Review Game RPG Dragon Quest XI – Echoes of an Elusive Age

Dragon Quest XI – Echoes of an Elusive Age

Bagi gamer penggemar JRPG, nama Square Enix memang selalu punya asosiasi kuat dengan dua kutub opini ekstrim: antara sangat suka atau antara sangat benci dengan produk yang mereka hasilkan, terutama untuk mereka yang memang sempat berbagi sejarah dengan game-game lawas mereka. Tangan developer / publisher Jepang yang satu ini melahirkan begitu banyak game JRPG yang sebagian di antaranya, memang tidak layak mendapatkan pujian. Namun tidak bisa dipungkiri, sebagian lainnya berujung memesona dan menawarkan hampir semua hal yang membuat gamer JRPG manapun akan jatuh hati sejak pkamungan pertama. Berita baiknya? Sensasi kedua inilah yang tim kapalan rasakan dengan Dragon Quest XI – Echoes of an Elusive Age.

kamu yang sudah membaca artikel preview tim kapalan sebelumnya tentu saja sudah mendapatkan sedikit gambaran terkait apa yang ditawarkan oleh Dragon Quest XI ini. Menawarkan sensasi klasik sebuah game JRPG berbasis turn-based, ia tampil menawan lewat implementasi sisi visual dan audio yang siap untuk membuat kamu jatuh hati. Campur tangan Akira Toriyama untuk mengembangkan desain karakter meninggalkan sensasi familiar, namun di sisi lain, tetap terasa menawan. Apalagi sistem equipment yang ia usung, beberapa di antaranya, juga memungkinkan kamu untuk mengubah tampilan karakter. Namun di antara semua elemen yang ia tawarkan, cerita adalah daya tarik utamanya.

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Dragon Quest XI – Echoes of an Elusive Age ini? Mengapa tim kapalan menyebutnya sebagai game RPG terbaik tahun ini? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk kamu.

Plot

Hidup remaja biasa yang berubah 180 derajat, ini adalah basis cerita untuk Dragon Quest XI: Echoes of an Elusive Age. Walaupun hadir dengan karakter protagonis yang ditentukan sebelumnya, kamu sendiri bebas menyematkan nama untuk sosok yang harus diakui, sedikit mirip dengan karakter Trunks dari Dragon Ball ini.

Sebuah upacara menuju kedewasaan justru membuka sebuah takdir baru bagi sang karakter protagonis. Dalam usaha untuk menyelamatkan teman masa kecilnya, ia menemukan bahwa ia memiliki sebuah kekuatan tersembunyi yang tercermin lewat sebuah logo yang tiba-tiba muncul di tangan. Kekuatan ini akhirnya membuat sang ibu, untuk menyampaikan sebuah pesan penting yang sudah ditinggalkan sang kakek jika momen ini memang tiba. Jika sang karakter protagonis menemukan kekuatan ini, ia harus berangkat menuju Kerajaan Heliodor dan bertemu dengan sang raja. Kekuatan dan logo ini adalah bukti bahwa ia adalah seorang Luminary, seorang ksatria cahaya yang ditakdirkan untuk menghapus kegelapan.

Namun kedatangannya ke Heliodor justru disambut dengan reaksi yang berkebalikan. Alih-alih disambut layaknya seorang penyelamat, Raja Heliodor justru memerintahkan sang Luminary untuk ditangkap. Mengingat tidak ada kegelapan tanpa cahaya dan sebaliknya, eksistensi Luminary ia yakini juga menjadi pertkamu bahwa kegelapan akan segera tiba. Tidak mampu melawan dan akhirnya dipenjara, di sanalah sang karakter protagonis bertemu dengan karakter companion pertamanya – Erik. Seiring dengan progress cerita, sang Luminary pun yakin bahwa ia harus memenuhi takdirnya. Bahwa misinya saat ini adalah berangkat ke pohon kehidupan – Yggdrasil untuk menghancurkan kegelapan.

