Review Game Sekiro: Shadows Die Twice

sekiro shadows die twice

Salah satu highlight dan konten yang paling tim kapalan antisipasi dari keseluruhan perjalanan tim kapalan ke Tokyo Game Show 2018, tidak ada lagi kesempatan yang lebih tepat untuk memuaskan rasa penasaran tim kapalan pada judul game terbaru racikan From Software – Sekiro: Shadows Die Twice. Game yang terlihat memukau dari beragam trailer dan screenshot ini memang selalu didengungkan sebagai game yang punya cita rasa Souls, namun di sisi yang lain, punya daya tarik yang berbeda. Untungnya, tidak perlu menunggu terlalu lama, demo berdurasi 15 menit yang tim kapalan jajal ini langsung membawa tim kapalan pada sensasi Sekiro: Shadow Die Twice yang seharusnya. Sebuah seri bukan-Souls yang sepertinya tetap akan membuat para pencinta seri Souls, jatuh hati sejak pandangan pertama.

Sebelum menyelam lebih jauh ke dalam mekanik gameplay yang ada, Sekiro: Shadows Die Twice pantas mendapatkan acungan jempol dari sisi presentasi. Atmosfer Jepang di era Shengoku “fiktif” yang penuh konflik, lengkap dengan desain beragam arstitektur besar ataupun kecil yang merepresentasikan tersebut, memang membuat Sekiro: Shadows Die Twice ini terlihat memesona. Hampir segala sesuatunya dikerjakan dengan penuh detail, dari sekedar pakaian yang dikenakan oleh sang Shinobi hingga beragam animasi yang ia hasilkan, dari berjalan, melompat, hingga tentu saja, bertarung dengan menggunakan pedang. Dengan efek partikel kecil dari sekedar salju yang jatuh dari pohon saat kamu berdiri di atasnya hingga dentingan pedang saat kamu beradu, presentasi berada di arah yang tepat.

Lantas, apa yang bisa tim kapalan tangkap dari Sekiro: Shadows Die Twice ini? Apa yang membuatnya terasa berbeda atau justru, serupa dengan seri Souls? Inilah impresi pertama tim kapalan:

Souls, Tapi Bukan Souls

Apa yang mendefinisikan sebuah seri Souls sebagai sebuah seri Souls? Ada indikator yang tentu saja jelas seperti nama “Souls” dan “From Software” yang berdiri di belakangnya. Namun bagi gamer yang sempat menjajal sub-genre dari action RPG ini, ia selalu menawarkan sesuatu yang pasti di dalamnya – tingkat kesulitan. Bahwa terlepas apakah sang developer bisa menangani aspek lain sebaik yang dilakukan From Software dengan seri Bloodborne atau Souls misalnya, Souls-like seringkali didefinisikan dengan sebuah game yang punya ruang celah kesalahan yang sangat kecil, hingga sedikit salah kalkulasi kamu bergerak atau menyerang, maka konsekuensinya akan sangat fatal. Hal yang sama juga terjadi di Sekiro: Shadows Die Twice ini.

Intisarinya, ini masihlah sebuah game yang punya intisari seri Souls dari From Software seperti yang kamu kenal. Pertarungan berjalan begitu ketat dan punya ruang kesalahan yang kecil. Namun tidak lagi sekedar HP, kamu kini juga mendapatkan indikator baru bernama “Posture”. kamu bisa melihatnya sebagai “HP kedua” yang jika terisi penuh, akan membuat kamu ataupun musuh kamu, masuk ke dalam posisi stagger. Jika ini terjadi, maka kamu bisa melayangkan serangan pemungkas yang bisa membunuh mereka secara instan, atau di kasus-kasus pertarungan seperti boss dan mini-boss, melemparkan damage yang cukup besar. Melakukan parry di saat yang tepat juga akan memperkecil jumlah damage Posture yang kamu dapatkan. Ini berarti, ada ekstra bar yang harus kamu perhatikan di luar HP sendiri.

