Tekken 7 | Game Battle Legendaris Beserta Fiturnya

tekken 7

Tekken, gamer mana yang belum pernah mendengar nama game fighting dari Bkamui Namco yang satu ini? Terutama untuk gamer Indonesia yang sempat merasakan popularitas Playstation dan era bajakan yang begitu leluasanya di masa itu, Tekken 3 sepertinya jadi game wajib untuk dimainkan. Ia terlihat memesona untuk sebuah game fighting dengan model tiga dimensi di kala itu, berhadapan dengan game sekelas Bloody Roar atau Rival School yang tak mampu menawarkan detail yang sama. Pertarungan tangan kosong dengan karakter yang unik dan punya latar belakang cerita yang menarik untuk diikuti akhirnya melambungkan nama game yang ternyata, berujung bisa bertahan selama perpindahan generasi konsol hingga saat ini. Bkamui Namco terus mampu menawarkan sesuatu yang baru dan berbeda, termasuk di Tekken 7.

kamu yang sudah membaca preview tim kapalan sebelumnya sepertinya sudah punya sedikit gambaran soal apa yang ditawarkan oleh game fighting yang satu ini. Keputusan untuk menjadikan Unreal Engine 4 sebagai basis membuat game ini memesona secara visual, terutama dari detail yang ada. Kita tidak sekedar berbicara soal model karakter saja, tetapi efek partikel dari setiap pukulan yang mendarat, sesuatu yang sudah menjadi “khas” Tekken selama ini. Bkamui Namco juga berusaha membuat ceritanya lebih bermakna dengan menawarkan pendekatan cerita sinematik ala Mortal Kombat atau Injustice untuk menawarkan garis yang lebih jelas dan plot yang lebih esensial. Sejauh mata memkamung, Tekken 7 sepertinya menawarkan hampir semua hal yang kamu harapkan.

Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh game yang satu ini? Mengapa tim kapalan menyebutnya sebagai sebuah game yang memperlihatkan kekerasan abadi dalam rumah tangga? Review in akan membahasnya lebih dalam untuk kamu.

Plot

Seperti nama yang ia usung, Tekken 7 merupakan sekuel langsung dari Tekken 6 dari sisi cerita. Fokus cerita masih berkisar soal konflik keluarga Mishima yang tak pernah berakhir, sesuatu yang juga menginspirasi tim kapalan untuk menuliskan cerita di atas. Di Tekken 6 sebelumnya, Jin Kazama yang kini memimpin perusahaan keluarga – Mishima Zaibatsu akhirnya berpetualang untuk mencari dan melawan Azazel, sebuah makhluk yang disinyalir sebagai sumber kekuatan iblis yang mengalir dalam keluarga Mishima itu sendiri. Jin berhasil menang, namun nasibnya sendiri tak jelas.

Dengan kosongnya tampuk kepemimpinan selepas kepergian Jin, Heihachi Mishima yang sempat disinyalir tewas di Tekken 5 ternyata “hidup kembali”. Heihachi langsung berangkat menuju Mishima Zaibatsu dan berusaha merebut tampuk kepemimpinan di sana, sembari berjanji untuk menemukan Jin Kazama itu sendiri. Heihachi sendiri berambisi untuk membuka jati diri Kazuya ke publik, yang notabene kini memimpin perusahaan kuat lainnya – G-Corporation. Karena tindak-tanduk Jin yang cukup “jahat” di masa lalu dan mencoreng nama Mishima Zaibatsu sendiri, G-Corporation yang menentang setiap aksinya dilihat dunia sebagai organisasi yang berjalan di jalur kebenaran. Sesuatu yang tak disukai oleh Heihachi.