Maka di sepanjang proses tersebut, ia pun bertemu dengan karakter-karakter companion yang kesemuanya mengikuti aksi Luminary untuk motivasi yang sama – membantunya menyelamatkan dunia yang ia cintai. Namun seperti yang bisa diprediksi, perjalanan tersebut tidak mudah. Pelan tapi pasti, kekuatan kegelapan yang selama ini hanya berdiri di belakang layar, menemukan jalannya untuk muncul ke permukaan dan mulai menghalangi aksi sang Luminary secara langsung. Semuanya diracik oleh penyihir jahat yang juga menjadi simbol dari kegelapan itu sendiri – Mordegon.

Lantas, tantangan seperti apa yang harus dilalui oleh sang karakter protagonis? Cerita seperti apa yang akan kamu racik bersama Luminary ini? Bagaimana pula ia akan berakhir? Semua jawaban dari pertanyaan tersebut bisa kamu dapatkan dengan memainkan Dragon Quest XI: Echoes of an Elusive Age ini.

Cerita yang Menawan

kamu yang sudah seringkali membaca JagatPlay sepertinya memahami bahwa tim kapalan jarang sekali memberikan satu highlight khusus untuk sisi cerita jika ia tidak berujung benar-benar menawan. Fakta bahwa tim kapalan melakukan hal tersebut dengan Dragon Quest XI ini adalah testimoni bahwa bahkan untuk ukuran sebuah game JRPG yang biasanya berakhir dengan kisah klise yang begitu stkamur, Square Enix melakukan tugas yang baik dengan game yang satu ini.

tim kapalan tentu saja tidak akan tega untuk melemparkan spoiler apapun di sini, namun satu yang bisa tim kapalan pastikan, apa yang ditawarkan Dragon Quest XI berujung lebih dari apa yang kamu temukan di permukaan begitu saja. kamu memang berperan sebagai Luminary, seorang ksatria cahaya yang tugasnya sudah pasti melawan kejahatan dan berakhir menang. Namun kemampuan tim developer untuk membuat cerita tersebut punya nilai emosional yang kuat dan begitu banyak momen memorable pantas untuk diacungi jempol. Sedikit mengingatkan tim kapalan pada apa yang berhasil dicapai Bkamui Namco dengan Tales of Abyss, dimana perjalanan sang karakter utama diproyeksikan sebagai perjalanan penuh tantangan dan tragedi. Pendekatan yang membuat sensasi heroisme yang lahir darinya, terasa lebih kuat.

Salah satu hal yang sangat berkontribusi pada kenikmatan cerita tersebut juga ada pada kekuatan karakteristik dari setiap karakter yang hadir sebagai companion kamu. Walaupun sang karakter utama adalah karakter bisu dengan kepribadian yang terhitung lemah, namun kehadiran karakter companion yang lain berhasil membuat suasana party lebih hidup. Ada Veronica – karakter penyihir kecil yang terus menyuarakan pendapatnya dengan suara lantang, Sylvando yang sedikit kewanita-wanitaan namun berfokus untuk menghadirkan senyum pada dunia, atau sekedar Rab – “kakek” kamu yang selain punya kemampuan bela diri kuat, ternyata juga menyenangi majalah-majalah dewasa super langka. Fakta bahwa mereka selalu hadir dalam cut-scene membuat setiap companion ini, terasa bernilai.

Hal yang bahkan lebih fantastis? Adalah eksistensi post-game yang tentu saja, tidak akan tim kapalan lemparkan sebagai spoiler pada kamu. Namun post-game ini tidak sekedar menawarkan kepada kamu dungeon ekstra atau area dengan tingkat kesulitan lebih tinggi saja, tetapi benar-benar porsi cerita yang diracik untuk menjelaskan dan menyempurnakan apa yang terjadi di cerita utama yang bisa memakan waktu antara 50-60 jam permainan. Post-game menawarkan sedikit perubahan dari komposisi party sekaligus sudut pkamung cerita menarik yang bisa kamu lihat sebagai “jalur alternatif” dari apa yang terjadi di cerita utama.