Namun untungnya, seperti halnya seri Soul, ada item penyembuh yang bisa kamu gunakan untuk memastikan pertarungan berjalan lebih lama. Tetapi, seperti namanya, mekanik paling unik dari Sekiro adalah kesempatan untuk tidak sekedar mati sekali, tetapi mati dua kali sebelum kamu berhadapan dengan layar Game Over. kamu bisa memilih untuk bangkit kembali dan melakukannya dengan hanya satu tombol sederhana saja.

Tidak sekedar memberikan kamu kesempatan ekstra untuk melawan siapapun yang berhasil menghabisi kamu, mekanik ini juga bisa digunakan untuk memutar balikkan keadaan yang genting. Mengapa? Karena ketika kamu tewas untuk pertama kalinya, musuh akan menurunkkan agresivitas mereka dan memperlakukan kamu seperti layaknya mayat, kembali melakukan aktivitas mereka masing-masing. Menunggu momen yang tepat untuk hidup kembali dan memanfaatkan kondisi seperti ini bisa membantu kamu mendapatkan keuntungan strategis tertentu. Mekanik hidup kembali ini sendiri tidak akan bisa kamu eksploitasi berlebihan. Ada limitasi berbentuk sebuah ikon di bagian kiri bawah yang akan menentukan apakah kesempatan tersebut tersedia atau tidak. Lewat demo singkat ini, tim kapalan sayangnya tidak bisa menentukan apa yang sebenarnya bisa membuat kekuatan tersebut kembali. Namun spekulasi utama saat ini sepertinya mengarah pada apakah kamu berhasil menghabisi musuh yang sempat menghabisi kamu untuk pertama kalinya tersebut.

Salah satu hal yang cukup unik dari Sekiro: Shadows Die Twice juga terletak pada pentingnya peran tangan buatan milik Shinobi untuk mengatasi beragam rintangan yang ada. Di sesi demo 15 menit ini, tim kapalan dipersenjatai dengan tiga buah fungsi Prostethic Arms milik Shinobi – api, shuriken, dan sebuah kapak besar. Kapak menjadi yang paling sering tim kapalan gunakan mengingat sensasi menggunakannya yang mirip dengan kapak dari Bloodborne. Satu kali terkena serangan ini cukup untuk menghancurkan posture musuh non-boss dan membuat kamu bisa mengakses serangan pemungkas dengan cepat. Sementara Shuriken bisa dilemparkan tidak untuk damage, namun mengakses serangan sang Shinobi yang otomatis akan melakukan “teleport” ke arah Shuriken dilemparkan. Sementara untuk serangan api, kamu sepertinya bisa memprediksi apa yang akan terjadi.

Main “Cantik”

Selain beberapa mekanik baru yang ia tawarkan, ada satu hal yang terasa berbeda antara Souls dan Sekiro, yakni kesempatan untuk melakukan progress gemilang di permainan kamu dengan cara bermain “cantik”. Bahwa ini tidak selamanya selalu berkutat pada usaha untuk membunuh setiap musuh yang kamu temui begitu saja lewat pertarungan 1 vs 1. Ada banyak cara untuk mengatasi setiap rintangan di Sekiro, dan karenanya, berujung menghasilkan pengalaman gaming yang lebih dinamis dibandingkan seri Souls sebelumnya.

Dari hal sesederhana seperti Stealth misalnya. Mengingat bahwa proyek ini di awal adalah sebuah seri Tenchu yang kemudian berkembang begitu berbeda dan tumbuh menjadi identitas yang baru dan kita kenal sebagai Sekiro saat ini, identitas Stealth masih menjadi bagian tidak terpisahkan darinya. Sekiro punya satu tombol spesifik yang diarahkan sebagai tombol crouch, membuat sang Shinobi bisa bersembunyi di semak-semak ketika berusaha menghabisi musuh dari belakang, seperti game Stealth pada umumnya. kamu juga kini akan mendapatkan indikator terpisah dari musuh untuk memberikan kamu ide apakah posisi kamu saat ini diketahui atau tidak.

