan kamu untuk memilih membeli / tidak game ini berdasarkan satu hal – apakah teman kamu mencicipinya juga atau tidak. Fakta bahwa proses grinding yang penuh rasa frustrasi di kala itu memang akan jauh lebih bisa dinikmati jika kamu terus berkomunikasi dan berckamu dengan teman kamu. Lagipula beberapa misi di kala itu juga memang didesain untuk hanya bisa dinikmati jika kamu punya tim. Tidak punya tim adalah mimpi buruk di Destiny pertama.

Lantas, bagaimana dengan Destiny 2 itu sendiri? Ini juga jadi aspek yang diperbaiki oleh Bungie itu sendiri. Berita baik untuk kamu yang berencana untuk memainkan game ini secara solo, ia kini jauh lebih bersahabat jika kamu tidak punya teman. Ada begitu banyak ruang untuk menikmati konten yang ada secara lengkap, sekaligus menikmati pengalaman penuh Destiny 2 yang seharusnya, walaupun kamu tidak punya tim untuk mencicipinya bersama-sama. kamu yang gamer solo akan mencintai Destiny 2.

Ada banyak perubahan yang signifikan, namun salah satu yang menurut tim kapalan menarik, adalah cara Bungie menangani misi bernama Public Event. kamu bisa menyebutnya sebagai mode “Strike” yang terjadi dan bisa diakses oleh semua orang di dalam format open-world. Ditkamui dengan sebuah logo jelas yang juga berisikan kapan waktu ia akan terpicu, Public Event akan memuat pertempuran epik dengan konten yang menantang untuk diselesaikan oleh para player bersama-sama tanpa harus tergabung di dalam Fireteam. kamu yang bermain solo selalu bisa mengejar misi yang satu ini dan menikmati epiknya bertarung bersama dengan player lain. Berita baiknya? Ada hadiah menarik pula yang bisa berujung pada equipment menarik yang bisa kamu pilih di sini.

Seperti yang tim kapalan bicarakan sebelumnya, bahwa tidak ada aktivitas yang sia-sia di Destiny 2, salah satu karakter NPC juga akan memberikan “hadiah” kepada kamu yang tertarik untuk memainkan ulang beberapa misi cerita, yang tentu saja bisa kamu tempuh seorang diri. kamu akan mendapatkan reward berupa loot dan Token untuk setiap pengulangan misi cerita utama yang kamu selesaikan, yang pada satu titik, akan bisa kamu tukarkan dengan item dan equipment lebih baik. Sebuah konsep yang kini memungkinkan kamu untuk memperkuat diri tanpa harus terjun ke dalam mode kompetitif sekalipun.

Tetapi jika kamu tertarik untuk memainkan misi level akhir termasuk Strike, selalu ada proses matchmaking di sana. kamu akan terhubung dengan dua pemain asing lainnya untuk menyelesaikan mode Strike, yang memang harus diakui, tidak butuh banyak koordinasi. Sistem loot yang terpisah antara satu karakter dengan karakter lainnya juga akan membuat perjalanan kamu terasa aman, karena tidak pernah ada kesempatan untuk saling berebut. kamu juga tidak perlu khawatir dengan aksi “trolling” bahwa kamu akan ditendang sebelum misi selesai dan sejenisnya, karena Bungie juga sudah mengimplementasikan sistem report untuk membantu kamu melaporkan mereka yang “nakal”, sekaligus satu merchant lain bernama “Postmaster” yang akan mengumpulkan secara otomatis semua equipment dan engram yang tak sempat kamu ambil secara manual setelah menyelesaikan misi sekalipun. Ini berarti, jikapun kamu ditendang setelah melawan boss sekalipun, kamu akan mendapatkan reward yang seharusnya, secara pasti. Ini menjadikan pengalaman matchmaking yang lebih solid.