Perspektif cerita sendiri diambil dari kisah seorang wartawan yang berusaha mencari kebenaran dari apa yang sebenarnya terjadi dengan perang yang tengah berkecamuk di dunia. Perang yang juga merenggut nyawa sang istri dan anak yang ia cintai darinya, membuatnya memupuk rasa dendam yang begitu dalam untuk Mishima Zaibatsu dan Jin Kazama yang memimpinya beberapa waktu lalu. Perjalanan sang wartawan ini akhirnya membuka tabir misteri lebih jelas, dari soal siapa sebenarnya sosok Kazuya, jalur darah The Devil di keluarga Mishima, hingga eksistensi istri Heihachi yang juga tak kalah jahat – Kazumi. Kerennya lagi? Bkamui Namco juga berhasil memasukkan karakter “tamu” dari Street Fighter – Akuma sebagai tak sekedar cameo saja, tetapi juga memiliki peran super penting dalam cerita Tekken 7 itu sendiri.

Lantas, apa yang terjadi dengan keluarga Mishima? Siapa yang akan menang dari pertarungan abadi antara Kazuya dan Heihachi kali ini? Apakah Jin akan berhasil ditemukan setelah pertarungannya dari Azazel? Apa pula peran Akuma dalam konflik keluarga ini? Semua pertanyaan tersebut bisa kamu jawab dengan mencicipi Tekken 7 ini.

Unreal Engine 4

Fleksibilitas Unreal Engine 4 untuk beradaptasi dengan pendekatan visual beragam developer dengan cita rasa uniknya masing-masing memang pantas untuk diacungi jempol. Tidak hanya soal realisme saja, ia benar-benar bisa digunakan untuk meracik visual dalam bentuk yang tak pernah kamu prediksi sebelumnya. Keputusan untuk menggunakan engine generasi baru tersebut untuk Tekken 7 adalah keputusan yang menurut tim kapalan, pantas untuk diacungi jempol. Untuk sebuah stkamur game yang dirilis untuk Playstation 4, Xbox One, dan tentu saja – PC, ia terlihat memukau. Kita tidak sekedar berbicara soal detail visual untuk karakter saja, tetapi halusnya animasi serangan, efek partikel yang jadi identitasnya, hingga desain setiap stage yang ada.

kamu yang sudah familiar dengan Tekken sebagai sebuah franchise sepertinya akan merasakan dan menikmati perbedaan visual yang cukup signifikan tersebut. Detail karakter ini terasa lebih baik, dari sekedar garis otot dan nadi di tubuh hingga material pakaian yang mereka kenakan, terasa realistis. Bkamui Namco juga mengklaim bahwa mereka menciptakan stage dengan efek cuaca yang dinamis, walaupun tim kapalan sejauh, masih melihatnya sebagai stage yang scripted. Salah satu medan pertarungan, misalnya, selalu memuat kondisi hujan ketika memasuki ronde kedua, terlepas apapun hasil yang ia perlihatkan. Kerennya lagi? Efek air yang jatuh ke tubuh karakter dan pakaian mereka tersebut, kini terlihat lebih baik di seri ketujuh ini.

Walaupun tetap mempertahankan beberapa roster yang mungkin tak lagi asing bagi kamu, tidak sedikit yang mengalami perubahan desain yang cukup signifikan. Menghasilkan perpaduan visual yang baru dan lama dalam satu ruang yang sama. Eddy Gordo masih terlihat seperti Eddy Gordo yang kamu kenal dari seri sebelumnya, sementara Yoshimitsu kini datang dengan visual yang bahkan sudah dalam tahap “sulit dimengerti” atau Hwoarang yang kini punya penutup mata dengan sikap yang terlihat lebih garang dan tegas. Dari sisi desain tiap karakter, Tekken 7 berhasil menghadirkan sesuatu yang familiar, tetapi juga baru di saat yang sama. Walaupun beberapa karakter harus diakui tak banyak berbeda, seperti Pkamu, Kuma, atau Bryan yang kini hanya terlihat punya otot lebih baik.

Acungan jempol ekstra sepertinya pantas untuk diarahkan pada desain level yang luar biasa, yang bahkan lebih menarik perhatian tim kapalan dari detail karakter atau efek partikel lebih “mentereng” yang muncul dari serangan karakter yang ada. Hampir semua level pertarungan yang didesain Bkamui Namco di sini memiliki level dramatisnya sendiri. Sebuah arena di tengah lava yang begitu panas, dojo dengan pencahayaan dan patung yang menyeramkan, hingga di jembatan sebuah kota yang luluh lantak karena perang membuat situasi pertarungan menjadi terasa lebih serius dari yang seharusnya. Bkamui Namco juga menerapkan sistem transisi level baik ke samping ataupun ke bawah (jika kamu sudah menghasilkan damage yang cukup ), namun berujung tak sedahsyat yang dibayangkan.