Dengan musuh yang sebagian besar dibunuh dengan satu serangan saja dari posisi Stealth seperti ini, kamu sepertinya berkesempatan untuk mendorong progress Sekiro dengannya. Selain melakukan crouch, kamu juga akan dibekali dengan kemampuan game stealth lain – Hug the Wall. Ini berarti kamu bisa bersembunyi dengan menempel pada tembok yang ada, menunggu musuh melewati kamu tanpa diketahui, dan langsung menyerang mereka dari belakang. Walaupun mekanik ini akan tentu saja sangat berguna, kamu tetap tidak akan bisa menyelesaikan game ini sepenuhnya dengan Stealth, mengingat sebagian besar boss tetap harus kamu kalahkan dalam pertarungan terbuka.

Aspek lain dari bermain “cantik” Sekiro juga seperti yang tim kapalan sebutkan sebelumnya, sangat bergantung pada aksi kamu menggunakan beragam fungsi Prostethic Arms milik Shinobi itu sendiri. Menggunakan Shuriken misalnya, akan sangat efektif untuk membunuh salah satu tipe musuh yang lemah, namun berfungsi sebagai alarm untuk musuh yang lain. Sesi demo 15 menit tim kapalan membuat tim kapalan bertemu dengan musuh yang menempatkan dirinya di posisi yang begitu strategis, dimana ia bisa melihat cukup jelas kondisi musuh yang lain dan aksi kamu. Jika kamu tidak membunuhnya terlebih dahulu dengan menggunakan Shuriken misalnya, maka besar kemungkinan ia akan memukul gendang yang ia miliki dan memancing kewaspadaan semua musuh yang berada di sekitar. Hasilnya? kamu akan bertarung dan kalah dari segi kuantitas. Mengetahui dan belajar soal musuh mana yang jadi prioritas untuk diberantas terlebih dahulu juga akan menjamin kemenangan.

Maka dengan kombinasi antara mode Stealth yang dipermak dengan begitu baik dan juga kesempatan menggunakan beragam fungsi Prostethic Arms yang dimiliki oleh sang Shinobi, Sekiro menawarkan sesuatu yang tidak ditawarkan oleh seri-seri Souls dan Bloodborne sebelumnya – fleksibilitas untuk mencapai tujuan kamu. Bahwa ia tidak selalu berujung dengan sekedar bertarung dan belajar soal animasi serangan musuh saja, tetapi kali ini, juga memerhatikan dan mengingat posisi musuh di setiap lingkungan yang kamu temui dan kemudian menempuh jalur yang paling tidak beresiko sembari “membersihkan” mereka dengan cara yang paling minim resiko.

Vertikal!

Desain lingkungan yang ditawarkan oleh Sekiro: Shadows Die Twice kini juga memuat sisi vertikal yang jauh lebih banyak dibandingkan seri Souls dan Bloodborne. Bahwa tidak lagi bergerak di sebuah dunia yang sepertinya akan terbuka hanya dari sisi horizontal saja, kamu kini punya banyak ruang untuk juga bergerak ke atas dan ke bawah berkat perangkat lain yang dimiliki oleh sang Shinobi – Grappling Hook. Dengan alat sederhana yang satu ini, kamu bisa memanjat dengan super cepat untuk sekedar mencari lokasi selanjutnya atau memanfaatkannya untuk keuntungan kamu saat bertarung. Posisi lebih tinggi berarti memungkinkan kamu lebih waspada soal posisi musuh di sekitar dan “membaca” area dengan lebih tepat.

