Yakuza Kiwami 2 | Review Action Adventure PS 4

yakuza kiwami 2

Mulai mengerti dan memahami bahwa suara keras dan permintaan para gamer selama ini bukanlah omong kosong belaka. Bahwa di tengah popularitas Playstation 4 yang berhasil menjaring banyak gamer baru yang mungkin belum pernah mencicipi Playstation 2 dan Playstation 3 termuat pasar potensial yang bisa jatuh hati pada franchise kamulan mereka, mengikuti setiap seri yang ada tanpa banyak bertanya, dan pada akhirnya – data penjualan yang lebih baik dan menggoda.

Situasi inilah yang dihadapi SEGA dengan franchise Yakuza milik mereka. Kini dengan angka yang memperlihatkan tren yang positif, mereka tidak bisa berhenti. Seri Kiwami pun lahir sebagai proyek Remake untuk memastikan gamer-gamer yang baru menikmati Yakuza memahami basis cerita yang ada, terutama untuk mereka yang tergoda untuk menikmatinya secara runtut.

Mengikuti kesuksesan Yakuza 0 yang memang menjadi pondasi kisah perjalanan saga seorang Kazuma Kiryu, SEGA mengikutinya dengan seri Kiwami dan Kiwami 2. Kata Kiwami sendiri diarahkan sebagai penjelas bahwa game yang tengah kamu nikmati ini merupakan “Remake” dari seri original yang sempat meluncur untuk Playstation 2 di masa lalu. kamu yang sudah membaca artikel preview tim kapalan sebelumnya sepertinya sudah punya gambaran yang lebih jelas apa yang ditawarkan oleh sang seri terbaru – Yakuza Kiwami 2 ini. Yang membuatnya memesona dibandingkan dengan seri Kiwami pertama misalnya, adalah fakta bahwa seri kedua ini diracik ulang dengan menggunakan Dragon Engine, engine sama yang digunakan untuk Yakuza 6: Song of Life.

Plot

Maka seperti kebijakan yang mereka tempuh dengan seri Kiwami pertama, tidak ada perubahan signifikan dari sisi cerita dari Yakuza 2 original dengan seri Remake – Kiwami 2 kali ini. Selain perubahan visual yang kamu dapatkan berbasis Dragon Engine dan porsi misi sampingan dan cerita dari kacamata Goro Majima yang kini kembali muncul sebagai “bintang kedua”, basis ceritanya masih sama.

Yakuza Kiwami 2 mengambil timeline cerita satu tahun setelah Yakuza Kiwami. Kiryu yang ingin keluar dari klan-nya untuk sebuah alasan yang bergerak layaknya takdir, kembali terserap dalam konflik penuh misteri yang tidak pernah ia perkirakan sebelumnya. Fifth Chairman untuk Tojo Clan – Yukio Terada tiba-tiba diserang dan berujung tewas. Omi Alliance diperkirakan menjadi biang kerok untuk aksi yang satu ini. Dengan dua kekuatan besar yang berada di ujung konflik, menjadi tanggung jawab Kiryu lah untuk memastikan perang besar-besaran yang diprediksi penuh darah antara dua organisasi terbesar tersebut tidak terjadi. Di satu sisi yang lain, tewasnya Fifth Chairman berarti membuat Tojo Clan harus mencari pengganti yang baru.

Pelan tapi pasti, kuatnya drama cerita Yakuza yang membuat franchise ini dicintai perlahan tapi pasti, naik ke permukaan. Kiryu harus bertemu dengan saingan terberatnya yang juga mendapatkan julukan “Sang Naga” – Ryuji Goda. Jika Kiryu adalah naga dari klan Tojo, maka Goda lebih dikenal seabgai sang naga Kansai untuk Omi Alliance. Semuanya juga semakin kompleks ketika diketahui bahwa organisasi kriminal Korea Selatan yang juga bekerja di Kamurocho juga memainkan peran di dalam konflik ini. Polisi pun harus turun tangan dengan sosok Kaoru Sayama yang punya tanggung jawab untuk memastikan Kiryu selamat dari segala usaha untuk mengakhiri hidupnya. Tewasnya Kiryu akan membuat perang antar dua klan ini terpicu.