Untuk masalah presentasi, Tekken 7 benar-benar terlihat memukau lewat implementasi Unreal Engine 4 yang pantas untuk diacungi jempol. Detail karakter yang ia tawarkan mungkin bukan sesuatu yang kamu perhatikan dengan baik, namun dari skala desain levelnya saja kamu sudah akan bisa merasakan atmosfer pertarungan yang kini tak hanya lebih memanjakan mata, tetapi juga terlihat lebih dramatis.

Lama tapi Baru!

Dari sisi gameplay, kamu yang sudah familiar dengan franchise Tekken selama ini akan mendapatkan sensasi yang tak banyak berbeda. Bahkan, beberapa kombo yang bisa kamu eksekusi di seri Tekken lawas sekalipun, bisa tetap kamu manfaatkan di sini. Benar sekali, bahkan untuk kombinasi “sampah” dua tombol kaki Eddy Gordo yang mengesalkan dan mematikan, di saat yang sama. Sementara bagi kamu yang tak terlalu familiar, Tekken adalah seri game fighting yang menyematkan satu anggota kaki atau tangan ke dalam satu tombol. Identitas utamanya adalah game yang mengkombinasikan tombol ini dengan tepat, minim tombol arah yang sebagian besar ditahan, dan damage yang selalu signifikan. Intensitas pertarungan muncul dari fakta bahwa begitu kamu membuat pertahanan terbuka dan diserang, damage yang kamu terima selalu signifikan.

Maka apa yang kamu kenal dan ketahui soal seri Tekken tersebut masih bisa diimplementasikan di seri ketujuh ini, walaupun ada beberapa hal baru yang pantas untuk dibicarakan. Dari hal “sepele” misalnya, seperti kehadiran tombol Assist yang disematkan Bkamui Namco di Story Mode – yang menjadi konten terpenting di sini. Seolah mengerti bahwa tidak semua pemain Tekken 7 akan berakhir seorang fans setia genre fighting dan mungkin kesulitan untuk menundukkan tantangan yang ada, bahkan di level mudah sekalipun, mereka menyematkan tombol Assist ini sehingga gamer bisa mengakses serangan kombinasi dengan hanya menekan satu tombol Trigger + satu tombol. Terbukti, dengan tingkat kesulitan yang memang cukup menantang, kehadiran sistem seperti ini memang sangat membantu mereka yang sekedar penasaran dengan cerita yang ada.

Namun tentu saja, dari semua inovasi yang ditawarkan di sini, yang jadi fokus adalah dua konten – Rage Arts dan Rage Drive. Seperti sistem yang sebenarnya sudah disematkan Bkamui Namco di seri Soul Calibur sebelumnya, Tekken 7 kini juga punya serangan “pemungkas”. Hanya diakses dalam kondisi sekarat dengan satu tombol sederhana, Rage Arts akan menghasilkan damage yang signifikan dan tentu saja, animasi serangan yang memanjakan mata. Mengakses serangan ini melawan AI memang mudah, tetapi saat melawan manusia / AI di tingkat kesulitan lebih tinggi, tentu membutuhkan timing yang tepat. Mengingat kamu hanya bisa mengaksesnya saat sekarat, begitu kamu gagal melakukannya, ditambah dengan damage serangan Tekken yang “sakit”, kamu harus siap mengucapkan selamat tinggal. Sementara Rage Drive, merupakan serangan khusus yang juga bisa diakses dalam kondisi sekarat pula. Namun tak seperti Rage Arts, tidak ada momen sinematik di sini, dan ia bisa diakses mengalir dalam kombinasi serangan yang mungkin ingin kamu lakukan. Rage Arts dan Rage Drive hanya bisa diakses dalam kondisi sekarat yang disebut “Rage Mode”. Jika gagal? Maka kamu tidak bisa melakukannya lagi, sampai ronde pertarungan selanjutnya.