Tentu saja, ini tidak otomatis membuat Sekiro punya elemen platformer di dalamnya. kamu tidak akan bisa menggunakan Grappling Hook ini sebebas yang kamu inginkan. Ia hanya bisa dikaitkan pada lokasi-lokasi tertentu saja, yang biasanya berbentuk pohon ataupun atap bangunan. Akan ada indikator berwarna putih yang muncul setiap kali posisi kamu dekat dengan area-area ini, dan akan otomatis berwarna hijau ketika kamu bisa langsung menekan tombol Grappling Hook dan langsung mengaitkannya di sana. Sistem seperti ini juga membuat kamu lebih mudah menerka kira-kira kemana, game ini hendak meminta kamu bergerak.

Karena percaya atau tidak, kehadiran level vertikalitas yang lebih daripada seri Souls ataupun Bloodborne ini, bagi tim kapalan yang sempat mencicipi seri-seri From Software yang lain, cukup membingungkan. Sebagai contoh? Sebelum sesi demo, salah satu orang Sony menyebut bahwa sesi gameplay 15 menit tim kapalan sebenarnya memuat pertarungan boss, melawan sebuah monk yang stand milik Sony di TGS 2018, memang menjadi patung utama di sana. Namun setelah mengatasi dua buah mini-boss dengan cepat dan masih punya banyak sisa waktu, tim kapalan tidak bisa menemukan jalan menuju ke boss Monk ini. Pikiran dan gaya bermain Souls yang masih berkutat pada desain “horizontal” membatasi tim kapalan.

Ternyata oh ternyata, boss tersebut terletak di sebuah salah satu sudut yang mengharuskan kamu untuk memanjat sebuah pohon terlebih dahulu menggunakan grappling hook, dan kemudian melompat turun ke sebuah tanah bersalju yang berada di bawahnya. Mengingat tidak ada indikator yang jelas terkait kemana kamu harus melangkah dan seberapa tinggi sebenarnya sang Shinobi bisa mendarat tanpa tewas, tim kapalan mengasumsikan bahwa mustahil untuk melompat ke area tersebut. Dan ternyata, di sanalah boss monk yang membuat tim kapalan penasaran tersebut berada. Level vertikalitas yang ditawarkan Sekiro sepertinya akan jadi tantangan ekstra untuk menyelesaikan game yang satu ini.

Satu yang menarik adalah bagaimana cara mereka “melunakkan” sistem kematian jika kamu berujung salah lompat dan tewas. Tidak langsung akan membuat kamu harus mengulang segala sesuatunya kembali dari titik checkpoint terakhir ala seri Souls, melompat dari ketinggian dan tewas (setidaknya dari versi demo yang tim kapalan jajal) akan membuat kamu mengulangnya dari tempat terakhir melompat dan bukan dari tempat checkpoint. Setidaknya, ini membuat kamu seharusnya, tidak perlu takut untuk menjajal kira-kira kemana kamu bisa melompat jatuh dan tidak.

Sekiro: Shadows Die Twice, Pantaskah untuk Diantisipasi?

kamu sepertinya sudah mengetahui dengan jelas kira-kira jawaban seperti apa yang akan tim kapalan ambil. Tentu saja, pantas! Bagi gamer generasi muda yang tidak pernah terlalu mengerti dan memahami soal Tenchu misalnya, bisa melihatnya sebagai sebuah game seri Souls yang juga mengimplementasikan konsep ala MGS V: The Phantom Pain sendiri di dalamnya. Bahwa kamu masih akan mendapatkan sensasi Souls yang sulit dan menegangkan di setiap pertarungan, namun kini diberikan kesempatan untuk bermain “cantik” dengan menggunakan sistem stealth dan beragam Prostethic Arms milik si Shinobi itu sendiri. Dipadukan dengan kualitas visualisasi menawan dan atmosfer yang tepat, From Software kembali memperlihatkan tajinya sebagai developer kawakan yang sangat memahami, apa yang ingin mereka capai dengan judul yang mereka racik. Ini adalah judul, yang tidak ingin kamu lewatkan.