Maka dengan semua kombinasi ini, Dragon Quest XI: Echoes of an Elusive Age menjadi seri yang di mata tim kapalan, memiliki cerita yang berakhir fantastis. Bahwa ia lebih dari sekedar kisah klise seorang ksatria cahaya yang berusaha menghancurkan kegelapan. Ada sisi emosional dan kedalaman yang akan membuat sensasi heroisme mengalir lebih kuat.

Presentasi Memanjakan Mata dan Telinga

Jika kita berbicara soal satu aspek yang cukup mengejutkan tim kapalan dari Dragon Quest XI: Echoes of an Elusive Age yang tim kapalan jajal adalah betapa manis dan kerennya kualitas presentasi yang ia usung. Tentu saja tidak bermaksud merendahkan kualitas franchise yang di Jepang, bisa dikategorikan sebagai “sekte” mengingat popularitas seri masa lampau yang bahkan sempat membuat angka absen di sekolah dan tempat kerja meningkat ini, namun ia berujung jauh lebih memesona daripada apa yang tim kapalan prediksi. Segala sesuatuya berada di tempat yang tepat.

Walaupun mengusung kualitas visualisasi ala kartun untuk versi Playstation 4, detail yang ditawarkan oleh Dragon Quest XI ini tetap pantas untuk diacungi jempol. Beberapa hal kecil seperti animasi gerak hingga sekedar desain kostum, termasuk kostum alternatif yang bisa kamu gonta-ganti, memperkuat sensasi bahwa kamu memang tengah berpetualang di sebuah dunia fantasi. Animasi serangan untuk beragam skill yang ada juga pantas untuk diacungi jempol. Semua gerakan terlihat rasional untuk status kamu sebagai ksatria, dan tidak menyentuh bantah terlalu berlebihan, seperti kemampuan melemparkan meteor atau menghancurkan bulan misalnya. Namun bagi tim kapalan, daya tariknya terletak pada cita rasa Dragon Quest lawas yang tetap dipertahankan, dari desain monster yang terlihat imut tetapi juga mengancam di saat yang sama, beragam tempat dengan beragam tema, hingga kontras warna cerah yang membuat dunianya terlihat lebih menarik.

Bukan bermaksud untuk tampil mata keranjang, namun apresiasi ekstra juga sepertinya pantas untuk dilayangkan pada desain karakter wanita yang ditawarkan di sini, baik untuk sekedar NPC ataupun karakter companion yang kamu temukan. Akira Toriyama seolah sudah menemukan formula yang tepat untuk menciptakan sosok semenarik Bulma di Dragon Ball, namun punya kostum yang lebih fantastis dengan kepribadian yang siap untuk membuat hati kamu luluh. Hampir semua karakter wanita, dari Jade, sang Mermaid, hingga Serenica berhasil tampil menawan. Mengkombinasikan mereka dengan kostum yang lebih sensual? kamu bahkan terkadang cukup tergoda untuk memilih memprioritaskan sisi kosmetik daripada memilih memperkuat status yang ada.

Presentasi fantastis ini juga meluncur dari desain audio dan musik yang ada. Untuk catatan, salah satu alasan mengapa proses translasi dari Dragon Quest XI dari pasar Jepang ke pasar Barat adalah tambahan voice acting di dalamnya. Sejauh ini? Voice acting tersebut pantas mendapatkan acungan jempol. Mengambil akses Eropa berbeda-beda yang didistribusikan pada karakter yang ada, voice acting berjalan natural dan tidak kaku, cukup untuk membuat setiap karakter ini terasa hidup. Namun yang lebih mengagumkan adalah OST itu sendiri. Walaupun tidak terdengar fenomenal di awal, namun dentuman setiap nada yang ia tawarkan, terutama untuk lagu pembuka pelan tapi pasti akan berujung terekam oleh otak kamu. kamu tidak bisa menghindarinya. Ia terasa aneh di awal, namun berakhir membuat kamu jatuh hati di akhir.