Namun salah satu tambahan gerakan paling signifikan menurut tim kapalan di Tekken 7 justru bukan berasal dar serangan super kuat dengan nama “Rage” ini, melainkan serangan baru yang disebut sebagai Power Crushers. kamu bisa menyederhanakannya sebagai sebuah serangan yang tidak bisa diinterupsi dengan serangan mid ataupun high, tetapi bisa dibatalkan dengan serangan low atau banting. Dengan warna putih yang bersinar di sekitar tubuh karakter, Power Crushers selalu efektif untuk hadir sebagai serangan tak terprediksi untuk membuka pertahanan atau sekedar membuka kombinasi serangan yang kamu inginkan. Namun perlu diingat, ia juga hadir dengan konsekuensi tertentu. Tiap serangan musuh yang masuk selama animasi Power Crushers kamu terjadi, akan kamu terima dengan angka damage yang lebih besar.

Dua sistem inilah yang menurut tim kapalan signifikan, untuk “mendefinisikan” Tekken 7 itu sendiri. Tentu saja, Bkamui Namco menawarkan banyak hal baru lainnya untuk membuat pertarungan terasa lebih dramatis. Salah satunya adalah efek zoom-in yang terjadi ketika kamu bertukar pukulan / damage dengan musuh yang kamu hadapi. Zoom in dengan slow motion ini akan memperlihatkan serangan mana yang lebih dulu masuk atau bahkan, berujung mejawab pertanyaan mengapa tiba-tiba, dua karakter yang saling bertarung ini tiba-tiba terjatuh. Berita baiknya? Walaupun di atas kertas terdengar buruk, namun implementasinya sendiri cukup pantas diacungi jempol. Setidaknya, proses zoom-in dengan slow motion ini terasa mengganggu flow jalannya pertandingan, mengingat ia hanya berfokus pada momen sepersekian detik saja.

Satu yang menarik dari sensasi Tekken 7 ini adalah fakta bahwa ia bisa dinikmati oleh gamer pemula yang tak pernah punya komitmen untuk belajar hingga menguasai hampir serangan kombinasi (seperti tim kapalan), tetapi juga punya ruang bagi gamer-gamer hardcore untuk membangun sistem kombinasi serangan efektif mereka masing-masing. Terlepas dari jenis gamer manapun kamu, Tekken 7 tetap akan bisa dinikmati dengan optimal.

Limpahan Konten Kosmetik

Terkadang, model karakter stkamur saja tidak cukup. Kadang, terutama saat bermain online, kamu akan berharap bahwa karakter favorit yang kamu gunakan memang mewakili keunikan yang ingin kamu sertakan bersamanya. Menariknya, seperti daya tarik yang mereka tawarkan di seri-seri sebelumnya, Tekken 7 berhasil membuat sistem ini menghasilkan sebuah kesan yang menyenangkan dan “tak terlalu serius” darinya. Mengapa? Karena kamu bisa memodifikasi hampir setiap set pakaian yang ada dengan kombinasi seburuk, segila, dan secantik apapun yang kamu inginkan.

Hampir sebagian besar item yang tersedia memang diimplementasikan untuk hampir semua karakter, seperti topi, kacamata, atau item untuk punggung misalnya. Tanpa ada batasan dan justru kamu didorong untuk proses kreasi karakter yang tak masuk akal dan gila, tidak pernah ada batasan soal apa yang bisa atau tidak bisa kamu kenakan. Beberapa karakter juga diperkuat dengan item kosmetik khusus seperti pakaian dan celana untuk sisi kosmetik yang lebih serius atau sekedar memperkuat sensasi nostalgia, mengingat tak jarang kostum-kostum tersebut juga berasal dari kostum lawas mereka. Percaya atau tidak, sistem sepert ini ternyata cukup jadi motivasi ekstra untuk terus memainkan Tekken, apalagi jika kamu sudah menyelesaikan mode story yang ada.