Lantas, seperti apa konflik yang harus dihadapi oleh Kiryu saat ini? Siapa yang sebenarnya membunuh Yukio Terada? Apakah Goda terlibat di dalam konspirasi ini? Semua jawaban dari pertanyaan tersebut akan bisa kamu dapatkan dengan memainkan Yakuza Kiwami 2 ini.

Kini dengan Dragon Engine!

Salah satu hal yang membuat Yakuza Kiwami 2 dibandingkan Yakuza Kiwami pertama, selain cerita, ada pada implementasi engine teranyar sang developer – Dragon Engine dari seri Yakuza 6. Jika Yakuza Kimami pertama masih menggunakan engine “lawas” dari Yakuza 0, Yakuza Kiwami 2 sudah menggunakan engine terbaru yang tidak hanya menawarkan kualitas visual yang lebih baik saja, tetapi juga mengimplementasikan gaya gameplay dari Yakuza 6. Kita bicara soal animasi bertarung, pergerakan, dan konsep apa yang bisa kamu lakukan dan tidak kamu lakukan.

Implementasi engine ini di atas kertas memang terlihat sebagai ide yang bagus. tim kapalan setuju dari sisi gameplay, namun tidak untuk dari sisi visual. Walaupun tidak bisa disangkal bahwa keseluruhan pengalaman visual kamu akan berujung lebih baik, implementasi Dragon Engine ini justru membuat disparitas visual antara karakter yang “fiktif” dan karakter yang dibangun dari model aktor / aktris Jepang ternama (terutama yang muncul sebagai tambahan konten khusus untuk Kiwami 2 ini) menjadi cukup kentara.

kamu bisa melihat detail wajah yang berbeda antara Kaoru Ayama yang fiktif dan memang terlihat lebih manis di sini, dibandingkan dengan sosok pegulat Masahiro Chono yang sering muncul di Gaki No Tsukai sebagai salah satu tokoh antagonis misi sampingan di sini. Mengingat Chono adalah karakter baru untuk Kiwami 2, ia hadir dengan detail lebih baik dengan ekspresi wajah dan voice acting lebih optimal. Sementara di Yakuza 6, dimana ia dibangun sejak awal dengan Dragon Engine yang melibatkan banyak aktor / aktris dunia nyata, Dragon Engine memang terlihat jauh lebih memesona.

Maka seperti yang tim kapalan sebut sebelumnya, implementasi engine ini juga mempengaruhi sisi gameplay dan mekanik yang ada. Salah satunya adalah Kamurocho yang kini lebih “terbuka” untuk kamu eksplorasi seperti layaknya di Yakuza 6. Daerah-daerah yang di versi original hanya merupakan bangunan yang tampak menarik di luar dan berakhir tidak bisa dimasuki, kini bisa dijelajahi. kamu juga kini bisa membawa musuh dan bertarung di dalam restoran jika kamu inginkan, sembari membuat kehancuran yang memanjakan mata di dalamnya. kamu yang sempat mencicipi seri Yakuza 6 juga sepertinya tidak akan asing dengan sistem level-up dan user-interface yang juga dipertahankan dari sana.

Maka dengan implementasi Dragon Engine yang membuat kualitas visualisasi lebih baik, maka Yakuza Kiwami 2 kini menjadi seri definitif bagi gamer yang belum pernah menyelam ke dalam cerita solid Yakuza 2 yang emosional dan dramatis di saat yang sama. Sayangnya, terlepas dari apakah kamu banyak mengenal aktor / aktris Jepang atau tidak, perbedaan antara basis karakter fiktif dan berdasarkan aktor nyata memang akan terlihat cukup jelas.

Satu Paket yang Lengkap

Dengan sensasi familiar yang begitu dekat dengan apa yang ditawarkan SEGA di Yakuza 6: Song of Life, kamu juga akan menemukan kesan bahwa Yakuza Kiwami 2 sepertinya dibangun dengan satu strategi yang jelas: Berikan apapun yang disukai gamer dari seri-seri sebelumnya dan kemudian menggabungkannya ke dalam satu ruang yang sama. Berdasarkan dari kesan konten seperti itulah, tim kapalan menyebut Yakuza Kiwami 2 sebagai sebuah satu paket seri Yakuza paling lengkap sejauh ini.