Jika ini bukan proses yang menarik untuk kamu, kamu juga berkesempatan untuk bergabung ke dalam fitur baru lain yang ditawarkan oleh Destiny 2 – Clan. Benar sekali, kamu kini bisa tergabung ke dalam klan yang kamu pilih untuk tidak hanya melihat anggota klan mana yang lebih aktif, tetapi juga menghilangkan rasa canggung untuk ikut bergabung dalam Fireteam mereka. Berita lebih baiknya lagi? Klan yang kamu pilih juga akan menawarkan keuntungan tersendiri. Selain akses lebih mudah untuk mendapatkan Fireteam, kamu juga akan mendapatkan buff dan perk tergantung pada level klan yang ada. Di level akhir misalnya, klan bahkan akan memberikan perk persentase jatuh engram yang lebih besar jika kamu menyelesaikan misi bersama dengan anggota klan yang lain. Sebuah fitur yang tentu saja, tidak ingin kamu lewatkan begitu saja.

Bagaimana jika karakter kamu bertumbuh lebih kuat lagi dan Strike tak lagi menantang? Ekstra berita baik, Destiny 2 juga mengadaptasikan sebuah sistem baru bernama “Guide”. Ini berarti, gamer yang sudah menyelesaikan mode lebih sulit seperti Nightfall atau Raid, kini bisa berperan sebagai “Guide” untuk membantu gamer solo yang lain untuk menikmati konten yang sama, setidaknya di Nightfall. kamu yang bermain solo akan dibantu dan dibimbing oleh dua orang guide yang lebih berpengalaman ini, hingga kamu bisa menyelesaikan mode Nightfall “sendirian” dengan reward yang sepadan pula. Fitur chat di dalam game akan mempermudah proses seperti ini. Sementara untuk Guide mode Raid, kamu harus mengumpulkan ekstra anggota 2 orang untuk dibimbing oleh tiga orang Guide lainnya.

Dengan semua hal baru yang mereka implementasikan, sepertinya tidak berlebihan untuk menyebut bahwa Bungie berhasil melakukan permak ulang pengalaman untuk gamer yang lebih senang bermain solo. Alih-alih terasingkan, ada begitu banyak konten dan fitur baru yang kini menyertakan mereka sekaligus memberikan kesempatan untuk menikmati pengalaman Destiny 2 yang sebenarnya dan yang seharusnya.

Ruang Kompetitif

Dan tentu saja, Destiny 2 tidak selau soal kooperatif. Seperti halnya Destiny 1, ada mode Crucible yang didesain untuk memastikan gamer yang lebih tertarik pada mode kompetitif yang ada untuk bisa menikmati produk yang satu ini. Menariknya lagi? Aksi yang memuat pertempuran 4 vs 4 di beragam mode yang ada ini akan diposisikan dengan berat yang sama dengan mode kompetitif. Ini berarti, lewatnya, kamu bisa mendapatkan experience points, drop equipment, reward untuk item langka, hingga Token untuk ditukarkan demi item dan equipment lebih baik. Dibagi ke dalam banyak dunia yang didesain memanjakan mata, kamu yang senang mode kompetitif akan bisa menikmati mode ini tanpa masalah.

Crucible sendiri terbagi ke dalam dua kategori utama: Quickplay untuk kesenangan dan Competitive untuk kamu yang ingin menyelaminya dengan lebih serius. kamu akan menemukan banyak mode berbeda lagi di dalam masing-masing kategori ini. Quickplay diposisikan sebagai kategori yang tidak membutuhkan koordinasi dan kerjasama yang solid untuk dimenangkan. Dengan hanya mengkamulkan kemampuan pribadi kamu dan pemahaman soal desain arena pertempuran yang ada, kamu bisa berkontribusi signifikan. Ada mode yang hanya meminta kamu untuk menghabisi musuh yang lain, ada yang meminta kamu untuk mengumpulkan bola cahaya dari mayat mereka dan mengumpulkan point, hingga yang mode stkamur seperti menguasai area tertentu dalam batas waktu yang ditentukan. Sementara kategori Competitive, seperti namanya, akan menuntut kamu untuk terus berkoordinasi karena perannya yang krusial. Salah satu mode yang ditawarkan disusun dalam kompetisi memasang dan melindungi bahan peledak ala Counter Strike: Global Offensive.