Dengan semua kombinasi elemen dari sisi presentasi ini, Dragon Quest XI: Echoes of an Elusive Age tampil menawan, baik dari sisi visual ataupun audio yang ada. kamu bisa melihat bahwa kerja keras dan komitmen untuk membuat seri ini tampil sebagai seri Dragon Quest terbaik yang pernah dirilis ke pasaran.

Sensasi JRPG Klasik

Terlepas dari beragam usaha untuk meracik sensasi yang lebih modern dengannya, terutama dari sisi presentasi visual dan audio, Dragon Quest XI tetap hadir dengan sensasi JRPG klasik yang seharusnya. Jika kamu tidak terlalu familiar, kita berbicara soal game JRPG berbasis turn-based yang meminta kamu untuk menyerang bergiliran tanpa ada informasi jelas soal giliran itu sendiri. Maka kamu akan berhadapan dengan sensasi JRPG klasik di tengah tren untuk mendefinisikan kata “RPG modern” sebagai game “action RPG”. Sebuah keputusan yang tentu saja, pantas disambut dengan tangan terbuka.

Berbasiskan HP untuk nyawa dan MP untuk resource mengakses serangan spesial, yang beberapa di antaranya spesifik pada karakter tertentu, kamu akan bertarung melawan beragam musuh yang kesulitannya lebih pada soal kesullitan memprediksi kecepatan dan kira-kira serangan apa yang bisa mereka lontarkan, terutama untuk boss yang ada. Namun sisanya, tampil sederhana. Tidak seperti game JRPG ala Persona yang menuntut kamu untuk memahami kelemahan musuh dan mengeksploitasi hal tersebut misalnya, Dragon Quest XI hadir dengan sistem yang lugas. Setiap musuh (selain yang hadir dari varian Metal) bisa kamu hajar dengan skill apapun yang kamu miliki, baik yang berbasis AOE ataupun tidak, atau sekedar serangan biasa untuk menundukkannya. Seperti halnya game JRPG, kamu juga akan dibekali dan harus menghadapi beragam efek buff ataupun status yang menjengkelkan.

Salah satu kunci kemenangan paling esensial dari Dragon Quest XI adalah mencari dan menemukan komposisi party terbaik untuk gaya bermain kamu. Jika melihat limitasi yang harus kamu hadapi, opsi yang satu ini memang terhitung fleksibel, baik karena tiap karakter jelas punya peran yang cukup jelas dan lebih efektif, tetapi juga dipengaruhi oleh fakta bahwa setiap dari mereka punya kebebasan untuk berganti ke satu atau dua senjata berbeda yang juga akan mempengaruhi jenis skill apa yang bisa mereka akses dan bawa ke pertempuan.

Sebagai contoh? Karakter companion kamu – Serena misalnya. Hadir sebagai peran yang serupa dengan “White Mage”, ada dua senjata yang bisa digunakan oleh Serena. Pertama adalah tombak yang secara rasional, tentu membuat damage serangan fisik yang ia lontarkan lebih mematikan, membuatnya efektif untuk line up ofensif kamu. Tetapi di sisi lain, Serena juga bisa dipersenjatai dengan Wand yang lebih memperkuat citranya sebagai seorang penyihir yang berfokus pada magic-magic penyembuhan dan buff. Fleksibilitas untuk memilih senjata dan peran seperti apa yang kamu igninkan untuk Serena dan kemudian melihat kira-kira apakah ia punya “tempat” untuk lineup yang kamu inginkan akan menentukan seberapa mudah atau sulitnya kamu memenangkan sebuah pertempuran.