Beberapa mekanik dari Yakuza 6 kembali di sini, dari sistem experience points yang tetap dibagi ke dalam beberapa kategori dengan ragam aksi dan skill yang membutuhkan angka tertentu untuk bisa dikuasai dan dipelajari hingga sistem makanan yang kini tidak lagi sekedar untuk mengenyangkan dan memulihkan HP, tetapi juga menjadi sumber experience points paling signifikan untuk dimanfaatkan. Sisanya? Adalah memastikan bahwa mini game-mini game yang dicintai oleh gamer dari seri Yakuza 0 dan Yakuza 6 juga tetap disertakan di sini.

Seolah tidak cukup untuk membuat kamu menghabiskan begitu banyak waktu dengannya, Yakuza Kiwami 2 menawarkan dua mini-game yang sempat tersebar di dua seri terpisah ke dalam konten misi sampingan yang bisa kamu selesaikan. Pertama? Menjadi seorang Manager Club Hostess yang tidak hanya harus mengatur dan memastikan kebutuhan tamu terpenuhi selama proses buka, tetapi juga merekrut talenta baru dan menundukkkan club yang lain. Ini adalah sistem yang sama dengan Yakuza 0. Sementara misi kedua meminta kamu untuk memimpin pertarungan Geng bersama dengan Goro Majima. Sedikit yang berbeda dari versi Yakuza 6 adalah kini kamu tidak berada dalam posisi ofensif, tetapi justru harus bertahan dari gelombang serangan musuh sembari berusaha melindungi properti yang penting. Dengan sudut kamera isometrik, pengalaman yang ditawarkan serupa.

Hal ini juga terlihat dari beberapa mini-game yang ia tawarkan, baik dari sisi arcade ataupun untuk versi sensual yang ada. kamu tetap bisa memainkan seri lawas Virtua Fighter di mesin arcade Kamurocho jika kamu ingin sedikit bernostalgia, bersama dengan beberapa mini-game lain yang sepertinya tidak akan asing lagi untuk gamer Yakuza.

Satu mini-game baru yang cukup kocak hanyalah toilet dengan video game yang mengukur seberapa derasnya air seni kamu. Dibagi ke dalam beberapa visualisasi, baik bertarung dengan player lain ataupun mini-game yang “mengubah” air seni kamu menjadi angin kencang yang berusaha menerbangkan pakaian seorang karakter wanita, setidaknya mini-game ini cukup untuk memancing tawa. Implementasi konten sensual dengan menggunakan konsep live-action ala Yakuza 6 dengan dua aktris film dewasa / gravure idol Jepang juga disuntikkan, namun kini dengan tema fotografi. Gameplay sederhana yang meminta kamu untuk merangkaii kata-kata gombal terbaik yang bisa kamu lemparkan akan membuat aktris live-action ini terus memeragakan pose seksi, dengan lebih banyak kostum sensual untuk dikejar sebagai progress.

Maka dengan semua sistem ini, maka sulit rasanya untuk menyangkal bahwa Yakuza Kiwami 2 tidak sekedar didesain untuk mereka ulang cerita fantastis Yakuza 2 original dalam bentuk lebih baik saja. Tetapi memastikan bahwa ia memuat hampir semua hal yang sempat dicintai oleh para fans di setidaknya, dua seri terakhir.

Namun sayangnya, bagi tim kapalan, di sisi lain ia berujung jadi bumerang. Dengan waktu rilis yang hanya berbeda beberapa bulan dengan Yakuza 6 dan setidaknya hanya satu tahun dari Yakuza 0, yang dilakuan SEGA ini justru membuat Yakuza Kiwami 2 terasa seperti sebuah klon yang tidak menawarkan cukup banyak inovasi untuk dilirik. Keputusan untuk membawa kembali mekanik mini-game yang sudah ada alih-alih bereksperimen dan meracik sesuatu yang baru dan berbeda tentu saja menjadi langkah strategi yang cukup mengecewakan.

Membayangkan berapa banyak waktu dan tenaga yang harus kamu habiskan untuk kedua mini-game yang ada misalnya, dengan waktu rilis yang berdekatan, justru berpotensi melelahkan. Kondisi berbeda mungkin kamu temukan jika kamu langsung melompat dari Yakuza Kiwami ke Yakuza Kiwami 2 misalnya, dan tidak pernah menjajal Yakuza 0 atau Yakuza 6 sebelumnya.