kamu sendiri memang punya kesempatan untuk menikmati mode kompetitif ini sebagai fokus, tanpa menyentuh mode kooperatif sama sekali. Bungie membuka ruangnya lebar-lebar dan memberikan opsi bagi gamer yang tidak suka PvE untuk terjun dan tenggelam di dalam mode PvP mereka dengan tanpa sensasi dianaktirikan dari sisi reward yang ada. Sebuah keputusan yang pantas untuk diacungi jempol.

Kesimpulan

Jadi, apa yang bisa disimpulkan dari Destiny 2? tim kapalan dengan tanpa ragu akan menyebutnya sebagai penyempurnaan dari semua kelemahan Destiny 1. Rasa benci, frustrasi, cemas, dan ketakutan yang sempat terjadi di Destiny 1 versi vanilla yang tim kapalan cicipi di masa lalu teratasi di sini lewat konstruksi mekanisme gameplay, fitur, hingga cerita yang memang jauh lebih baik. RNG yang tak lagi jadi fokus dengan reward yang secara konsisten muncul dari hampir semua aktivitas yang muncul membuat proses grinding yang esensial untuk menikmati konten level akhir menjadi menyenangkan dan tidak terasa seperti sebuah “pekerjaan”. Untuk gamer yang solo, ada ruang untuk menikmatinya secara optimal, dari sekedar proses matchmaking, klan, hingga guide. Sementara untuk yang mencicipinya bersama tim, ini tetap game berbasis multiplayer yang akan membuat kamu tertantang di satu sisi, namun tidak sulit untuk menciptakan momen epik atau ckamu bersama yang akan berakhir memorable.

Walaupun demikian, bukan berarti game ini tidak punya kekurangan. Dua keluhan yang sempat tim kapalan bicarakan sebelumnya sepertinya menjadi satu-satunya hal yang pantas untuk dibicarakan: yakni kualitas visual yang tak meningkat signifikan dan tentu saja, mode cerita yang walaupun lebih jelas, tetap tidak menarik. Satu hal yang harus tim kapalan catat juga adalah fakta bahwa ia menawarkan pengalaman bermain yang secara garis besar, tidak banyak berbeda dibandingkan Destiny 1. Inovasi yang muncul lebih didesain untuk menyempurnakan formula di seri sebelumnya, alih-alih menyuntikkan formula baru yang mengubah apa yang kamu kenal dari seri Destiny sebelumnya.

Namun di luar kekurangan tersebut, Destiny 2 adalah game yang luar biasa.Tidak pernah terbayang bahwa tim kapalan, yang sempat menikmati trauma dan terror rilis vanilla Destiny 1 yang mengecewakan, hadir dengan kesimpulan ini. Bahwa tim kapalan dengan tanpa ragu, merekomendasikannya untuk kamu cicipi, terlepas apakah kamu sempat mencicipi Destiny 1 ataupun tidak. Ini akan jadi game FPS dengan elemen RPG yang mencuri hati kamu, terlepas dari apakah kamu bermain sendiri ataupun bersama dengan teman yang lain.

Kelebihan

  • Cerita lebih jelas
  • RNG tak lagi jadi fokus
  • Tidak ada aktivitas yang sia-sia
  • Bebas untuk berfokus main kooperatif atau kompetitif
  • Lebih bersahabat untuk gamer solo
  • Desain senjata unik yang keren
  • Skema dunia semi open-world yang lebih terstruktur
  • Fitur klan dan guide
  • Desain misi Strike, Nightfall, dan Raid yang keren

Kekurangan

  • Cerita tidak menarik
  • Visualisasi tidak meningkat signifikan
  • Banyak formula dari seri pertama yang kembali