Kerennya lagi? Memilih anggota party seperti ini tidak lantas membuat mereka terkunci begitu saja. kamu tetap bisa mengganti line-up secara langsung di pertarungan, kapanpun kamu inginkan, jika kamu ingin beradaptasi dengan strategi tertentu atau sekedar ingin menarik keluar karakter yang tengah tewas atau kesulitan, misalnya. Memanfaatkan fitur seperti ini di beberapa pertarungan memang terasa esensial, apalagi jika kamu merasa karakter tertentu memang lebih efektif berhadapan dengan situasi tertentu, seperti pertarungan yang menuntut serangan AOE misalnya. Membawa Veronica atau Rab ke medan pertempuran akan membuat kondisi seperti ini lebih mudah untuk ditundukkan.

Dragon Quest XI juga menyuntikkan sebuah sistem AI bernama “Tactics” yang memungkinkan pertarungan berjalan secara otomatis. Untuk kondisi pertarungan berulang, apalagi jika kamu ingin melewati proses grinding menuju ke level selanjutnya, fitur yang satu ini akan sangat membantu. Terbagi ke dalam beberapa fungsi dari membiarkan karakter menyerang membabi buta tanpa memerhatikan MP atau berfokus pada healing misalnya, sistem Tactics ini untungnya cukup “cerdas” untuk beradaptasi pada sebagian besar skema pertarungan saat melawan musuh biasa. Namun untuk pertarungan boss, walaupun Tactics ini bisa menanganinya, tim kapalan sendiri lebih merekomendasikan kamu untuk mengendalikannya secara manual.

Proses grinding memang tidak terpisahkan dari seri Dragon Quest, baik untuk seri masa lampau ataupun untuk seri kesebelas ini. Diwajibkan? Tentu saja tidak. Namun para penggemar JRPG sepertinya memahami bahwa ekstra waktu yang kamu dedikasikan untuk mencari level akan terbayarkan manis ketika kamu mulai memasuki end-game atau pertarungan boss di pertengahan cerita. Kenaikan level tidak hanya akan secara otomatis memperkuat status karakter saja, tetapi juga menghadiahi kamu sejumlah skill points yang bisa didistribusikan di Skills Grid yang terbagi atas beberapa kategori. kamu bisa membuka skill serangan baru, menyuntikkan skill pasif, hingga sekedar membuat kamu tampil lebih efektif dengan senjata yang kamu pilih seperti melakukan dual-wielding misalnya. Kenaikan level juga berkontribusi pada hal tersebut.

Untungnya, Dragon Quest tetap menyuntikan monster ikonik mereka – Metal Version dari beragam monster slime yang kamu temukan. Menemukan monster-monster yang muncul secara acak ini (walaupun punya probabilitas lebih tinggi di area-area tertentu) akan membuat proses grinding kamu lebih cepat. Susah dibunuh, cepat lari dari arena pertempuran, namun punya HP kecil, setiap varian monster Metal ini akan memberikan kamu jumlah EXP hingga 20 kali lipat dari sebagian besar monster di area yang sama. Menemukan mereka dan berhasil membunuh setiap dari mereka selalu meninggalkan rasa puas, apalagi jika ia membuat karakter kamu naik level langsung.

Sementara dari proses eksplorasi, Dragon Quest XI juga menawarkan kenyamanan tersendiri. Selain bentuk encounter dengan musuh yang terlihat, hingga bisa kamu hindari jika mood untuk bertarung berada di titik terendah, kamu juga akan dibekali dengan sebuah magic bernama “Zoom”. Dengan magic yang tidak menguras MP ini, kamu bisa meloncat ke kota manapun yang pernah kamu kunjungi yang bisa saja, memuat side mission di dalamnya. kamu juga dibekali dengan mini-map pula untuk setiap area untuk membantu kamu menemukan jalan kemana kamu harus melangkah. Kerennya lagi? Ada beberapa jenis monster yang jika kamu tundukkan dan biasanya hadir berkilau, yang bisa kamu tunggangi. Tunggangan ini akan memungkinkan kamu mengakses area yang lebih luas di lokasi yang sama.