Untungnya, Bkamui Namco menghadirkan sebuah mode khusus untuk memfasilitasi hal tersebut. kamu yang tak senang bermain secara online bisa mencicipi sebuah mode bernama Treasure Battle yang ditawarkan secara offline. Inti mode ini sendiri sangat sederhana – bahwa kamu harus bertarung dari satu pertarungan ke pertarungan lain dengan satu tujuan, mengumpulkan uang dan mengumpulkan peti harta karun yang ada. Seperti yang bisa diprediksi, kamu tidak akan bisa mengakses semua peti yang berisikan item-item kosmetik tersebut. Oleh karena itu, kamu harus memenangkan pertarungan dan membuka semua peti-peti berbasis RNG tersebut untuk “mempercantik” karakter kamu lebih jauh. Tiap pertarungan di Treasure Battle juga akan memungkinkan kamu untuk mengumpulkan mata uang in-game untuk membeli kesemuanya.

Tak jarang, kombinasi item kosmetik yang kamu hasilkan memang berakhir mengundang gelak tawa, apalagi jika kamu berhadapan dengan hasil desain AI di Treasure Battle atau online. Atau mungkin, kreatviitas gila kamu mungkin melahirkan satu desain absurd yang satu ini. tim kapalan sempat meracik karakter asal Timur Tengah – Shaheen dengan pakaian “stkamur” seperti baru pulang Tarawih sembari berusaha menyelamatkan dunia. tim kapalan juga sempat bertemu dengan karakter sekelas Akuma yang mengenakan hanya celana dalam dengan ikan tuna di bagian punggung, atau karakter Jin yang kostumnya sayangnya, tak terhitung sebagai canon. Atau ketika tim kapalan bertarung melawan Heihachi dengan baju malaikat yang alih-alih mati terkapar ketika kalah, akan melayang ke surga begitu dikalahkan. Setidaknya sistem ini membuat Tekken 7 berujung tak terlalu “serius”.

Dengan mata uang sama yang bisa kamu kumpulkan pula, kamu juga bisa menggunakannya untuk membeli serangkaian item Collectibles dari semua seri Tekken yang ada, dari Tekken pertama hingga Tekken ketujuh via fitur bernama Gallery. Seolah menjadi “perayaan” eksistensi franchise ini, setiap pembelian ini akan membuka kamu pada setiap FMV dan Artwork resmi yang pernah dirilis untuknya. Harganya sendiri cukup mahal untuk setiap seri yang ada, namun pantas untuk dikejar untuk sekedar nostalgia atau untuk memahami cerita Tekken yang lebih baik.

Akuma

Tidak adil rasanya untuk tidak menyediakan satu sesi khusus untuk membicarakan sosok Akuma di Tekken 7 ini. Kita semua tahu, bahwa ia merupakan tokoh sentral dalam game fighting buatan Capcom – Street Fighter, yang berkaitan langsung dengan sosok Ryu dan Ken itu sendiri. Ketika ia diperkenalkan kepada publik bahwa sosoknya akan masuk ke Tekken 7, ada sedikit rasa pesimis bahwa Bkamui Namco akan mempresentasikannya dengan baik. Ragu bahwa karakter dengan serangan proyektil seperti ini akan berakhir balance, ragu bahwa ia akan bisa tampil lebih dari sekedar cameo, ragu bahwa ia akan bisa beradaptasi dengan sistem Tekken yang punya cita rasa yag berbeda itu sendiri. Namun, bertolak belakang, hasilnya justru fantastis.

Berkaitan langsung dengan sosok Kazumi tetapi masih menyisakan banyak misteri untuk membuat latar belakang ceritanya terbuka pada interpretasi, Akuma berujung memainkan peran penting dalam cerita – seorang petarung yang tak hanya ingin mencari petarung di level yang setara saja tetapi juga menjadi “pisau” bagi sosok Kazumi untuk menundukkan sang suami dan anak. Lebih kerennya lagi? Tak sekedar cerita, proses adaptasi Akuma ini juga tampil optimal dari sisi gameplay. Seberapa baik? Hingga pada batas kamu bisa memainkannya dengan gaya kamu memainkan Akuma di Street Fighter. Semua serangan, dari Hadouken hingga Messatsu bisa diakses di sini, lewat kombinasi tombol arah, serangan, dan putaran d-pad yang ikonik. tim kapalan sendiri cukup kaget bahwa ia bisa dimainkan seperti ia di Street Fighter.