Salah satu elemen pertarungan lain yang akan membantu kamu bertarung adalah kondisi “berserk” yang di Dragon Quest XI ini disebut sebagai Pep Powers. Berbeda dengan game JRPG lain yang kondisi khusus ini biasanya punya pemicu yang jelas, seperti jumlah HP kritis dan sejenisnya, Pep Powers di Dragon Quest XI hadir dengan sistem acak. Ini berarti, kamu tidak bisa memprediksi seberapa sering dan apa saja yang memicu karakter kamu masuk ke dalam fase ini. Namun jika ia masuk dalam fase ini, sang karakter bisa mengakses serangan-serangan spesial yang juga ditentukan oleh party yang kamu bawa dalam pertarungan, mengingat sifatnya yang mengarah pada proses kolaborasi antara dua karakter atau lebih. Tidak hanya soal menyerang dengan damage besar, Pep Powers bisa berujung pada proses healing, buff, atau melemparkan efek status pada musuh.

Maka di luar memilih dan menentukan party kamu, melakukan sedikit proses grinding untuk mempermudah perjalanan, maka sisanya adalah menentukan dan belajar soal apa yang bisa dilakukan dan tidak dilakukan oleh skill karakter kamu dan menentukan timing yang tepat untuk mengaksesnya. Karena di beberapa pertarungan, terutama saat melawan boss, tidak jarang kamu akan bertemu dengan musuh yang bisa melakukan 2-3 kali aksi untuk setiap turn yang ada. Terkadang, kamu memang harus membuat satu anggota party untuk berfokus hanya pada fungsi saja untuk memastikan kamu bisa bertahan hidup. Karena pada akhirnya, untuk ukuran sebuah game JRPG, Dragon Quest XI sendiri bukanlah game yang terhitung mudah.

Ragam Aktivitas

Maka pendekatan yang lebih “modern” untuk Dragon Quest XI juga ditawarkan lewat konsep ragam aktivitas yang bisa kamu lakukan, selain menyelamatkan dunia dari kegelapan yang mengancam. Namun jangan berharap bahwa kamu akan menikmati misi sampingan dengan kualitas yang serupa dengan The Witcher 3: Wild Hunt misalnya, yang semuanya dibangun dengan cut-scene khusus, pilihan respon, atau cerita yang kuat. Hampir sebagian besar misi sampingan di Dragon Quest XI hadir sederhana, dimana kamu “hanya” diminta untuk membunuh monster tertentu, mencari seseorang, atau mengumpulkan item tertentu. Rewardnya sendiri pantas dikejar, karena ia biasanya menawarkan equipment ataupun material. Sayangnya, tidak EXP Points.

Material? Benar sekali, karena Dragon Quest XI juga memuat fitur crafting di dalamnya. Bahkan, sebagian besar senjata dan equipment terkuat yang bisa kamu gunakan dalam game semuanya berpusat pada proses crafting itu sendiri. Selain mengumpulkan resep yang dibutuhkan (yang bisa didapatkan dari beragam sumber, peti ataupun buku bacaan di rumah NPC), kamu juga harus memastikan bahwa semua material yang dituntut juga sudah tersedia.

Yang menarik? Adalah sistem crafting itu sendiri yang ternyata, tidak pasif. kamu diharuskan untuk menempa sendiri equipment yang kamu inginkan. Mini-game akan mengemuka, dimana kamu harus memastikan bahwa tempaaan kamu masuk ke dalam zona aman untukk setiap bagian yang ada. Sang karakter protagonis akan dibekali dengan beberapa kemampuan, dari memanaskan suhu material untuk pukulan yang lebih efektif atau sekedar memukul beberapa bagian secara instan. Jika dilakukan dengan baik, kamu bisa mendapatkan kualitas “+3” dengan status lebih kuat untuk senjata, armor, ataupun aksesoris. Gagal? Jangan khawatir. Ada kesempatan untuk menempa ulang mereka dengan resource spesifik tertentu.