Di atas kertas, kamu mungkin akan bertanya-tanya, bagaimana mungkin karakter Street Fighter bisa tampil seimbang di Tekken yang mengkamulkan pertarungan jarak dekat dan kombinasi serangan? Percaya atau tidak, ia ternyata bisa meraih hal tersebut. Tekken selalu punya sistem side-step untuk mengubah posisi karakter dari satu garis linear ke garis tiga dimensi yang lain, hingga mereka bisa menghindari serangan proyektil tanpa damage jika dieksekusi dengan timing yang tepat. Akuma juga didesain dengan damage yang terhitung cukup kecil dibandingkan karakter Tekken, hingga kombinasi serangan seperti pukulan kecil dan kemudian Shoryuken misalnya, sebanding dengan kombinasi sederhana dari karakter Tekken. Kehadiran sistem baru seperti Power Crushers juga membuat Akuma tak bisa semena-mena meluncurkan kombinasi ala Street Fighter, karena selalu ada ruang untuk counter di sana.

Namun sepertinya sulit untuk tidak memuji apa yang berhasil dilakukan Bkamui Namco dengan Akuma di Tekken 7, terutama dari sisi cerita dan gaya main Street Fighter yang masih bisa dilakukan dengannya. Walaupun harapan untuk melihat Tekken X Street Fighter masih sangat kecil saat ini terlepas dari pengumuman yang sudah berlangsung lama, namun kehadiran Akuma bisa memberikan sedikit gambaran soal kira-kira seperti apa hasil akhir eksekusinya.

Sayangnya, Konten VR yang “Gimmicky”

Untuk versi Playstation 4, Bkamui Namco juga menyertakan sebuah konten eksklusif untuknya. Benar sekali, kamu kini berkesempatan untuk menikmati sedikit konten yang ditawarkan oleh Tekken 7 dalam format Virtual Reality, tentu saja via Playstation VR. Tekken 7 sendiri menawarkan dua mode terpisah untuk dimaksimalkan, yakni: VR Battle dan VR Viewer.

VR Battle sayangnya, bukanlah pertandingan normal ala Arcade, Story Mode, atau Treasure Battle yang bisa dilakukan dalam format VR. Yang kamu hadapi ternyata hanyalah sebuah mode Practice, namun tetap dalam bentuk VR. Berbeda dengan gaming konvesional fighting pada umumnya, mode VR memungkinkan kamu untuk menikmati pertarungan seolah kamu melihatnya di depan kamu. Karakter akan bergerak terus maju, dan kamu akan bisa menikmatinya dari beragam sudut termasuk jarak kamera yang lebih dekat. kamu juga bisa memperlambat tempo permainan untuk melihat efek dan animasi serangan dengan lebih detail.

Sementara VR Viewer, sepertinya namanya, merupakan viewer untuk model karakter dalam format VR. kamu sudah mengganti kosmetik karakter favorit kamu dan ingin melihatnya lebih dekat? Jauh lebih dekat dari sekedar 2D? kamu bisa mengkamulkan Playstation VR untuk itu. Walaupun Bkamui Namco membatasi jarak model karakter ini supaya tidak terlalu dekat, kamu selalu bisa “menipu” sistem ini dengan membuat posisi berdiri kamu lebih jauh sehingga punya ruang lebih besar untuk mendekatkan diri. Selain untuk konten “nakal” – menikmati pakaian sensual karakter wanita yang terbuka dan dipresentasikan dengan penuh detail, tim kapalan sendiri tak melihat banyak fungsi dari VR Viewer ini. Karena pada akhirnya, ia bukan sesuatu yang baru.