Dragon Quest XI juga menyimpan beragam rahasia di dunianya, yang tentu saja berbeda dengan misi sampingan yang jelas tercatat di jurnal. Ada pintu-pintu rahasia yang sesuai progress cerita baru bisa kamu temukan kuncinya, yang berisikan reward cukup menarik untuk mendorong kamu untuk mengeksplorasi dunia ini kembali dan merebutnya. Ada skema sedikit semi open-world di titik cerita dimana kamu berkesempatan untuk menentukan sendiri kemana kamu harus bergerak dan melangkah, ada sistem mengumpulkan Mini-Medal untuk reward, sekedar aktivitas memanah beragam target yang tersembunyi di beberapa lokasi, hingga berjuang untuk menjadi yang terbaik di aksi balapan kuda atau mengatasi gelombang musuh sebagai latihan. Salah satu yang paling adiktif? Tentu saja kasino yang memuat banyak barang yang terlalu berharga untuk dilewatkan begitu saja.

Untungnya, hampir semua misi sampingan yang ada ini juga memiliki detail soal hadiah seperti apa yang akan kamu dapatkan jika berhasil menyelesaikannya. Jadi jika kamu tidak tertarik dengan reward yang ada dan tidak banyak ambil pusing dengan trophy, kamu selalu bisa mengabaikannya.

Kesimpulan

Bagi para penggemar JRPG lawas, sepertinya akan dengan mudah jatuh cinta dan menikmati apa yang ditawarkan oleh Square Enix di Dragon Quest XI: Echoes of an Elusive Age ini. Bahwa pendekatan klasik yang ia usung di sisi gameplay, termasuk proses grinding dan bagaimana lugasnya sistem pertarungan turn-basednya bekerja, menjadi pondasi yang membungkus elemen lain yang tidak kalah memesona. Cerita soal kepahlawanannya berujung emosional, voice act yang terasa natural, musik yang dengan mudah terbakar di otak kamu, hingga kualitas visualisasi terutama dari desain karakter wanita yang memanjakan mata. Untuk ukuran sebuah game JRPG, tidak ada lagi yang bisa kamu pinta dari Dragon Quest XI yang menawarkan gameplay hingga 80 jam untuk tim kapalan ini.

Namun jika harus berbicara soal satu kekurangan yang harus tim kapalan catat, adalah opsi romansa itu sendiri. tim kapalan mengerti bahwa Dragon Quest XI sebenarnya tidak memuat fitur hubungan dengan karakter wanita yang lain dan oleh karena itu, menihilkan opsi romansa. tim kapalan mengerti hal tersebut. Hanya saja sebagai gamer yang “menjagokan” karakter wanita tertentu untuk menjadi pasangan hidup sang karakter protagonis, fakta bahwa game sudah memilih dan menentukan siapa itu tanpa opsi menggantinya, tentu saja terasa cukup mengecewakan. Apalagi karakter wanita yang dipilih tersebut berujung ternyata tidak punya peran yang signifikan dalam cerita, walaupun punya latar belakang cerita yang cukup kuat.

Namun di luar kelemahan super kecil tersebut, Dragon Quest XI: Echoes of an Elusive Age tidak hanya sekedar memenuhi saja, tetapi juga melampaui hampir semua ekspektasi yang tim kapalan lontarkan padanya. Bahwa pada akhirnya, ia mengeksekusi hampir semua elemen yang ada dengan nyaris sempurna. Cukup untuk membuat tim kapalan tidak hanya melihatnya sebagai game RPG terbaik tahun ini (sementara ini), tetapi juga salah satu petarung kelas berat untuk kandidat Game of the Year nantinya.

Kelebihan

  • Cerita yang kuat dan emosional
  • Sistem JRPG klasik
  • Desain karakter dan dunia
  • Kualitas visualisasi
  • Musik yang memorable
  • Beragam reward yang mendorong proses eksplorasi
  • Sistem crafting cukup menggoda untuk dikejar
  • Voice acting versi barat yang terasa natural
  • Jade, Jade, Jade, Jade, Jade
  • FMV terlihat manis

Kekurangan

  • Romansa karakter utama sudah ditentukan sebelumnya