Gimmicky, karena kedua fitur ini bukan sesuatu yang begitu esensial dan penting untuk dimiliki, walaupun jadi tambahan konten yang “menggoda” untuk gamer yang memang sudah menginvetasikan diri dengan Playstation VR. Berita buruknya? Untuk alasan yang tak jelas, Bkamui Namco sama sekali tidak menyertakan kemampuan untuk mengubah atau menambahkan stage-stage pertarungan di kedua mode ini, yang tentu saja akan membuatnya lebih menarik. Apalagi desain stage yang mereka tawarkan pantas diacungi jempol. Yang kamu temukan? Sebuah tempat aneh berbintang untuk VR Battle dan sebuah latar belakang berwarna-warni untuk VR Viewer. WHY BkamuI NAMCO? WHY??!

Kesimpulan

Tekken 7 adalah sebuah seri game fighting yang berhasil melakukan dua hal dalam satu waktu yang sama – menangkap daya tarik masa lampau dan membubuhkan sesuatu yang baru dan menyegarkan di atasnya. Sebagai salah satu gamer yang sudah mencicipi daya tariknya sejak era Playstation 1, kamu bisa menguasai game ini dengan mudah, tetapi juga ia tetap menyediakan ruang untuk mendalami dan membuatnya menjadi sebuah game kompetitif nan serius untuk kamu pribadi. Keputusan untuk memperkuat sisi cerita dengan menyertakan Akuma dan mendesainnya dalam format sinematik adalah keputusan yang sangat baik. Apalagi semuanya dilakukan dengan basis Unreal Engine 4 yang memesona dan memanjakan mata. Ia akan memenuhi apa yang kamu harapkan dari sebuah seri Tekken yang baru, bahkan untuk urusan kegilaan kosmetik sekalipun.

Walaupun demikian, bukan berarti Tekken 7 bisa dibilang sebagai game “fighting” yang sempurna. tim kapalan sendiri punya beberapa keluhan, terutama dari sisi presentasi yang ada. Pertama, keputusan untuk membuat setiap karakter berbicara dalam “bahasa ibu” mereka masing-masing di dalam Story Mode, namun saling mengerti satu sama lain, adalah keputusan absurd di mata tim kapalan. Menyederhanakannya menjadi semuanya berbahasa sama, menurut tim kapalan lebih rasional. Kebijakan untuk membuat mode story di luar keluarga Mishima untuk tiap karakter yang ada kini disimpulkan hanya dari satu pertarungan saja, alih-alih memanjang dalam Arcade Mode seperti seri lawas juga pantas dipertanyakan. Hal lainnya? Paling berkisar sekedar musik yang tak memorable atau pertarungan dengan tingkat kesulitan yang sangat sulit untuk ditoleransi. tim kapalan juga menyayangkan tak kembalinya beberapa karakter lawas ikonik di sini.

Walaupun demikian, terlepas dari kekurangan tersebut, Tekken 7 tetap berujung sebagai seri Tekken yang terlalu sayang untuk dilewatkan. kamu yang datang untuk menikmati atmosfer kompetitifnya, atau sekedar melanjutkan cerita, atau sekedar ingin mencari game fighting “sederhana” dimana kamu hanya ingin bersenang-senang dan menikmati keseruan yang ada, atau bahkan sekedar menikmati visual yang ada akan merasa bahwa investasi yang kamu layangkan di game fighting racikan Bkamui Namco ini, terbayarkan manis.

Kelebihan

  • Visualisasi memanjakan mata
  • Cerita dengan gaya sinematik
  • Fitur kosmetik yang gila dan absurd
  • Treasure Battle untuk tantangan offline yang berkelanjutan
  • Akuma yang diadaptasikan dengan baik dan benar
  • Desain Stage
  • Animasi serangan Rage Arts yang keren
  • Konten Story Character yang tetap, penuh humor
  • Sistem baru menghasilkan pendekatan serangan baru
  • Sensasi yang tetap familiar

Kekurangan

  • Konten VR tak lebih dari sekedar gimmick
  • Karakter berbicara dalam “bahasa ibu”, membuat Story Mode terasa absurd
  • Saga karakter di luar Mishima berakhir dalam konklusi dengan hanya satu pertandingan
  • Beberapa karakter ikonik lawas tidak kembali
  • Tingkat kesulitan “SPECIAL MATCH” melawan Akuma yang tak berbeda dengan Dark Souls (dimulai dari “Normal”)